Beberapa tahun silam, produksi kunyit di Kabupaten Kediri ‘hanya’ 8 ribu ton setahun. Itu data pada 2017. Kini, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, rata-rata produksi per tahun tanaman ini mencapai 36 ribu ton!
Hal itulah yang membuat dinas pertanian dan perkebunan (dispertabun) menjadikan kawasan lereng Wilis menjadi sentra kunyit. Terutama di dua kecamatan, Grogol dan Tarokan. Begitu melimpahnya, hingga bisa memenuhi pasar ekspor. Terutama ke India.
Sayang, tingginya angka produksi tersebut tak diimbangi dengan harga jual yang bagus. Bahkan cenderung menurun bila dibanding sebelum 2018. Saat itu harga komoditas yang biasa disebut kunir ini mencapai 17 ribu per kilogram. Itu untuk yang kunyit iris kering.
“Sekarang harga kunyit iris keringnya hanya Rp 9 ribu saja per kilogram,” aku Sujinah, petani asal Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan.
Rendahnya harga jual kunyit itu disebabkan karena jumlah barang yang tersedia melimpah. Sedangkan permintaannya tetap.
Bagi Sujinah, hasil pertanian warga di kampungnya hanya dua saja. “Kalau tidak jagung ya kunyit,” tegasnya. Sekarang, hasil panen kunyitnya mengalami penurunan kualitas karena diserang ulat. Umbinya menjadi kecil-kecil.
Diakui Sujinah, kunyit yang dijual untuk ekspor harus terlebih dahulu diiris dengan tebal sekitar 1-2 sentimeter. Setelah diiris, kunyit itu lalu dijemur. Agar hasilnya masksimal butuh waktu yang agak lama ketika menjemur. “Minimal empat hari,” ucapnya.
Setelah dijemur, kunyit itu tidak langsung dijual. Biasanya ditandon hingga jumlahnya mencapai satu kuintal.
Dalam waktu satu minggu, perempuan berambut ikal itu baru bisa mendapat satu kuintal. Jika harga satu kilogramnya Rp 9 ribu maka uang yang dia dapat Rp 900 ribu sekali jual. Dalam sebulan, uang yang bisa dikumpulkan satu petani ini mencapai Rp 3,6 juta. Untuk memenuhi kebutuhan hidup di kampungnya, uang itu sudah lebih dari cukup. Apalagi selain hasil pertanian kunyit, warga di kampungnya masih punya tabungan berupa ternak. Sedangkan Sujinah memiliki usaha warung yang tempat jualannya dibangun di depan rumahnya yang berada di tepi jalan raya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Anang Widodo membenarkan potensi dua kecamatan itu sebagai sentra kunyit. Karena itu, pemkab memiliki tugas. Yaitu meningkatkan kualitasnya dan menciptakan good agricultural practices (GAP) untuk meningkatkan nilai jual ekspor. “Itu syaratnya,” aku Anang.
Saat ini, semua produksi pertanian di Kediri baru kunyit kering iris. Untuk pengelolaannya masih dilakukan oleh perusahaan dari luar Kediri. Editor : Anwar Bahar Basalamah