Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kawasan Irenggolo Jadi Habitat Kupu-Kupu Langka

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 24 Agustus 2022 | 21:44 WIB
TANPA TROIDES HELENA: Tutut menunjukkan ragam jenis kupu-kupu dari kawasan Irenggolo yang dikeringkan untuk media belajar di Universitas PGRI Kediri. (Foto: Rekian)
TANPA TROIDES HELENA: Tutut menunjukkan ragam jenis kupu-kupu dari kawasan Irenggolo yang dikeringkan untuk media belajar di Universitas PGRI Kediri. (Foto: Rekian)
Desa Jugo, Kecamatan Mojo yang ada di kawasan Selingkar Wilis tak hanya kaya dengan wisata alamnya. Melainkan,  di Irenggolo hidup ribuan jenis rama-rama yang beberapa di antaranya tak dijumpai di tempat lain.

Dalam diskusi Terabas Medan, Satukan Tunggal Ronggo Mandiri (Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Nganjuk, Madiun, dan Kediri), Wakil Koordinator Bidang Akademik Universitas Brawijaya (UB) Kediri Agus Suryanto meminta ekosistem Gunung Wilis tetap terjaga. Karena itu, perlu inventarisasi ragam hayati yang ada di sana. Mulai dari tumbuh-tumbuhan hingga ragam hewan yang hidup di sana.

Beberapa jenis hewan yang sudah diinventarisasi adalah jenis kupu-kupu. Penelitiannya dilakukan oleh akademisi Universitas Nusantara PGRI Kediri pada 2016 lalu. Adalah Tutut Indah Sulistiyowati, dosen mata kuliah Ekologi yang menyebut ada 1.622 individu rama-rama dalam pengamatannya.

“Dari ribuan kupu-kupu itu terdapat lima famili dari 35 spesies,” akunya. Lima famili itu terdiri dari Nymphalide, Pieridae, Papilionidae, Lycaenudae, dan Hesperidae. Spesies paling banyak dijumpai adalah famili Nymphalide dan yang paling sedikit spesies Hesperidae.

Spesies Hesperidae ini jarang ditemui karena pakannya yang berupa zingiberaceae sangat terbatas. Selanjutnya, jenis kupu-kupu yang paling sering dijumpai di sana adalah spesies Chilades Pandava. Dia menyebut ada 16 kali perjumpaan setiap pengamatan di pagi dan sore hari.

Adapun yang paling jarang dijumpai adalah Troides Helena. Dari sepuluh kali pengamatan hanya dijumpai enam ekor. Rama-rama yang didominasi warna hitam dengan paduan warna kuning, ungu, dan putih ini ditemukan pada satu lokasi dari enam tempat pengamatan.

“Ketika ditemukan selalu dalam keadan terbang,” kata dosen berusia 38 tahun itu sembari menyebut kupu-kupu Troides Helena ini merupakan spesies yang dilindungi di Indonesia.

Kupu-kupu itu termasuk langka dan termasuk dalam apendix II Convention on Internastional Trade in Endangered Species (CITES). Dosen berkacamata itu menambahkan, negara yang peduli konservasi tergabung dalam CITES merumuskan hewan dan tumbuhan liar apa saja yang terancam punah. Lalu, menetapkannya sebagai hewan atau tumbuhan yang dilindungi. Sekarang jumlahnya mencapai 5 ribu apendix.

Kupu-kupu Troides Helena ini masuk dalam apendix II. Bisa terancam punah bila terus dieksploitasi. “Kalau sudah sudah apendix I sangat berat. Biasanya dilindungi dan dilarang untuk diperjualbelikan,” tambahnya sembari menyebut kupu-kupu langka ini kehidupannya berada di kawasan tertentu saja.

Kupu-kupu yang memilih tempat jauh dari kebisingan ini memiliki rentang sayap antara 9-13 sentimeter. Bagi Tutut, rama-rama itu merupakan kupu besar. Keberadaanya lebih banyak didapati di kawasan hutan dengan suhu 20-21 derajat celsius. Kelembapan udaranya bisa mencapai 70 persen.

Keberadaan kupu-kupu Troides Helena sebagai hewan langka yang dilindungi sekaligus jadi indikator ekosistem di kawasan Irenggolo masih cukup baik. Untuk menjaga kelestariannya, dosen yang tinggal di Desa Titik, Kecamatan Semen ini telah melakukan edukasi kepada pengelola dan warga sekitar untuk menjaga kelestariannya. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #ekspedisi selingkar wilis #seputar berita terbaru #nganjuk lagi #seputar info kediri #info kediri #nganjuk news #kediri raya #seputar info nganjuk #radar nganjuk #info nganjuk #seputar berita terkini #selingkar wilis