Dari posisinya, Selo Gajah yang berada di Dusun Babadan, Desa Tiron, Banyakan tepat berada di belakang Gua Selomangleng. Tidak heran jika di bukit batu itu juga berkembang cerita tentang Dewi Kilisuci. Ada dua kejadian yang berkaitan dengan Kilisuci. Yakni, tempat sang putri mandi dan buang air kecil.
Di tempat Kilisuci buang air kecil itu kini dinamai sumber pesing. “Sumber itu dulu bau pesing,” ucap Legiran warga setempat. Selain sumber pesing, ada juga air yang mengalir di bebatuan dan dipercaya sebagai tempat Kilisuci mandi.
Cerita Kilisuci di bebatuan itu masih terawat hingga saat ini. Beberapa orang menyebut Dewi Kilisuci itu sebagai Sekartaji. Selain aliran air di bebatuan, di Selo Gajah juga ada batu datar. Warga setempat menyebutnya sebagai Watu Memean. Yang berarti bahwa batu itu tempat menjemur pakaian Kilisuci.
Sekarang batu datar itu masih dimanfaatkan untuk menjemur. “Petani yang punya lahan di dekat Selo Gajah biasanya memanfaatkan batu datar itu untuk menjemur singkong,” aku pria yang kini berusia 60 tahun tersebut.
Selain tentang aktivitas Kilisuci, juga berkembang cerita asal usul Selo Gajah. Dari cerita turun temurun yang ia terima, Selo Gajah dulunya adalah gajah yang dicincang oleh Semar, Petruk, dan Gareng. Ada yang menyebut bila gajah tersebut berfungsi untuk menghalau banjir dari laut selatan. Ada pula yang mengatakannya sebagai penutup mata air agar tidak banjir.
Kepala Urusan Pelayanan Masyarakat Desa Tiron, Banyakan Khoirul Anam, air tersebut dimanfaatkan warga untuk bertani. “Di bagian yang lebih rendah dimanfaatkan untuk lahan pertanian padi,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Terpisah, Ketua Komunitas Pelestari Sejarah Kadhiri (Pasak) Novi Bahrul Munir menuturkan, tidak ada tanda-tanda di bukit batu Selo Gajah seperti di Gua Selomangleng. “Sementara di sana yang bekembang foklore, belum ada kaitan sejarahnya,” aku Novi.
Dari sisi pengembangan wisata alam, tempat tersebut dianggap layak karena memiliki pemandangan yang apik. Didukung kondisi alam sekitarnya yang asri. Editor : Anwar Bahar Basalamah