JP Radar Kediri- Selesai mengidentifikasi berbagai permasalahan di sejumlah sungai Kota Kediri, Kediri River Expedition 2026 menggandeng berbagai pihak untuk turun langsung menyelamatkan ekosistemnya.
Pagi ini (26/6), Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati bersama sekitar 700 relawan akan turun langsung membersihkan Sungai Kedak yang penuh sampah.
Aksi bersih sungai akan berlangsung di Sungai Kedak Kelurahan Bujel Gang 4 dan Kelurahan Mojoroto Gang 7.
Ratusan relawan dari unsur pemerintah, akademisi, pelajar, hingga aktivis dan pecinta lingkungan akan bersama-sama membersihkan sungai sebagai wujud penyelamatan lingkungan.
Untuk diketahui, Radar Kediri Institute– lembaga litbang milik Jawa Pos Radar Kediri– bersama akademisi dari Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri telah melaksanakan ekspedisi selama 2 - 4 Juni lalu.
Dalam ekspedisi itu, tim mengunjungi enam titik sungai dan aliran anak sungai di kawasan urban Kota Kediri.
Lokasi ekspedisi mulai dari aliran Sungai Kedak di wilayah Kelurahan Mojoroto, anak Sungai Kedak di Jalan Tambora. Kemudian, Sungai Parung di Kelurahan Kaliombo dan Kampungdalem, anak Sungai Tawang di Kelurahan Singonegaran. Serta Sungai Kresek yang melintas di Lingkungan Ngadisimo, Kelurahan Dandangan dan di Kelurahan Banjaran.
Hasilnya, semua titik yang didatangi tim memiliki status kesehatan antara tercemar sedang hingga tercemar berat.
Jejak pencemaran dan degradasi lingkungan itu juga ditemukan hampir merata dari hulu hingga ke hilir sungai yang seluruhnya bermuara di Sungai Brantas.
Menindaklanjuti berbagai temuan itu, pagi ini dilakukan aksi bersih-bersih Sungai Kedak. Pemilihan lokasi menimbang hasil observasi dan penelitian yang dilakukan selama ekspedisi sungai.
“Dari hasil ekspedisi, Sungai Kedak dianggap masih memiliki modal kondisi kesehatan lingkungan yang lebih baik dibanding lokasi observasi lainnya. Dan ikan-ikan lokal juga masih cukup banyak ditemui di sana,” ujar Direktur Operasional Radar Kediri Institute (RKI) Andhika Attar Anindita.
Selain pembersihan secara massal, Wali Kota Vinanda dan relawan juga akan melakukan restocking ikan lokal.
Ribuan benih ikan lokal akan ditebar di aliran sungai untuk membantu memulihkan ekosistem perairan di sana. Salah satu benih ikan yang ditebar adalah ikan tawes.
Koordinator Wild Water Indonesia (WWI) Kediri Bima Nuryawan mengatakan, ikan tawes termasuk jenis ikan lokal dan endemik yang banyak ditemui di sungai-sungai wilayah Kediri.
Pemilihan jenis ikan ini untuk kegiatan restocking juga karena benih ikannya yang relatif mudah didapatkan serta daya hidupnya di alam yang relatif tinggi.
“Menebar ikan di perairan umum memang tidak boleh sembarangan. Harus ikan lokal, syukur-syukur ikan endemik. Ikan lokal pun kalau secara historis tidak ditemukan di perairan itu juga sebenarnya tidak boleh,” terang Bima terkait aturan penebaran ikan di perairan umum yang relatif ketat.
Bima memaklumi beberapa upaya menebar ikan di perairan itu bertujuan baik. Namun, praktiknya benar-benar harus diawasi. Jangan sampai tindakan itu justru membawa kerusakan bagi ekosistem perairan.
“Masih banyak oknum-oknum yang menebar ikan invasif. Contohnya, ikan peacock bass, nila, red devil, atau ikan-ikan hias yang sudah tidak senang terus dibuang ke sungai itu tidak boleh,” tandasnya.
Editor : Mahfud