Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Santoso Berbagi Pengalaman Jadi Agen JPRK sejak 1995

Anwar Bahar Basalamah • Selasa, 12 Juli 2022 | 15:07 WIB
KENANGAN TAK TERLUPA: Santoso menunjukkan fotonya membawa koran Jawa Pos Radar Kediri yang dibingkai pigura di tokonya, Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota Kediri. (Foto: Habibah A. Muktiara)
KENANGAN TAK TERLUPA: Santoso menunjukkan fotonya membawa koran Jawa Pos Radar Kediri yang dibingkai pigura di tokonya, Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota Kediri. (Foto: Habibah A. Muktiara)
 Sudah puluhan tahun Santoso menjadi agen koran. Banyak asam garam pengalaman dicicipinya. Mulai jadi pengecer sampai punya ratusan loper.

Siang itu, toko di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota Kediri terlihat dijubeli pembeli. Mereka akan membeli peralatan tulis, buku, atau barang perlengkapan lainnya.

Di ambang pintu, sosok laki-laki duduk menghadap meja. Di ruangan itu juga terdapat anggota keluarga lainnya. “Masuk Mbak, silakan duduk,” ujarnya saat dikunjungi koran ini.

Laki-laki berkaus putih ini adalah Santoso, pemilik toko sekaligus agen koran Jawa Pos Radar Kediri (JPRK). Dibantu putranya, laki-laki 54 tahun ini menunjukkan beberapa foto saat kali pertama ia menjadi agen koran. Tepatnya pada 1995.

Sebelum menjadi agen koran, ternyata Santoso pernah jadi pengecer selama satu tahun. Kemudian, berkembang menjadi sub agen. Saat itulah ia ditawari jadi agen. Dia lalu membelinya dari Rais seharga Rp 15 juta. Ketika itu oplah koran dalam masa kejayaannya. “Pada tahun itu lopernya bisa sampai ratusan. Tapi, sekarang hanya 20 orang,” kenang suami Endang Prasetyo ini.

Waktu itu tokonya masih berada di ruang sempit. Penuh tumpukan koran hingga beragam majalah. Setiap hari ratusan loper bersepeda antre di depan tokonya. Dari banyak jenis surat kabar, menurut Santoso, koran Jawa Pos paling ditunggu. Jika pengiriman telat, loper masih mau menunggu. Namun jika koran lain terlambat, langsung ditinggal. “Ya karena koran Jawa Pos ini untungnya besar,” bebernya.

Berita paling mendongkrak oplah adalah kemenangan Persik Kediri. Tepatnya tahun 2003 dan 2006. “Omzetnya bisa naik dua kali, sekitar 500 eksemplar,” ungkap Santoso. Selain itu, penjualan meningkat saat ada pengumuman hasil ujian masuk perguruan tinggi negeri (PTN).

Pengalaman tak enak dirasakan Santoso adalah ketika jumlah lopernya berkurang. Selain itu, loper yang tidak jujur. “Titip barang namun tidak dibayarkan. Ini ada catatannya di buku,” ungkap ayah empat anak ini.

Jika dikumpulkan uangnya bisa untuk beli satu mobil baru. Karena terus kepikiran uang di buku itu, Santoso akhirnya membuang buku catatan titipan tersebut. Kini ia hanya punya 20 loper dan 12 pengecer. Meski begitu, ia tidak patah semangat jadi agen koran. “Toko saya buka setelah Subuh, pelanggan yang orang-orang tua ini datang beli koran,” tutur laki-laki kelahiran tahun 1967 itu. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #jawa pos radar kediri #berita terkini #seputar kediri #kediri #harmoni kediri #kediri hari ini #info kediri hari ini #info kediri #berita terbaru #koran radar kediri #info terbaru #loper koran radar kediri #agen koran radar kediri #agen koran #kecamatan kota kediri #info terkini #loper koran #jprk #pengecer koran #kediri lagi #berita kediri hari ini #berita kediri #kelurahan ngadirejo #Santoso #jawa pos #kabar kediri #kediri news