Saat masih duduk di bangku SMP, Suparman sudah mandiri. Ia menjadi loper koran. “Uangnya untuk tambahan jajan Mas. Sama membantu orang tua juga,” terangnya.
Selama itu pula, Suparman bekerja dengan hal yang disukai. Yaitu membaca. “Dari dulu, senang baca sekalian ngeloper dan baca berita di koran Mas,” ujarnya. Awalnya ia memang bukan mengedarkan koran Jawa Pos Radar Kediri. Kegiatan menjual korannya pun putus-nyambung.
Selama itu, Suparman mulai disiplin menabung. Hasil yang didapatkan dari loper koran dikumpulkannya. “Sampai menikah, baru membuka agen koran (Sakti) ini, bersama istri. Kalau tidak salah tanggal 15 Juli. Tiga hari setelah Jawa Pos Radar Kediri lahir,” ungkapnya bangga.
Usaha agen koran itu terus ia jalani bersama istri. Bahkan nama Sakti juga diambil dari nama istri tercintanya. Sebagai pengingat impiannya saat berbisnis koran itu ia lakukan dengan semangat.
Jatuh bangun dirasakan olehnya. Mulai dari jumlah kiriman koran yang kurang atau terlambat datang. Namun ia jalani dengan sungguh-sungguh sehingga semua terasa seperti beban yang berkurang.
“Seperti kalau ngambil kebanyakan itu sudah biasa. Makanya juga terus ikuti perkembangan zaman. Mau ambil berapa korannya, sebelum diberikan ke loper,” papar bapak tiga anak itu.
Seiring berkembangnya zaman, Suparman berharap, pembaca koran tidak berkurang. Selain membantu usaha, juga untuk media konvensional yang lebih faktual dan tepercaya. “Semoga Jawa Pos Radar Kediri bisa bersaing dan tetap menjadi yang terbaik di Kediri Raya,” pungkasnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah