Media cetak utama yang dipasarkan Bukana Armanto adalah Jawa Pos Radar Kediri. Suka-duka menjadi penjual koran sudah pasti dia dirasakan. “Lebih banyak sukanya. Informasi juga lebih banyak didapatkan dari membaca,” ujarnya riang.
Kana– panggilan akrabnya– mengatakan bahwa selama berjualan bisa berkenalan dengan banyak orang. Bertemu bermacam orang dan membicarakan sepatah dua patah kata. Meski hanya bertukar sapa, informasi menjadi lebih cepat dan lebih dulu ia dapatkan.
Baginya, menjadi loper atau agen koran itu juga menjadi sebagian hobinya yang “dibayar”. Karena tidak semua orang memiliki privilese untuk dibayar karena hobi. “Saya membaca itu juga sudah jadi hobi, dan juga sudah jadi kewajiban juga sih Mas,” ujarnya.
Dukanya, Kana sering diprotes oleh pelanggan karena datangnya koran telat. Meski sudah berkali-kali ia beritahu, jika kedatangan koran yang telat itu karena pengiriman, namun konsumen seperti tidak mau tahu. “Ya, tidak apa-apa. Sudah biasa juga ngobrol sama pembeli-pembeli,” imbuhnya.
Meski sering dikomplain karena telat, Kana juga menyadari, koran Jawa Pos Radar Kediri termasuk koran yang cepat habis dalam penjualannya. Saat ia menjadi loper, hingga kini mengurusi sebagian menjadi agen juga selalu, koran kebanggaan Kediri Raya itu yang membuatnya untung banyak.
“Sukanya lebih banyak kan Mas dari dukanya,” aku pria berambut gondrong tersebut sembari bercanda.
Selain keterlambatan, Kana tak pernah mengalami komplain lainnya. Seperti koran rusak karena kesalahannya. Baik basah, kotor, atau robek. “Alhamdulillah tidak pernah mengalami seperti itu. Koran yang datang, selain saya cek, saya pastikan juga tidak ada cacatnya sebelum kirim ke loper,” pungkasnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah