Usai makan siang, tim Ekspedisi Selingkar Wilis sudah bersiap tancap gas lagi. Kali ini tanpa Suparman. Yang memang hanya jadi guide di wilayah Kecamatan Mojo saja. Medan yang benar-benar dia kuasai.
Medan Dusun Badut sudah beraspal. Jadi jalur wisata dari wilayah Kecamatan Semen ke kawasan Dolo di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo.
Jalan di trek ini lebar dan mulus. Di kiri-kanan banyak warung. Bilik-bilik yang berada di bukit itu dibuat menghadap ke lembah. View-nya ke arah Kota Kediri. Pemandangan yang tersaji sangat indah. Bila malam hari, wilayah Kota Kediri sangat eksotis karena dilihat dari ketinggian 830 mdpl.
Setelah itu, jalan yang dilalui menurun tajam. Beberapa di antaranya disambung dengan tikungan tajam. Jalan seperti ini berlangsung hingga masuk kawasan hutan pinus.
Tak beda jauh dengan di jalanan sebelumnya, kawasan hutan pinus ini juga mulai ‘ditumbuhi’ kafe-kafe di sela rindangnya pohon. Saat rombongan melintas, banyak muda-mudi yang menikmati sejuknya udara hutan. Nongkrong di warung-warung yang ada.
Di kawasan ini ada tugu batas antara Desa Jugo dengan Desa Selopanggung, Kecamatan Semen. Nah, dari Selopanggung ke Kanyoran ada tiga pilihan rute. Melewati Dusun Sumberagung, Dusun Karanglo, kemudian ke Desa Kanyoran. Ada jalan hasil program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) beberapa tahun silam. Pernah dimakadam. Tapi rusah lagi karena jarang dilewati.
Kedua, lewat Dusun Tunggul, melintasi makam pahlawan nasional Tan Malaka. Kemudian tembus Dusun Nglangu di Desa Puhsarang. Dan yang ketiga dari Selopanggung turun mengikuti jalan raya menuju Desa Puhsarang. Turun lagi ke Desa Kedak, baru kemudian naik lagi.
“Kita lewat jalur yang melewati makam Pahlawan Nasional Tan Malaka saja. Sekaligus berziarah di sana,” ujar Hanafi.
Karena sembari berziarah, rombongan berhenti di makam tokoh nasional itu. Bermunajat sejenak. Juga sempat ambil foto sebelum akhirnya tancap gas lagi.
Kali ini jalanan yang dilewati sudah lumayan. Jalan menuju Dusun Plingsangan paduan jalan aspal dan cor rabat beton. Melewati persawahan dan kebun-kebun warga.
Setelah melintasi Plingsangan, rombongan berhenti di pertigaan utama Dusun Nglangu, Desa Puhsarang. Kali ini bertemu dengan jalan yang lebih lebar. Tim ekspedisi berbelok menuju patung durian di Desa Kanyoran, yang memang menjadi salah satu desa penghasil durian di Kabupaten Kediri.
Dari patung itu kemudian belok ke kanan. Jalanan menurun ke arah Kanyoran itu meliuk di ujung bawah, naik lagi. Ke utara menuju Desa Pagung kemudian berbelok lagi ke barat ke Desa Joho. Rencananya, rombongan mencapai Desa Parang melalui jalur wisata Kelir di Desa Joho.
Ketika sampai di Dusun Igir-Igir, hujan turun. Meskipun tidak deras namun jalanan menjadi basah. Di dusun ini, sebelum masuk hutan, semua anggota ekspedisi ‘memborong’ BBM di kios yang ditemui.
Rintik hujan membuat suhu di hutan pinus Kelir jadi lebih dingin. Namun, tantangan tak hanya hawa dingin saja, jalanan pun mulai berat. Setelah masuk hutan sekitar 1,5 meter, jalanan berganti menjadi makadam terjal. Air membuat kondisinya licin.
Di sepanjang jalan ada kotak-kotak kayu. Itu adalah rumah lebah milik peternak. Kawasan ini memang penghasil lebah madu terbesar di Kediri.
Rombongan berhenti sejenak di pertigaan yang ada di Petak 30 Perhutani. Di depan, hutan pinusnya lebih rimbun dan dalam. Jalanannya pun kian menyempit. Bahkan hanya berupa jalan setapak. Setelah mencoba masuk sedikit, rombongan memilih berhenti.
“Tak mungkin lewat sini, terlalu bahaya. Licin dan berlumpur. Sebaiknya lewat jalur kota,” putus ketua tim, Hanafi.
Di area Kecamatan Semen itu, ada empat desa yang dilewati. Desa Selopanggung, Desa Kanyoran, Desa Pagung, dan Desa Joho. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021, area paling sempit adalah Desa Joho. Panjangnya hanya 5,42 kilometer. Tapi lokasinya paling tinggi, 567 mdpl.
Paling luas adalah Desa Kanyoran. Dengan luas 18,99 kilometer persegi. Selanjutnya adalah Desa Selopanggung 16,43 kilometer persegi, dan Desa Pagung seluas 14,3 kilometer persegi.
“Di kawasan ini ada aliran sungai panjang. Sumbernya dari Dolo yaitu Sungai Bruno,” terang Hanafi.
Total penduduk yang tinggal di kawasan hutan ini mencapai 17 ribu jiwa. Paling tinggi ada di Desa Pagung, 5.523 jiwa. Sedangkan penduduk terpadat kedua adalah Desa Selopanggung, sebanyak 4.596 jiwa. Kemudian untuk Desa Kanyoran, jumlah penduduk di desa itu sebanyak 3.713 jiwa. Adapun untuk jumlah penduduk di Desa Joho adalah 3.440 jiwa.
Rata-rata, mereka adalah petani. Sebagian lagi adalah peternak lebah madu. Soal infrastruktur relatif terpenuhi. Seperti aliran listrik, yang hampir semua wilayah teraliri dari PLN.
Yang menjadi kendala di empat desa itu adalah akses tempat kesehatan. Dari empat desa itu, hanya Desa Pagung yang punya fasilitas kesehatan. Berupa puskesmas pembantu (pustu). Karena itu, andalan masyarakat bila ada gangguan kesehatan adalah bidan. Setelah itu baru ke puskesmas atau rumah sakit. Editor : Anwar Bahar Basalamah