KOTA, JP Radar Kediri- Keinginan membuat jalur barat yang menghubungkan daerah-daerah di lereng Gunung Wilis pada 2022 ini sudah pasti tak terwujud. Pemprov Jatim baru bisa merealisasikan rencana itu pada 2024 mendatang. Atau, setelah Bandara Kediri beroperasi.
Batalnya pembangunan jalur yang diberi nama Tunggal Rogo Mandiri-akronim dari daerah-daerah yang dilintasi-itu karena pandemi Covid-19. Anggarannya terkena refocusing.
“Melihat situasi sekarang, Jalan Selingkar Wilis ini kami targetkan bisa nyambung pada 2024-2025 mendatang,” kata Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, saat hadir dalam malam penganugerahan Radar Kediri Awards di Hotel Grand Surya (23/2) malam.
Emil menambahkan, saat ini proyek tersebut baru tersambung dari perbatasan Tulungagung ke batas Ponorogo melalui Trenggalek. “Segmen di Kabupaten Trenggalek memang paling pendek,” kata pria 37 tahun ini.
Karena prosesnya masih panjang, proyek ini tidak berhenti total. Masih ada yang tetap berjalan meski jumlahnya tidak bisa banyak. Ia pun belum bisa memastikan berapa persen proyek Jalan Wilis ini sudah dituntaskan.
Selain kendala biaya akibat dampak pandemi, mantan Bupati Trenggalek ini menyebut ada pekerjaan rumah yang masih harus diurus untuk menyambung jalur lingkar Wilis ini. Yakni wilayah milik Perhutani yang harus diurus perizinannya. Ia berharap dana alokasi khusus (DAK) bisa segera dikucurkan untuk pembenahan Jalan Selingkar Wilis.
Emil mengklaim pentingnya Jalan Selingkar Wilis itu untuk meningkatkan potensi di kawasan Gunung Wilis. “Pembangunan tidak lagi Surabaya sentris atau Malang sentris,” ungkap politisi Demoktrat ini. Dia menambahkan, pengembangan kawasan ini semakin baik setelah bandara di bangun di wilayah Kediri.
Menanggapi progres Tunggal Rogo Mandiri tersebut, Wali Kota Kediri Adbullah Abu Bakar menunggu kebijakan Pusat. “Kalau infrastruktur Kota Kediri sudah tidak bisa tambah akses jalan lagi. Nanti, keberadaan tol juga akan jadi penyambung antardaerah dari Tulungagung sampai Trenggalek,” ungkapnya.
Karena infrastrukturnya tidak bisa dikembangkan, Abu mengaku saat ini Kota Kediri sedang menggodok destinasi perdagangan dan penyangga pariwisata. Salah satunya adalah mempersiapkan sumber daya manusia dan tempat perdagangannya.
Dia menyebutkan, adanya Jalan Selingkar Wilis ini nantinya akan menambah wilayah pemasaran tenun ikat, kerajinan khas Kota Kediri. “Ada tempat untuk edukasi tenun. Meski menjadi wastra di Kota Kediri, basic-nya tetap perdagangan,” ujar Abu.
Untuk peningkatan potensi kawasan ini, Abu juga sudah berdialog dengan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana. Kedua tokoh muda itu berkomitmen saling melengkapi untuk menumbuhkan potensi wilayah di Kediri Raya. Disampaikan Abu, kedua wilayah ini harus saling menguntungkan. Atau bisa terjalin hubungan simbiosis mutualisme.
Sementara itu, di event Radar Kediri Awards, ada 41 penghargaan yang diberikan kepada instansi dan ketokohan personality (dara peraih selengkapnya di halaman 18, Red). Terkait event ini, Wagub Emil memberikan pujian. Sebab, peran media lokal seperti Jawa Pos Radar Kediri sangat penting untuk menumbuhkan iklim usaha serta pendidikan di satu wilayah.
Selain untuk mengangkat potensi yang ada juga ikut mendorong kemajuan daerah. “Sekarang sudah tidak Surabaya sentris, kita upayakan semuanya merata,” lanjut Emil. Dia pun mengapresiasi ketiga kepala daerah yakni Kota Kediri, Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Nganjuk.
Setiap daerah punya tantangan masing-masing. Maju mundurnya pemerintahan tidak lepas dari pemimpinnya. “Saya melihat Radar Kediri sudah sangat pas memetakan kondisi wilayah daerah,” lanjut Emil. Sebab itu, sinergitas tetap penting untuk mewujudkan daerah menjadi lebih baik.(rq/fud)
Editor : adi nugroho