KEDIRI KABUPATEN –Festival Layang-Layang Nasional dimulai pagi ini pagi tadi (22/7) sekitar pukul 08.00. Sejak kemarin puluhan peserta dari berbagai daerah mulai menjajal medan. Mereka mendeteksi cuaca dan arah angin sebelum menerbangkan layang-layang di lapangan dekat petilasan Sri Aji Jayabaya, Desa Menang, Kecamatan Pagu.
Seperti Nugroho, peserta asal Kebumen, Jawa Tengah misalnya. Dia mengutak-atik layang-layangnya agar bisa stabil di udara. Bentuknya unik. Layang-layang itu didesain berwujud raksasa sedang mengejar Timun Mas.
“Karena temanya Panji, saya buat layang-layang dengan cerita Timun Mas. Ceritanya kan dari kisah Budaya Panji,” terang pria 52 tahun ini.
Tak mudah menerbangkannya. Beberapa jam, Nugroho berkutat menaikkan dan menurunkannya untuk mencari pola tali goci layangan tersebut. Hal ini agar layangan stabil di angkasa.
Nugroho menerangkan, sebenarnya timnya sudah mencobanya di lapangan sekitar rumah di Kebumen, Kamis lalu (20/7). Namun setelah layangan siap dan dilipat untuk dibawa ke Kediri, tali goci yang sudah jadi bergeser. Itu membuat layang-layang tidak stabil lagi.
“Ya kudu sabar Mas. Saya di Kebumen kemarin (Kamis, Red) saja cari pola tali goci sehari baru ketemu Mas,” ungkap peserta yang berangkat ke Kediri pada Jumat dini hari sekitar pukul 02.00.
Tak hanya membenahi layang-layangnya, Nugroho dan timnya kemarin juga mengecek kecepatan angin menggunakan anemeter. Itu untuk menyesuaikan layangan jenis apa yang cocok diterbangkan di lokasi festival.
Karena, menurut Nugroho, setiap tempat berbeda kecepatan anginnya. “Kita lihat medannya juga Mas. Medan di gunung, pantai, maupun dataran rendah seperti Kediri ini pastinya kecepatan angin beda,” ungkapnya.
Terlebih mengetahui kecepatan angin ini untuk menyesuaikan kerangka layang-layang. Kalau tidak diketahui kecepatannya, saat telanjur dipasang kerangka kecil ternyata angin besar. Akibatnya, bisa gampang patah.
Tak hanya itu, desain layangan Nugroho kemarin terlihat kurang simetris. Sehingga tantangannya lebih besar untuk menerbangkannya. “Kalau simetris lebih mudah terbang Mas. Tapi kalau soal nilai juri, biasanya lebih besar tidak simetris tapi terbang stabil,” urainya.
Ketua Pelaksana Festival Layang-Layang Antuji H. Masroh menerangkan bahwa acara tingkat nasional ini merupakan rangkaian Pekan Budaya dan Pariwisata Festival Panji Nasional Kediri. Sejak kemarin, peserta datang dari Jogjakarta hingga Jakarta. Mereka akan memperebutkan hadiah total Rp 30 juta dari setiap kategori.
Festival ini terbuka untuk masyarakat. “Ayo buruan datang mulai pukul 08.00. Event layang-layang unik ini jarang ada di Kediri,” ujar manager Offprint Jawa Pos Radar Kediri ini.
Editor : adi nugroho