KABUPATEN, JP Radar Kediri - Berawal dari keinginan memiliki lapangan untuk desa, Kepala Desa Wonoasri, Kecamatan Grogol Syaiful Bahri membangun Talasari. Nama Talasari sendiri merupakan kependekan dari Taman dan Lapangan Sukosewu Wonoasri.
“Tempat ini sudah dimulai dengan urugan sejak tahun 2015,” terang Syaiful saat presentasi di depan juri Anugerah Desa, kemarin.
Dana yang digunakan berasal dana desa dan dana partisipatif. Diakui Syaiful, besar harapan proyek Talasari ini bisa tuntas. Saat ini yang tersedia adalah tempat bermain, lapangan futsal, warung, musala, dan kamar mandi. Akan menyusul kolam renang. “Setelah kolam renang selesai, kami akan membuka tiket,” jelasnya.
Meski belum dibuka secara resmi, ternyata minat warga mendatangi Talasari cukup tinggi. Setiap minggu, area bermain selalu dipenuhi oleh masyarakat. Tak hanya dari Kediri, tetapi juga luar Kediri. Biasanya, jelas Syaiful, para warga tersebut memanfaatkan area kosong untuk kegiatan seperti senam atau kegiatan lainnya. Bahkan, dalam waktu dekat juga digelar car free day yang menjadi ajang olahraga dan rekreasi warga.
Syaiful menargetkan proyek Talasari ini bisa selesai dua hingga tiga tahun lagi. Selain tersedia kolam renang untuk anak-anak, balita, dan dewasa, Talasari juga akan diisi dengan panggung, pujasera, dan sejumlah fasilitas lainnya.
Potensi yang tinggi inilah yang selanjutnya membuat desa mengajukan program inovasi pengembangan Talasari ini ke Anugerah Desa. Kategori Pengelolaan Wisata menjadi pilihan pemerintah desa. “Semoga tahun ini ada pemenang atau nominator dari Grogol,” harap Syaiful.
Tak jauh dari keberadaan Talasari, Desa Grogol, Kecamatan Grogol juga mengajukan kampung jambu merah untuk Anugerah Desa 2019. Meski baru rintisan, peranan desa sudah terlihat. Dana sebesar Rp 7 juta dianggarkan untuk pembelian bibit jambu merah. “Bibit ini kami bagikan ke warga. Total ada 350 rumah yang mendapatkan bibit,” terang Kepala Desa Grogol, Kecamatan Grogol Sutiah.
Saat ini, bibit mampu tumbuh dengan baik. Warga pun sudah dua kali panen. Tak dijual. Sebab, pemerintah desa menargetkan perbaikan gizi dengan adanya buah jambu merah tersebut. “Semua dikonsumsi sendiri. Jambu merah kan sudah dikenal dengan banyak kandungan gizi,” terangnya.
Selanjutnya, harapannya, akan ada sentra jambu merah di satu lahan dan menjadi lokasi agrowisata petik jambu merah. “Saat ini lahan sedang kami siapkan. Target tahun depan sudah bisa bisa berjalan,” harapnya.
Editor : adi nugroho