JP Radar Nganjuk– Kemeriahan dan antusiasme melingkupi SMAN 1 Kertosono pada Rabu (29/7). Ratusan siswa tampak bersemangat mengikuti gelaran Axis School Fest, sebuah ajang edukatif yang digagas melalui kolaborasi sinergis antara Axis, Radar Kediri (Jawa Pos Group), dan Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Wilayah Nganjuk.
Plt Kepala SMAN 1 Kertosono, Nurhadi, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya acara ini. Beliau berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan momen ini untuk menyerap ilmu baru yang bermanfaat bagi masa depan mereka.
Dukungan serupa disampaikan oleh Kasi SMA Cabdin Wilayah Nganjuk, Muheri Palwanto. Dalam sambutannya, Muheri menekankan pentingnya menguasai tantangan abad ke-21 yang membutuhkan kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi aktif.
Baca Juga: Tim Juri Pilih 10 Besar Sekolah Pemenang, Ikuti Final Party Festival Pelepasan Siswa Berbudaya 2026.
"Masa SMA adalah masa yang terbaik. Untuk membangun kolaborasi yang memberi efek luar biasa, kita dituntut untuk terus bersinergi dengan berbagai pihak," ujar Muheri.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya Digital Entrepreneurship dan pola pikir yang bijak dalam memanfaatkan teknologi. Dia tidak ingin generasi muda sekarang dikendalikan oleh algoritma digital.
Apresiasi juga datang dari Territory Sales Mobile Axis, Andika Pramana. Selain menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah, Andika mengaku bangga melihat kesadaran lingkungan para siswa SMAN 1 Kertosono. Seluruh peserta hadir dengan membawa tumbler (botol minum sendiri) dan tidak lagi menggunakan botol plastik sekali pakai.
Suasana semakin hidup saat masuk pada sesi materi yang dibawakan oleh Pemred Radar Kediri, Mahfud. Para siswa memanfaatkan kesempatan ini untuk berkonsultasi langsung mengenai dunia content creator.
Nirmala, salah satu siswi SMAN 1 Kertosono, melontarkan pertanyaan mengenai rahasia menaikkan jumlah views pada konten digital. Menjawab hal tersebut, Mahfud menjelaskan pentingnya konsistensi dalam mengunggah karya.
"Kuncinya adalah konsisten upload dan memperbanyak konten agar mudah terbaca oleh sistem dan algoritma digital. Buatlah konten yang bagus, menarik, serta mengangkat kearifan lokal seperti budaya dan kuliner," terang Mahfud.
Tak kalah kritis, siswa lainnya bernama Azahra menanyakan risiko menjadi pembuat konten, terutama dalam menghadapi ujaran kebencian (hate speech) dan komentar negatif di media sosial.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Mahfud memberikan pesan lugas namun menenangkan. "Tutup telinga, tutup mata dari komentar destruktif. Yang paling penting dan utama, pastikan konten yang kita upload tidak melanggar Undang-Undang ITE," tegasnya.
Melalui kegiatan ini, para siswa SMAN 1 Kertosono diharapkan tak hanya makin mahir memanfaatkan media digital secara kreatif, namun juga bijak dan beretika dalam berkarya.(*)
Editor : Mahfud