Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mereka yang Berjaya di School Contest XV: Survei dan Riset Berkali-kali untuk Dapatkan Ide

Anwar Bahar Basalamah • Jumat, 22 September 2023 | 17:04 WIB

 

BANGGA: Sejumlah pemenang Mading Wars kategori SMP menunjukkan plakat juara dalam awarding School Contest XV GenZverse: Time Traveler (17/9).
BANGGA: Sejumlah pemenang Mading Wars kategori SMP menunjukkan plakat juara dalam awarding School Contest XV GenZverse: Time Traveler (17/9).

Jerit, tangis haru, dan histeria menyeruak ketika MC mengumumkan pemenang Mading War. Kegirangan yang keluar adalah ekspresi kepuasan yang tak bisa diwakili kata-kata.

 

Nuzulin Ladayka Nur beberapa berkonflik dengan timnya, tim Mading War dari MTsN 7. Bukan apa-apa, mereka harus berdebat tentang bahan mading yang akan mereka ikutkan di ajang School Contest XV GenZverse : Time Traveler. Apakah menggunakan bubur kertas ataukah plastik?

“Kalau idenya sudah ketemu. Mengangkat kearifan lokal. Kebetulan di dekat sekolah kami ada Gua Jegles, yang menarik menjadi tema,” terang gadis yang karib disapa Zulin ini.

Nah, ketika tim mendatangi Gua Jegles, untuk survei, serta riset-riset kecil, barulah dicapai kesepakatan. Bahan utama mading dari limbah plastik. “Sekaligus untuk menunjukkan upaya mengurangi sampah plastik,” tegas sang ketua tim.

Pemilihan plastik juga karena sebab lain. Banyak peserta lain yang menggunakan media berbahan kertas. “Karena itu kami mencoba berbeda,” imbuh pembina tim yang juga pembina ekstrakurikuler Jurnalistik di MTsN 7 M. Maghfur Qumaidi.

Berhasil merumuskan tema dan memilih bahan yang akan digunakan, bukan berarti tugas mereka selesai. Justru bagian terberatnya muncul. Yaitu mewujudkan ide itu menjadi karya nyata. Try and error mereka lakukan berkali-kali. Hingga menemukan formula bentuk gua yang benar-benar mirip aslinya. Dan, itu harus mereka lakukan di sela-sela kesibukan belajar.

“Kecuali mau final kami tidak mendapat dispensasi. Kerjakan setelah dhuhur dan pulangnya hampir maghrib,” terang Zulin, gadis yang beralamat di Dusun Bangkok, Desa Klampisan, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri ini.

Dan, detik-detik pengumuman juara di atrium Kediri Town Square (Ketos) 17 September malam, membuat tegang mereka. Sampai akhirnya semua anggota tim-Irfan Almuradif, Muhammad Ihsan Al-Khamid,  Aal Tangguh Putra Pambudi, Alan Mirza Al-Fajar, Hammad Rijal Ardliansyah, Anara Ayu Kusumaning Ratri, Muhammad Andika Iqbal Mustofa, Nayla Azza Ramadhania sebagai maskotnya-menjerit histeris. Jingkrak-jingkrak kegirangan pun mereka lakukan. Setelah mereka tampil sebagai best overall Mading War SMP.

"Kami nangis semua karena gak nyangka," kenang Zulin.

Perasaan serupa juga muncul pada anggota Mading War dari SMPN 3 Kota Kediri. Tim beranggotakan Shakila Aura Kania, Debby Pramudia Elnov, Clara Faustina Anya Remeita, Alif putra mahendra, Ezra Maurilla, Alsyabililla Hartono, Zurafa dizapuri liadi, dan Samuel Panji Trunna Mahaja Surya Sata ini menyabet best performance. Gelar itu ibarat siraman air segar setelah ikut berkali-kali tapi tak pernah menggapai juara.

“Kami sebenarnya sudah  menyiapkan mental. Apapun hasilnya harus bangga dengan karya dan kerja keras sendiri,” kata Angga Purwita, pembimbing tim.

Kemenangan itu menjadi motivasi mereka. Semangat pun kian meninggi. “Kalau ada kesempatan lagi, kami siap mengikuti Mading War,” tegas guru seni budaya ini.

Lain lagi dengan SMPK Petra Kediri. Beberapa kali menyabet gelar menjadi motivasi tahun ini. Berusaha sekuat tenaga mendapatkan gelar di event kali ini.

Toh, tim yang berisi Thesalonica Gea Swanda, Albert Vincent, Laeticia Noreen Halim, Sharon Bethania, Aubrey Sarah Annabella, Felicya Orlie Lakeisha, Christiano Aditya, Jessica Pethica Thung, dan dua maskotnya Grace Elysia serta Allan Joshua, tidak lantas sombong. Sebaliknya mereka sangat hati-hati karena memandang peserta lain sangat bagus.

"Kami selalu memandang semua peserta mading hebat-hebat. Kami selalu menyiapkan mading dengan sungguh-sungguh," aku sang pembina  Evanglin Ristiana.

Walau demikian, guru mata pelajaran IPA itu tidak menyangka tim bimbingannya itu bisa mendapatkan kategori best content. "Jujur kami tidak pernah menyangka akan mendapatkan gelar itu. Karena artikel di semua peserta mading sangat bagus," pungkas perempuan umur 40 tahun itu.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#school contest #juara #genz verse #mading