Gua Ngrancangan hanya berjarak sekitar 50 meter dari perkampungan warga Dusun Geneng. Bagi yang ingin menuju ke lokasi, kendaraannya bisa dititipkan di rumah warga lantas berjalan kaki ke sana. Meski jalan masih menyatu dengan kebun warga, tetapi ada penunjuk arah yang akan memudahkan pengunjung.
Akses jalan yang hanya selebar sekitar 0,5 meter juga harus membuat pengunjung ekstrahati-hati saat melintas. Apalagi, di sampingnya ada jurang dengan kedalaman sekitar 20 meter. Di bawah tebing banyak tumbuh pohon jati dan mangga.
Meski akses ke sana relatif sulit, gua tersebu tetap saja dikunjungi banyak orang. Sebagian mempercayai gua itu sebagai tempat yang keramat. Saat tim Jawa Pos Radar Kediri mengunjungi lokasi, di sana ada lima pilar yang masih utuh.
Ketua Pemerhati Sejarah Khadiri (Pasak) Novi Bahrul Munir menyebut lima tiang di sana sebagai lingga. “Lingga (pilar, Red) itu dulu bisa berfungsi untuk pertapaan,” kata pria asal Wates itu.
Novi meyakini gua tersebut digunakan untuk pertapaan atau tempat ibadah. Keyakinan itu lantaran di Desa Joho, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk juga terdapat gua yang mirip dengan Ngrancangan. Bedanya, di Pace, Nganjuk itu ada goresan berupa lingkaran yang menunjukkan simbol kerajaan pada masa Raja Kadhiri.
Sedangkan di Gua Ngrancangan tidak ada petunjuk selain lima pilar. Dari fungsinya, model Gua Ngrancangan kerap digunakan pada masa Hindu-Budha sebagai tempat bertapa. Di dalam gua tidak ada petunjuk tambahan selain lima pilar yang berdiri di tengah gua.
Tak hanya lima pilar, di dalam gua juga ada semacam tempat untuk tidur yang tersusun dari bata merah. Di atasnya diberi tikar. Bahkan tersedia lilin untuk pencahayaan saat malam hari. Sedangkan di dinding goa terdapat sembilan lubang kecil.
Berbeda dengan Gua Selomangleng, tidak ada goresan atau pahatan di dinding gua. Gua yang tingginya kurang dari dua meter itu kerap meneteskan air dari bagian atas. Semua titik yang sering mengeluarkan air itu dindingnya berubah menjadi hijau seperti berlumut.
Menurut Kasijan, 69, warga setempat, pengunjung Gua Ngrancangan lebih banyak malam hari. Sedangkan saat siang hari lebih banyak ketika hari libur. “Belum banyak yang datang ke sana,” akunya. Editor : Anwar Bahar Basalamah