Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dari Batu Dakon itu Nama Sawur Berasal

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 8 September 2022 | 17:35 WIB
BESAR: Warga berada di dekat palinggih yang oleh warga disebut dengan batu dakon. (Foto: Rekian)
BESAR: Warga berada di dekat palinggih yang oleh warga disebut dengan batu dakon. (Foto: Rekian)
Bongkahan batu berlubang ini dianggap jadi asal mula terciptanya Dusun Sawur. Menjadi tempat Semar memainkan permainan dakon. Setidaknya, itu mitos yang dipercaya sebagian warga dusun.

Bila ditarik garis lurus, diameter batu bongkah ini berukuran 1,5 meter. Bentuknya tidak bulat melainkan tak beraturan. Dengan permukaan yang banyak berlubang di sana-sini. Mirip dengan yang digunakan untuk bermain dakon.

Batu itu diyakini terjadi akibat letusan gunung berapi. Ada yang menyebutnya bom lapili atau bom vulkanik. Namun, oleh warga setempat biasa disebut batu dakon. Penyebutan itu sesuai dengan kontur permukaan batu yang penuh lubang.

Namun, dari sisi fungsional, batu itu dijadikan tempat peletakan sesajen atau palinggih. Terutama saat berlangsung upacara tahunan. Mulai bersih dusun hingga perayaan kemerdekaan. Palinggih ini hanya berjarak 200-an meter dari lokasi Pura Agung Dewi Savitri, yang ada dusun ini.

“Sesaji itu diletakkan di dakon sebagai wujud terima kasih kepada para leluhur,” terang Muslan, lelaki yang juga penasihat pura.

Menurut lelaki 58 tahun ini, sangat wajar bila akhirnya palinggihan atau batu dakon tersebut jadi simbol keberagaman. Karena mereka yang menguri-uri tradisi terus melakukannya di tempat itu. Termasuk bila ada yang hendak menggelar hajatan, kebanyakan menempatkan sesajen terlebih dulu di batu ini.

Rabu (7/9) misalnya, ada dua sesaji yang ditempatkan di batu dakon ini. Diwadahi daun pisang yang telah mengering. Isinya ada gula merah, bawang, serta bumbu dapur lainnya.

Ada kisah menarik dari batu ini yang dipercaya sebagian warga sebagai cikal-bakal terbentuknya dusun. Konon, batu itu sejak dulu dijadikan dakon oleh Semar, salah satu tokoh pewayangan. Suatu saat, Arjuna yang berada di tempat jauh ingin melihat Semar memainkan dakon itu. Karena terhalang bukit, dia kemudian menyawurkan bukit deri kerikil itu menjadi bukit-bukit kecil. Akhirnya, dia bisa melihat Semar bermain dakon di batu itu. Sekaligus membentuk bukit-bukit kecil dari hasil sawuran kerikil. Nah, dari kisah itulah akhirnya nama dusun menjadi Sawur.

Batu ini dianggap sebagai simbol keberagaman dan kerukunan juga tak lepas dari ritual warga untuk menghindari pagebluk atau serbuan wabah penyakit. Bila ada pagebluk, warga akan beramai-ramai datang ke lokasi palinggih. Mereka yang datang dari berbagai agama itu melakukan doa bersama. Kemudian diteruskan dengan ritual berkeliling bukit pada saat malam hari. .

Mereka yang ikut berkeliling bukit itu didominasi anak-anak muda. Perjalanannya mencapai tiga kilometer. “Biasanya, mereka yang ikut ritual ini tidak tidur,” kata bapak satu anak itu.

Terlepas bahwa apa yang mereka percaya itu sekadar mitos, tapi Muslan berdalih warga setempat bisa menghindari pagebluk yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Seperti tak ada sapi di dusunnya yang terkena penyakit mulut dan kuku (PMK). Konon, juga tak ada penduduk yang terkena Covid-19.

Mitos itu yang membuat batu dakon masih terpelihara dengan baik. Muslan dan penduduk dusun terus merawat dan memelihra batu itu. Apalagi, ada pula warga luar dusun yang datang karena percaya dengan mitos ini.

“Kami tak melarang orang datang dengan syarat tidak melakukan perusakan,” ucapnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#ekspedisi selingkar wilis #berita terkini #seputar kediri #gunung wilis #jawa timur #kediri #kabar kediri terkini #info terbaru kediri #program wagub jatim #info kediri #viral kediri #berita terbaru #wagub jatim #berita kediri terbaru #berita kediri terkini #emil dardak #wilis #kediri lagi #berita viral kediri #nganjuk #kabar kediri #kediri news #selingkar wilis