Cerita itu pula yang melatari kesuksesan Dusun Purut di Desa Parang menjadi klaster rempah-rempah. Sebab pada masa itu rempah Putri Wilis yang jatuh dari cikar ada yang mengambilnya. Lalu, menanamnya di Purut. Karena itulah Dusun Purut punya ciri khas tanaman penghasil rempah yang laku dijual.
Seperti di tempat tinggal Jamiran, 70, warga Purut. Dia merasa diberi keberkahan berupa tanaman rempah. Orang luar dusun menyebut warga di sana menjual daun tapi laris karena pengaruh kisah Putri Wilis.
“Cerita itu sudah turun-temurun. Orang dusun kami pun memercayainya. Banyak yang berjualan rempah di luar daerah. Dan berhasil,” kata Jamiran.
Kisah cikar Putri Wilis itu pula yang membuat pegunungan purba tersebut kaya dengan hasil rempahnya. Namun, banyak yang tidak mengetahui bentuk dan jenisnya di hutan.
Rempah yang ditanam di Purut merupakan milik warga yang dipelihara di tegalan. Banyak sekali jenisnya. Seperti kunyit, jahe, kencur hingga temulawak. Belakangan diketahui ada tanaman serupa tumbuhan kayu putih. Semuanya dari hasil tanaman warga. Selain rempah, warga mulai menanam umbi-umbian berupa porang.
Namun jumlahnya tidak sebanding dengan rempah-rempah yang telah lama menjadi klaster di Kediri. Dari sisi ceritanya, Sigit Widiatmoko, pemerhati sejarah sekaligus dosen Universitas Nusantara PGRI (UNP), menyebut, kisah Putri Wilis dengan cikar yang terguling sebagai simbol. “Cerita yang berkembang di masyarakat itu jangan diartikan secara harafiah,” ujarnya.
Dia menerjemahkan, Putri sebagai sesuatu yang elok dan keindahan. Sedangkan Wilis merupakan pegunungan. Adapun cikar rempah Putri Wilis yang terguling bermakna bahwa gunung yang elok itu memiliki kekayaan alam luar biasa. “Ya termasuk rempah-rempahnya,” ulas Sigit.
Makna cikar terguling itu jadi simbol bila rempah-rempah jatuh ke tangan penjajah. “Makna terguling itu ya bisa ditafsirkan dikuasai penjajah karena rempah,” beber dosesn sejarah UNP itu. Editor : Anwar Bahar Basalamah