Jarak Gua Rejo dengan balai Desa/Kecamatan Tarokan hanya sekitar tiga kilometer. Akses jalan menuju ke lokasi tidak terlalu mulus. Aspal jalan selebar 3,5 meter sudah banyak yang mengelupas.
Gua Rejo ini berada di dinding bukit. Sebagai tanda, ada dua buah bendera merah putih yang berkibar di sana. Pengunjung yang menggunakan kendaraan bermotor bisa parkir di bawah bukit. Setiap orang yang hendak kesana harus berjalan kaki naik tangga.
Dengan jalan yang terjal, butuh waktu hingga lima menit untuk sampai ke mulut gua. “Warga sini jarang yang ke sana (Gua Rejo, Red),” aku Aris Setiyono, kasi Kesejahteraan Desa/Kecamatan Tarokan. Menurut lelaki 34 tahun itu, mereka yang mendatangi Gua Rejo kebanyakan dari luar daerah.
Pengunjung dari luar kota banyak yang datang dari Jawa Barat. Bahkan banyak pula dari luar Jawa. Mereka datang ke sana untuk ritual khusus pada saat malam hari.
Saat koran ini melihat di halaman gua, di sana banyak terdapat bekas dupa. Ada dua lokasi yang digunakan untuk membakar dupa. Adapun bagian dalam gua yang banyak dihuni kelelawar tidak digunakan untuk ritual.
Muslimin, 40, Juru Kunci Embung Gua Rejo mengatakan, ritual di gua itu dilakukan secara rutin setiap malam Jumat legi. “Di Gua Rejo itu ada juru kuncinya sendiri,” lanjut bapak dua anak itu. Warga setempat tidak berminat melakukan ritual ke lokasi gua karena mitos aliran sungai.
Meski begitu, Aris dan Muslimin sependapat bila Gua Rejo ini menjadi satu paket wisata dengan embung. Setidaknya jadi wisata religi bagi warga luar yang datang ke Gua Rejo juga mampir ke embung yang tak jauh dari sana. Editor : Anwar Bahar Basalamah