Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tiga Makam di Puncak Bukit Maskumambang

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 26 September 2022 | 21:15 WIB
WISATA RELIGI: Makam Eyang Boncolono berada di puncak Bukit Maskumambang, lereng Gunung Wilis, masuk kawasan Wisata Gua Selomangleng. (Foto: Rekian)
WISATA RELIGI: Makam Eyang Boncolono berada di puncak Bukit Maskumambang, lereng Gunung Wilis, masuk kawasan Wisata Gua Selomangleng. (Foto: Rekian)
Menjadi salah satu gunung suci di Pulau Jawa, Wilis memiliki beragam legenda. Di Desa Parang, Kecamatan Banyakan, ada makam Pragolopati yang dikenal bangsawan masa Matara- Jogja. Kisah perjalananya di lereng Wilis diabadikan menjadi nama-nama dusun, desa, hingga kecamatan.

Makam Pragolopati itu berada di bukit Desa Parang. Untuk membedakan dengan makam lainnya, pemakaman Pragolopati diberi bangunan lebih tinggi dengan sebutan punden berundak. Posisi makam di tempat ketinggian itu menjadi ciri makam yang diyakini tempat bersemayam orang yang ditokohkan. Bisa pejuang, orang sakti, hingga orang suci.

Ini juga yang ada di lereng Wilis wilayah Kota Kediri. Di sana ada makam Boncolono. Letaknya di atas bukit Maskumambang. Berada satu kompleks dengan lokasi wisata Gua Selomangleng.

Seperti diutarakan Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri Endah Setyowati, kompleks pemakaman Boncolono jadi tempat wisata religi.

Dari kisah yang berkembang di masyarakat, Boncolono adalah orang sakti yang selalu mendermakan hartanya yang diperoleh dari penjajah Belanda. “Konon harta itu diberikan warga miskin,” ucapnya. Masyarakat menyebutnya sebagai Maling Gentiri.

Di areal itu ada tiga makam. Selain Bocolono, ada Eyang Modjoroto dan Eyang Poncolono. Memperkuat cerita Endah tentang Boncolono, Sigit Widiatmoko, pemerhati sejarah dan budaya Kediri, mengatakan bahwa legenda tentang Boncolono punya versi beragam.

Versinya, Boncolono merupakan tokoh dari istana kerajaan. Gambaran ceritanya terjadi setelah perang Jawa. Saat itu, rakyat Jawa benar-benar menyerah terhadap penjajah Belanda. “Sosok Boncolono ini mirip seperti Ratu Adil, yang dielukan dan dinanti oleh rakyat,” ungkapnya.

Boncolono hadir saat rakyat tidak lagi mampu melawan kekuatan Belanda. Karena memiliki kesaktian, Boncolono kerap menjarah harta Belanda yang dikenal korup. “Semua hasil curiannya dibagi-bagi kepada rakyat yang miskin,” kata Dosen Sejarah Universitas Nusantara PGRI Kediri ini.

Tindakannya membuat Belanda kesal. Boncolono diburu lalu dibunuh. Karena sakti dan memiliki ilmu Pancasona, dia tidak mudah ditumpas. Belanda yang merasa gerah atas perbuatannya lalu mencari tahu cara untuk membunuh Boncolono. Caranya adalah setelah mengeksekusi mati, Belanda lalu memisahkan tubuhnya. Yang menjadi pembatas pemisahan tubuh itu adalah sungai Brantas. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #ekspedisi selingkar wilis #kediri hari ini #seputar info kediri #berita viral #info kediri raya #kediri raya #wilis #kabar terbaru #info kediri terbaru #kabar kediri terbaru #kediri terbaru #berita kediri hari ini #kabar kediri #selingkar #update kediri #kediri news #kediri terkini #selingkar wilis