KEDIRI, JP Radar Kediri- Aksi cepat ratusan relawan melakukan bersih-bersih sungai, dalam puncak rangkaian Kediri River Expedition 2026 kemarin berhasil memermak wajah Sungai Kedak.
Sungai yang semula penuh sampah itu bersih setelah Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, pejabat forkopimda, dan para relawan lintas komunitas turun tangan kemarin pagi (26/6).
Total ada 2,28 ton sampah yang diangkut.
Aksi massal untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia itu diharapkan jadi pemantik pelestarian sungai yang lebih masif lagi ke depannya.
Di aliran sungai yang ada di Kelurahan Bujel gang 4 itu, ada banyak sampah di bawah jembatan dan tepi sungai.
Wali Kota Vinanda yang tiba di lokasi sekitar pukul 07.00, langsung memberi arahan kepada relawan. Sejurus kemudian mereka langsung masuk ke sungai dan melakukan aksi bersih-bersih.
Selain mengumpulkan dan mengangkut sampah, mereka juga melakukan restocking atau menebar benih ikan lokal jenis tawes ke Sungai Kedak.
Sedikitnya ada 7 ribu benih ikan yang ditebar untuk memulihkan kembali populasi ikan lokal itu di ekosistem Sungai Kedak dan di Sungai Brantas.
“Kerja bakti sama-sama ini untuk membangkitkan kembali kesehatan sungai. Karena hasil ekspedisi sungai dari Radar Kediri di enam titik, ternyata seluruhnya tercemar. Ada dua kategori, tercemar berat dan tercemar sedang. Dan Sungai Kedak ini tergolong tercemar sedang,” ujar Vinanda.
Karenanya, melalui aksi kemarin, diharapkan sungai yang membelah Kecamatan Mojoroto itu bisa diselamatkan dari pencemaran yang berkepanjangan.
Pelestarian sungai menurut Vinanda sangat penting. Tak hanya bagi kelangsungan ekosistem, melainkan juga masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
“Jangan sampai nanti masyarakat yang kehidupan sehari-harinya bergantung pada sungai, tapi karena sungainya tercemar ini akan mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat,” lanjutnya.
Vinanda juga berharap, kegiatan seperti ini tidak berhenti begitu saja. Melainkan bisa memantik kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap kelestarian sungai. Khususnya masyarakat yang tinggal di bantaran sungai.
Dalam kesempatan kemarin, wali kota termuda itu juga mengapresiasi upaya Jawa Pos Radar Kediri yang telah menginisiasi ekspedisi sungai ini bersama akademisi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri.
“Nantinya jangan sampai masyarakat masih membuang sampah sembarang di sungai. Harapannya ini bisa jadi upaya kita bersama untuk meningkatkan komitmen menjaga kelestarian sungai,” tuturnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri Indun Munawaroh menambahkan, ada 700 orang yang dilibatkan dalam aksi massal itu.
Mereka terdiri dari organisasi perangkat daerah (OPD), pelajar dan mahasiswa, aktivis penggerak lingkungan, hingga prajurit TNI dan brigade mobil (brimob).
Dari sekitar 200 meter luas area yang dibersihkan, total ada 2,28 ton sampah yang berhasil diangkat dari Sungai Kedak.
“Kami ingin mengedukasi masyarakat, memberikan contoh baik, bahwa seperti yang disampaikan Mbak Wali, kita tidak butuh langkah-langkah besar. Tetapi cukup langkah-langkah kecil yang kita wujudkan menjadi kenyataan,” ujar Indun.
Sementara itu, Direktur Jawa Pos Radar Kediri Kurniawan Muhammad mengatakan, Kediri River Expedition
2026 diselenggarakan Radar Kediri Institute sebagai respons atas keprihatinan terhadap kondisi sungai-sungai urban di Kota Kediri.
Bekerjasama dengan prodi Biologi UNP Kediri, tim melaksanakan ekspedisi selama kurang lebih 10 hari. Dengan sasaran penelitian di enam lokasi sungai.
“Ekspedisi yang kami lakukan ini bukan sekadar mengumpulkan data. Tetapi ibaratnya kami ini sedang melakukan rekam medis terhadap urat nadi kehidupan kota yang kondisinya perlu kita perhatikan bersama-sama,” ujarnya.
Lewat penelitian yang menggabungkan pendekatan biologi, kimia, dan fisika itu, disimpulkan bahwa seluruh sungai yang diteliti status kesehatannya sedang tidak baik-baik saja.
Ada yang dinyatakan tercemar sedang, dan ada yang tercemar berat.
Mayoritas ancaman sungai itu berasal dari kontaminasi limbah domestik yang berkepanjangan.
“Karena itu, tanggung jawab sungai bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja. Tetapi ini tanggung jawab kita bersama,” tandasnya, berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi gerakan moral bersama serta jembatan bagi empati menuju aksi nyata.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, aksi bersih sungai kemarin disambut antusias peserta. Salah satunya Dinda Ainun, relawan dari Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Pelita UNP Kediri.
Gadis yang akrab disapa Ainun itu mengaku terpanggil untuk ikut turun ke sungai atas dasar kemanusiaan.
“Sangat seru bisa ikut kegiatan ini. Karena di tahun-tahun sebelumnya, setiap tahun saya juga selalu mengikuti kegiatan bersih sampah di Sungai Kedak. Tapi ini termasuk kegiatan yang besar dengan banyak relawan yang terlibat,” katanya.
Dia berharap, kelestarian alam bisa terjaga melalui upaya seperti ini. Khususnya Sungai Kedak yang masih banyak dipenuhi sampah.
Mahasiswa semester 8 itu pun mengaku prihatin dengan pemandangan itu.
“Sampah-sampah yang ada di sungai ini tadi beraneka ragam, ya. Mulai dari pampers bayi sampai baju-baju yang dibuang begitu saja. Dan ini jadi pengingat bagi kami, khususnya pecinta alam, untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” tandas Ainun.
Editor : Andhika Attar Anindita