Acara pertama, Pawai Tumpeng Nanas, dibuka dan diberangkatkan sekitar pukul 09.00 oleh Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kediri Anang Widodo. Para peserta menempuh jarak sekitar 1,5 kilo meter. Berangkat dari Balai Desa Sugihwaras menuju ke lapangan Desa Sugihwaras.
Begitu peserta pertama diberangkatkan, mereka langsung disambut para penonton yang menyemut dan memadati di sepanjang jalan yang dilalui peserta pawai tumpeng. Tidak sedikit yang mengabadikannya dengan kamera ponsel.
Beberapa kali pengunjung juga meneriaki peserta yang unik dan cantik saat memeragakan busana bertema nanas itu. Dengan sabar mereka menyaksikan satu per satu peserta pawai yang berjalan dari Balai Desa Sugihwaras menuju ke lapangan Desa Sugihwaras. “Pawai Tumpeng Nanas ini dilombakan. Panitia akan memilih tumpeng nanas terbaik,” terang Anang tentang pawai kemarin.
Ada beberapa poin yang jadi penilaian. Terutama tentang kreativitas mereka membuat tumpeng dari nanas. Tiap tim pun saling jor-joran, tak sekadar membuat gunungan nanas raksasa yang dipanggul. Mayoritas memberi aksesori hingga mengemas tumpeng agar tampil berbeda dengan peserta lainnya.
Tepuk tangan dan sorak sorai beberapa kali terdengar saat tumpeng nanas unik melintas di depan pengunjung. Ada tumpeng dari nanas berbentuk kambing. Ada yang berbentuk naga, gajah, hingga ada juga tumpeng nanas berbentuk monumen SLG. Aneka tumpeng dari nanas berbagai bentuk itu pun ikut dipanggul di sepanjang rute. Bahkan, ada tumpeng dari nanas berbentuk Kambing, dan kambing itu dinaiki oleh salah seorang peserta pawai. Pendek kata, totalitas peserta pawai begitu terlihat di acara tersebut. Ini bisa dilihat dari kostum yang mereka pakai.
Selain peserta pawai tumpeng nanas, perhatian pengunjung juga tersedot pada peserta Kediri Fashion Pineapple Carnival. Gadis-gadis cantik yang memakai kostum bertema nanas itu lenggak-lenggok di karpet merah, di jalanan Desa Sugihwaras yang kemarin jadi catwalk dadakan.
Meski kondisi jalan naik-turun, para peserta terlihat bersemangat karena tidak sedikit penonton yang tepuk tangan saat mereka melintas. “Alhamdulillah ada tontonan. Seneng bisa lihat pawai nanas lewat sini,” ungkap Indah Dwisari, 34, warga Desa Sidorejo, Kecamatan Pare.
Indah yang kemarin sedianya hendak naik ke kawah Kelud memilih berhenti dan menyaksikan Pineapple Festival. “Semoga tahun depan ada lagi yang lebih meriah,” harapnya.
Puncak kemeriahan acara terlihat saat Gerebek Nanas. Ribuan penonton yang semula tersebar di sepanjang rute pawai langsung menyemut di rest area Kelud. Dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) M. Solikin sekitar pukul 12.00, ribuan pengunjung berebut tumpeng nanas yang berisi ribuan buah khas Gunung Kelud tersebut.
Demi mendapat nanas yang banyak, tidak sedikit pengunjung yang sudah membawa kresek besar. Setelah doa selesai dipanjatkan, panitia langsung memereteli gunungan nanas untuk dibagikan kepada pengunjung yang ada di luar pagar.
“Kene Mas...kene Mas!” teriak pengunjung saling bersahutan meminta agar diberi nanas. Panitia pun langsung membagi nanas secara merata kepada pengunjung di bagian depan hingga belakang.
Zain Hasbi Ahmad, 9, salah satu pengunjung yang ikut berebut nanas mengaku sangat senang. Bocah asal Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar itu mengaku sudah menunggu Pineapple Festival sejak beberapa minggu lalu.
Bocah yang berada di barisan depan itu mengaku senang karena bisa membawa pulang 17 buah nanas. Meski kepalanya sempat tersambar nanas, dia mengaku senang bisa mengikuti acara tersebut. “Tadi (kemarin, Red) kepala kena nanas tapi nggak apa-apa,” selorohnya sambil tertawa.
Sekda Kabupaten Kediri Moh. Solikin yang kemarin membuka Gerebek Nanas mengaku mendukung acara Pineapple Festival. Menurutnya acara tersebut
mampu membangkitkan ekonomi warga sekitar. “Karena kemarin sempat lesu karena pandemi,” ujarnya.
Dia berharap ke depan acara tersebut bisa digelar secara rutin. Dengan kapasitas yang lebih besar dan meriah. “Tunjukkan potensi nanas di Kabupaten Kediri agar seluruh warga Indonesia tahu,” tandasnya.
Untuk diketahui, dalam kesempatan kemarin panitia langsung mengumumkan juara Pawai Tumpeng Nanas dan Kediri Fashion Pineapple Carnival. Setelah melalui penilaian dewan juri, Pawai Tumpeng Nanas dimenangkan oleh tim dari Desa/Kecamatan Ngancar. Sedangkan ajang Kediri Fashion Pineapple Carnival dimenangkan oleh perwakilan Kecamatan Puncu.
“Senang sekali karena bisa meraih juara I,” kata Seger, 46, perwakilan dari Desa/Kecamatan Ngancar yang kemarin menjuarai Pawai Tumpeng Nanas. Dia bersyukur karena tumpeng berbentuk Lembu Sura itu mampu memikat dewan juri.
Hal senada diungkapkan oleh Thohir, 34, perwakilan dari Kecamatan Puncu. Dia berharap ajang yang mengangkat potensi Kabupaten Kediri ini bisa kembali digelar tahun depan. “Semoga tahun depan bisa terselenggara lebih meriah lagi,” harapnya terkait acara yang digelar oleh Dispertabun Kabupaten Kediri dan Jawa Pos Radar Kediri tersebut.
Selain dua event tersebut, panitia juga menilai UMKM yang mengikuti Pineapple Festival. Hasilnya, UMKM dari Desa Babadan dan Desa Sempu, Kecamatan Ngancar yang menjadi terbaik. Puji Astutik, 46, perwakilan Desa Babadan mengaku senang dengan capaiannya. “Sukses terus untuk Dispertabun Kediri dan Jawa Pos Radar Kediri,” tandasnya.
Sementara itu, Direktur Jawa Pos Radar Kediri Kurniawan Muhammad menegaskan, Pineapple Festival sengaja digelar untuk membangkitkan ekonomi warga lokal. Khususnya para petani dan penjual nanas di Kecamatan Ngancar.
Dengan adanya festival tersebut, Kurniawan berharap perekonomian masyarakat akan terkerek naik. “Potensi nanas di Kabupaten Kediri luar biasa. Harus bisa dimanfaatkan dengan baik,” paparnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah