Bahkan, waktu dua jam terasa kurang. Banyak peserta yang hendak bertanya terpaksa tak bisa dilayani. “Bagi yang belum mendapat kesempatan bertanya bisa mengirimkan pertanyaan melalui You Tube Radar Kediri TV. Atau bisa chatting WA ke panitia,” kata Yudi Gosser, pembawa acara dalam pelatihan yang diikuti total 518 siswa itu.
Peserta yang membeludak membuat pelaksanaan pelatihan menggunakan dua cara. Melalui Zoom dan live streaming You Tube Radar Kediri TV. Sebagian peserta menggunakan satu Zoom untuk beramai-ramai.
Materi penulisan artikel disampaikan oleh Pemimpin Redaksi (Pemred) Jawa Pos Radar Kediri Mahfud. Mulai pukul 15.00 WIB, laki-laki yang beralamat di Desa Badalpandean, Kecamatan Ngadiluwih ini menjelaskan tentang bagaimana menulis artikel. Mulai dari mencari ide hingga melakukan penulisan.
“Menulis itu bukan hal yang sulit. Karena sudah didapatkan sejak berada di PAUD,” jelas Mahfud.
Proses mendapat ide tulisan pun juga tak sulit. Bisa dari membaca, melihat, dan mendengar informasi. Namun, yang paling mudah adalah dari hal-hal yang dikuasai dan disenangi.
Tidak hanya menjelaskan dari mana ide bisa muncul, Mahfud juga menjelaskan tahapan penulisan artikel. Mulai pembuatan judul hingga isi. “Isi artikel membahas dan menguraikan ide pokok. Sesuai kaidah yang benar dan tidak bertele-tele namun menarik,” tandasnya.
Sebelum membahas soal artikel lebih dalam, Mahfud juga menjelaskan bahwa budaya literasi di masyarakat masih kurang. Padahal, kemampuan menulis dan membaca memegang peran krusial di era digital ini. Lebih-lebih dengan maraknya media sosial (medsos).
Sebelum berakhir, ada sesi tanya jawab. Sesi inilah yang sangat ditunggu peserta. Setidaknya bila dilihat dari jumlah yang mengajukan pertanyaan. Baik secara langsung maupun melalui chat.
Salah satu penanya adalah Merisa Bella dari MAN 1 Kota Kediri. Cewek ini bertanya tentang tema yang akan diangkat.
“Bila mengangkat tema budaya, apakah yang sudah kenal di Indonesia atau yang berada di sekitar tempat tinggal saya?” tanyanya.
Menjawab pertanyaan tersebut, Mahfud menjelaskan bahwa menulis artikel paling enak adalah yang sumbernya paling dekat dengan penulis. Seperti bila ingin mengangkat tema budaya, maka akan lebih bagus bila yang ada di sekitar penulis.
“Secara kedekatan dapat, juga bisa lebih ekslusif dan punya daya tarik. Bila menulis tentang budaya yang berskala nasional, bisa jadi itu sudah sering ditulis oleh yang lain,” saran Mahfud.
Pelatihan menulis artikel tersebut merupakan rangkaian dari School JournaliZ Competition 2022 yang digelar Jawa Pos Radar Kediri dan Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Kabupaten Kediri. “Tujuannya melatih siswa agar memiliki skill yang bisa digunakan untuk menghadapi pesatnya perkembangan informasi di era digital,” terang Manager Event Jawa Pos Radar Kediri Puspitorini Dian Hartanti.
Menurut Dian, kegiatan ini diikuti peserta dari wilayah Mataraman. Mulai Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Magetan, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Nganjuk.
Tema penulisan ini adalah ‘Muda, Bangkit, Memimpin, dan Membangun Daerah’. Dengan beberapa subtema yang bisa dipilih peserta. Seperti soal sumber daya manusia (SDM), pemerintahan, ekonomi, pariwisata, seni dan budaya, serta pembangunan desa dan infrastruktur. Dalam pelaksanaannya nanti, para finalis akan mengikuti Journalist Camp yang akan berlangsung selama dua hari. (ara/fud) Editor : Anwar Bahar Basalamah