Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pasang Sesajen di Tepi Sungai Jelang Hajatan

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 25 Juli 2022 | 17:05 WIB
BUDAYA: Warga Desa Duren meletakkan cok bakal atau sesajen di tepi sungai desa jelang hajatan pernikahan yang digelar Rabu (6/7) lalu. (Foto: Rekian)
BUDAYA: Warga Desa Duren meletakkan cok bakal atau sesajen di tepi sungai desa jelang hajatan pernikahan yang digelar Rabu (6/7) lalu. (Foto: Rekian)
Dari Desa Margopatut, tim Ekspedisi Selingkar Wilis kemudian menuju Desa Sidorejo dan Desa Duren. Masyarakat di Desa Duren yang masih lekat dengan budaya Jawa dan ragam kepercayaan, ada yang meletakkan sesajen di tepi sungai jelang hajatan.

Panjang trase dari Desa Sidorejo ke Desa Duren hanya sekitar 3,68 kilometer. Di Desa Sidorejo, trasenya hanya melewati satu dusun saja. Yakni Dusun Banjarsari. Dari Desa Margopatut lokasinya agak menanjak karena lebih tinggi, 595 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Dengan luas wilayah yang paling kecil, jumlah penduduknya juga paling sedikit dibanding empat desa lain yang jadi trase Selingkar Wilis. Berdasar data Badan Pusat Statistik Kecamatan Sawahan dalam angka 2021, jumlah penduduk di Desa Sidorejo hanya 2.601 jiwa. Sebanyak 1.315 jiwa laki-laki, dan 1.258 jiwa perempuan.
“Penghasilan warga di Desa Sidorejo ini rata-rata adalah pertanian,” ujar Henry Sujatmiko, anggota tim Ekspedisi Selingkar Wilis dari badan perencanaan pembangunan daerah (bappeda).
Luas lahan panennya hanya 135 hektare. Dan hasil petanian padi hanya 812.89 ton padi gabah kering giling. Adapun jagung lebih sedikit lagi. Yaitu, 140 ton.
Kondisi di desa ini berbeda dengan tetangganya, Desa Duren. Luas lahan panen di sana mencapai 444 hektare. Warga yang mayoritas bertani itu bisa menghasilkan padi rata-rata 2.596,72 ton gabah kering giling dalam setahun.
Jumlah penduduk di desa itu juga lebih banyak. Yaitu, 5.810 jiwa. Tak hanya keindahan alam Desa Sidorejo dan Desa Duren saja yang memikat. Saat tim Selingkar Wilis memasuki desa tersebut, alunan suara musik sudah terdengar sangat keras. Rupanya, ada warga yang menggelar hajatan di sana. “Sepertinya banyak yang menikah di desa ini (Desa Duren, Red),” tutur Ketua Tim Ekspedisi Selingkar Wilis M Arif Hanafi.
Diiringi suara musik yang bikin kepala manggut-manggut, tim sempat berhenti untuk mendokumentasikan jalan yang dikelilingi lahan persawahan. Saat berhenti di jembatan Desa Duren, Supriyanto, anggota tim ekspedisi dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Nganjuk menunjukkan takir atau wadah dari daun pisang yang berisi bahan dapur, kembang, dan telur.
“Ini namanya cok bakal (sesajen, Red),” papar Supriyanto sembari menunjuk bunga tiga warga di sana. Ada pula gulungan daun sirih, sedikit kelapa, bawang, dan merica. Rupanya sesajen sengaja diletakkan di tepi sungai besar.
Menurut Supriyanto, cok bakal biasanya digunakan untuk beberapa aktivitas warga di desa. Dengan banyaknya kegiatan hajatan pernikahan, pria yang akrab disapa Pri itu menduga cok bakal diletakkan di sana oleh warga yang menggelar hajatan. Tujuannya, agar acara pernikahan berjalan lancar.
Selain pernikahan, cok bakal biasanya juga dibutuhkan saat mencuci ari-ari anak yang baru lahir. Yakni, saat ritual buka bumi. Selebihnya, cok bakal juga digunakan saat ritual wiwitan atau saat panen raya. “Sebagai rasa syukur juga,” papar Pri.
Seperti desa-desa lain di lereng Gunung Wilis, warga Desa Duren masih memegang erat tradisi Jawa. Dilihat dari jenis keyakinannya, data BPS menunjukkan di sana ada tiga warga yang menganut aliran kepercayaan. Selebihnya, mayoritas beragama Islam dan Kristen Protestan.
Terpisah, Kabid Peningkatan Daya Tarik Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata, Kepemudaan, Pariwisata dan Kebudayaan Nganjuk Amin Fuadi menjelaskan, cok bakal biasanya disajikan di tempat-tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat.
“Tujuannya supaya perjalanan mereka tidak terganggu,” paparnya sembari menyebut cok bakal masih banyak ditemukan di wilayah pedesaan kuat akan tradisi. Mereka juga mempertahankan cerita dari leluhur yang turun temurun. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #ekspedisi selingkar wilis #gunung wilis #nganjuk lagi #kediri #PUPR Nganjuk #wilis #kediri lagi #radar nganjuk #nganjuk #kediri news #selingkar wilis