Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mereka yang Berjaya di School Contest XV: Keluyuran ke Pasar Tradisional demi News Value

Anwar Bahar Basalamah • Sabtu, 23 September 2023 | 23:38 WIB

Photo
Photo
Perpaduan kreativitas dan kecerdasan menentukan substansi mading jadi kunci para pemenang Mading War SMA. Para pelajar ini cermat menimbang news value setiap konten. Hingga menarik perhatian juri.

Ucapan syukur  terlontar dari anggota tim mading MA Matlabus Salik saat mereka dinobatkan sebagai best overall Minggu (17/9) lalu. Para siswa itu merayakannya dengan secukupnya, tak berlebihan.

Tak berlebihan memang tertanam pada para pelajar MA yang dijuluki Al Matlab tersebut. Termasuk bahwa mereka diajari berproses dengan sungguh-sungguh. Soal hasil urusan belakang. Ketika mading bertema ‘Perjalanan si Japar (jajanan pasar)’ menang, itu merupakan buah dari proses sungguh-sungguh mereka.

“Kami mencoba menulis dan mengulas kembali jajanan pasar yang kian hari bisa tenggelam karena tergempur jajanan modern,” terang Purnomo Sidik, pendamping tim media MA Al-Matlab.

Ide itupun diterjemahkan dalam beragam rubrik. Pemilihan rubrik yang bervariasi untuk memaksimalkan news value, nilai berita. Seperti rubrik sosok, yang  jarang didapati di mading peserta lain.

Ada dua sosok yang hadir di mading mereka. Mbah Pule, yang dikenal sebagai penjaga pemandian Tirta Kamandanu dan Mbah Satinem, penjual lopis legendaris di Jogjakarta. 

Perjuangan mereka menghasilkan karya tidak setengah-setengah. Anggota tim- Nana Mursyida Arifiana, Dewi Syari’ah Al Fathimiyah, serta Shinta Maulina Tanjung-turun ke pasar tradisional. Mewawancarai penjual jajanan pasar. Merangkum sepak terjang mereka bertahan dengan kue tradisional saat snack modern dianggap lebih keren oleh generasi Z.

Beda lagi dengan mading MAN 1 Kota Kediri. Peraih best content dalam Mading War SMA ini menonjolkan aspek unik. 

“Kami menggunakan ide jam pasir karena melambangkan perkembangan zaman. Untuk pelengkapnya juga kita tambahkan miniatur dinosaurus dan perkotaan di atasnya. Jadi berkesinambungan,” urai Muhammad Naufal Aufa Zaki, salah satu anggota tim mading madrasah yang berlokasi di Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri ini.

Begitu pula dengan SMAK St Augustinus Kota Kediri. Saking kreatifnya, mereka mengusulkan tiga desain sekaligus. Ketiganya sama-sama memiliki argumentasinya sendiri. Sama-sama unggul namun harus tetap pilih salah satu untuk direalisasikan.

“Kami tahu bahwa proses pembuatan mading itu berat sekali. Harus merelakan waktunya. Makanya kita serahkan kepada anak-anak. Tapi ternyata, sejak awal semangat mereka menggebu-gebu untuk ikut perang mading ini,” aku Yulio Wirawan, salah seorang guru pendamping mading di sana.

Uniknya, sekolah ini awalnya pesimistis. Karena mading yang mereka bawa ke lokasi, atrium Kediri Town Square (Ketos), belum mencapai 20 persen.

Sementara itu, mading SMAN 7 Kediri tampil bagus dengan menyabet best mascot. Membayar keribetan proses penentuan maskot yang harus diganti tiga hari sebelum final.

“Maskot yang semula ternyata lolos di School English Star. Akhirnya harus cari baru. Jadi persiapannya hanya tiga hari,” terang Dewi Wahyu Ambarwati, pendamping tim mading SMAN 7 Kediri.

Beruntung, Bindarti Sinta Dewi, sang maskot cepat beradaptasi. Dengan berani dan penuh keyakinan seperti Dewi Kilisuci yang digambarkan sebagai tokoh pemberani di kisah sejarah Kota Kediri.

Ada lagi peraih kategori juara di lomba ini. Yaitu SMK PGRI 2 Kota Kediri. Kerapihan mading dipadu dengan presentasi yang bagus membuat mereka didapuk jadi best performance.

Saat presentasi karya, tim ini menampilkan drama. “Dialognya disesuaikan agar semua penonton mengerti,” terang Sherly Nafisa Putri, yang bermain drama  bersama  Moh. Aden Teo Arma.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#school contest #news #mading #pasar tradisional