Sigit Widiatmoko, dosen sejarah Universitas Nusantara PGRI Kediri, menjelaskan, Batu Tulis Kebo Iwa di Desa Jugo, Mojo bukanlah prasasti. Kebo Iwa adalah tokoh yang dituakan dan dikeramatkan di Bali. Banyak versi tentang sosok heroiknya. Patih yang pada masa Kerajaan Bedahulu, Bali ini dikenal sebagai sosok yang kuat dan punya kesaktian tinggi.
“Legenda Kebo Iwa di Besuki disebut pula sebagai tempat moksa,” katanya. Ada dua batu yang menunjukkan posisi berbeda. Yakni berdiri yang dikenal sebagai lingga dan telentang menjadi simbol yoni. Sejak 2014, umat Hindu dari Bali menempatkan prasasti Kebo Iwa di dekat dua batu dengan simbol lingga dan yoni.
Tulisan itu berbunyi, mewujudkan Sumpah Palapa Kepada Gajah Mada. Lalu dilanjutkan dengan kalimat, Jiwa dan Raga Ku Kurbankan Demi Persatuan dan Kesatuan Nusantara. Prasasti itu ditandatangani Ketua Umum Pasemetonan Sri Karang Buncing Jro Made Made Supatra Karang.
Bagi Sigit, Batu Tulis Kebo Iwa ini merupakan tempat leluhur masyarakat Bali. Karena itu, nilai sejarah yang terkandung di dalamnya bisa menjadi perekat hubungan antropologi antara Kediri dengan Bali. “Selain Kebo Iwa, di Kediri juga ada situs Calon Arang yang erat kaitannya dengan warga Bali,” imbuhnya.
Karena menjadi potensi wisata religi, pria yang juga pengurus Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK4) ini mengatakan, akan mengusulkan dan merekomendasikan kawasan Batu Tulis menjadi kawasan wisata religi. Dosen sejarah tersebut mengklaim, tanpa peran pemerintah maka potensi religi ini akan tenggelam.
“Pas sekali jika nanti ada pembangunan jalur Selingkar Wilis, bisa masuk trip wisata bersamaan dengan potensi alam Wilis yang luar biasa,” ungkapnya.
Pengembangan wisata religi di Batu Tulis Kebo Iwa ini bisa berdampak pada sosial, ekonomi warga sekitar. Apalagi wisata Besuki sekarang sudah mulai ramai diminati para pengunjung.
Selain memiliki aneka ragam hayati, potensi wisatanya juga patut terus dikembangkan. Bagi Sigit, pembangunan jalur Selingkar Wilis adalah peluang bagi Kediri untuk meningkatkan semua potensi alamnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah