Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Simpan Jejak Perjuangan Jenderal Soedirman

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 15 September 2022 | 17:32 WIB
TERAWAT: Makam Pragolopati di Parang, Banyakan sering didatangi peziarah hingga sekarang. (Pasak For JPRK)
TERAWAT: Makam Pragolopati di Parang, Banyakan sering didatangi peziarah hingga sekarang. (Pasak For JPRK)
Selain nama Pandu Pragolopati, Desa Parang, Kecamatan Banyakan juga menyimpan kisah perjuangan Jenderal Soedirman. Jejak pahlawan nasional itu ada di rumah yang dinamai Sasana Pangripta Gelar Panglima Jenderal Soedirman.

Rumah itu digunakan Jenderal Soedirman untuk bersembunyi dari kejaran Belanda. Puluhan tahun berselang tetapi bangunan di tepi jalan Dusun Goliman, Desa Parang, Banyakan itu masih tetap kokoh. Lantai dan dindingnya yang sudah keramik tampak kontras dengan pintu masuk rumah yang diukir dengan motif kembang model rumah lawas. Di atas pintunya tertulis “Badal Poe” dan angka tahun 1948.

Badal merupakan nama warga yang menempati rumah itu. Dia adalah orang yang memberanikan diri menerima Jenderal Soedirman untuk bersembunyi di kamar kecil berkuran 2x4 meter. Menurut Ketua Pelestari Sejarah dan Budaya Kadhiri (Pasak) Novi Bahrul Munib, di Dusun Goliman, Desa Parang itulah Soedirman bersembunyi.

Ketika itu, Jenderal Soedirman mengomando pasukannya dari Kediri (Kota Kediri). “Awal kemerdekaan, divisi militer di Kediri melebihi standar. Jika biasanya ada empat batalyon, Kediri paling banyak bisa sampai 7 batalyon,” ujar pria asal Wates itu.

Setelah tinggal di Kediri, Jenderal Soedirman yang mengetahui agresi militer Belanda II mulai masuk ke Kediri, memilih pindah ke lereng Gunung Wilis. Dia melanjutkan gerilyanya. Dalam kondisi genting, Soedirman harus mencari tempat yang pas untuk bersembunyi.

Di rumah Badal Jenderal Soedirman menetap agak lama. Di rumah itu pula, Soedirman mengatur siasat hingga bergerilya menuju ke Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Nganjuk. Menurut warga setempat, Soedirman tinggal di Dusun Goliman selama sembilan hari.

Pilihan menginap di rumah Badal bukan tanpa alasan. Soedirman tidak mau menginap di rumah perangkat desa karena sering banyak tamu. Dia khawatir tamu yang datang adalah mata-mata dan persembunyiannya terbongkar.

Karenanya, dia memilih tinggal di rumah Badal. Sepeninggal Badal dan Rumina, sang istri, rumah bersejarah itu kini ditinggali Yatini yang tak lain adalah menantu Badal. Saat JP Radar Kediri berkunjung kemarin, Yatini yang sudah berusia 75 tahun itu menyambut dengan senyum. “Tempatnya masih seperti dulu,” tutur lansia yang rambutnya sudah memutih itu.

Untuk mengenang peristiwa Jenderal Soedirman, kamar tempatnya menginap terus dirawat. Meja, kursi, dan dipan yang menjadi tempat tidur juga tetap ada.

Menurut Kepala Dusun Goliman Pangadianto, di meja kamar itu tersedia pula kendi. “Kendinya dipakai untuk minum (Jenderal Soedirman, Red),” terang pria berusia 55 tahun itu. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#ekspedisi selingkar wilis #berita terkini #seputar kediri #gunung wilis #kediri #kabar kediri terkini #info terbaru kediri #info kediri #viral kediri #berita terbaru #berita kediri terbaru #berita kediri terkini #wilis #kediri lagi #jenderal soedirman #berita viral kediri #kabar kediri #kediri news #selingkar wilis