JP Radar Kediri- Pelestarian sungai adalah tanggung jawab bersama. Hal itu pula yang selalu disuarakan para pegiat pelestarian sungai di Kediri.
Masih maraknya aktivitas yang berpotensi mengganggu ekosistem sungai jadi sorotan utama para aktivis lingkungan ini.
Seperti yang diungkapkan koordinator komunitas Wild Water Indonesia (WWI) Kediri Bima Nuryawan.
Menurutnya, sungai-sungai di Kediri masih dihadapkan dengan berbagai tantangan. Di antaranya, maraknya illegal fishing hingga pencemaran sungai dari sampah maupun limbah.
“Sekarang illegal fishing itu sembunyi-sembunyi. Dibanding 6 atau 7 tahun yang lalu, memang sudah ada progres. Banyak masyarakat yang mulai peduli. Tapi memang masih perlu ditingkatkan lagi edukasi untuk gerakan pelestarian perairan,” katanya.
Praktik illegal fishing menurut Bima banyak ditemui di aliran sungai produktif. Salah satunya di Sungai Brantas.
Beberapa masyarakat menangkap ikan dengan cara diracun dan disetrum. Perbuatan itu dapat berdampak pada terganggunya ekosistem perairan.
“Kalau disetrum, ikan jadinya mandul. Kalau diracun, yang mati bukan hanya ikan besar. Tapi semua, termasuk yang masih kecil. Dan tanaman di sekitarnya juga akan terganggu,” tandas aktivis lingkungan yang getol dengan pelestarian perairan di Kediri itu.
Selebihnya, ancaman sungai juga masih datang dari sampah. Banyaknya sampah yang dibuang ke perairan bisa berdampak luas.
Misalnya, sampah plastik dan popok sekali pakai yang masih banyak ditemui di aliran sungai.
“Sampah plastik ini sangat sulit terurai di tanah maupun air. Contoh pampers, kalau dimakan ikan, dampaknya ke kontaminasi mikroplastik. Ikan-ikan yang tercemar mikroplastik otomatis tidak layak untuk dikonsumsi,” terang Bima.
Dampak kerusakan menurut Bima juga tidak hanya pada ikan saja. Melainkan seluruh penghuni ekosistem sungai ikut terdampak akibat pencemaran.
Karenanya, WWI selalu menggencarkan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga pelestarian sungai.
“Dan edukasi pelestarian sungai itu tidak bisa hanya seremoni. Melainkan harus sustainable. Karena kalau tidak ada keberlanjutan, ya sama saja. Selesai diedukasi, tanpa ada tindaklanjut, orang-orang yang suka melanggar hukum ini akan berjalan terus,” bebernya.
Untuk diketahui, upaya pelestarian sungai juga menjadi atensi Jawa Pos Radar Kediri.
Tahun ini, JP Radar Kediri melalui Radar Kediri Institute menggelar Kediri River Expedition 2026. Ekspedisi sungai ini menyasar sejumlah aliran sungai di kawasan urban Kota Kediri.
Di sana, tim bersama akademisi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri melakukan observasi dan penelitian untuk melihat kondisi riil sungai-sungai di Kota Kediri.
Rencananya, rangkaian ekspedisi itu akan ditutup dengan aksi bersih sungai atau clean up di aliran Sungai Kedak di Kecamatan Mojoroto.
Aksi itu akan melibatkan aktivis lingkungan, pelajar, hingga tokoh pemerintah di lingkungan Kota Kediri.
Editor : Mahfud