Ekspedisi sungai yang digelar Radar Kediri Institute (RKI)- lembaga litbang milik Jawa Pos Radar Kediri- bersama akademisi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, membuka kesadaran masyarakat tentang kondisi nyata sungai di Kota Kediri. Khususnya sungai yang melintas di kawasan urban.
Ekspedisi ini juga mengungkap fakta masih minimnya pengawasan terhadap sungai. Sungai masih dianggap layaknya ‘halaman belakang’ rumah yang tak begitu terurus.
Bagi sebagian orang, kondisi itu dimanfaatkan untuk perilaku yang merusak. Seperti membuang limbah domestik maupun industri langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu.
Hingga sungai tak ubahnya tempat sampah panjang yang tiada ujungnya.
Pemandangan orang yang dengan entengnya melempar kantong-kantong berisi sampah dari atas jembatan menjadi umum ditemui.
Seolah tanpa rasa berdosa, dia berlalu begitu saja. Persoalan sampah rumah tangganya dianggap sudah selesai saat mereka membuangnya ke sungai.
Padahal, sampah itu tidak hilang begitu saja. Tapi berkumpul di ujung aliran maupun di bibir-bibir sungai.
Menjadi masalah baru bagi ekosistem sungai maupun orang-orang yang tinggal di hilirnya.
“Nomor satu adalah, warga harus diedukasi terus menerus. Edukasi tulisan sudah tidak mempan. Maka lakukan edukasi tindakan,” pinta dosen Program Studi Pendidikan Biologi UNP Kediri Tutut Indah Sulistiyowati, anggota tim Kediri River Expedition 2026.
Selain itu, perlu ada tindakan tegas bagi pelanggar aturan pelestarian lingkungan. Tutut menyebut, itu menjadi tugas pemerintah untuk memberikan sanksi tegas.
Sehingga upaya menjaga kelestarian sungai ini tidak hanya berhenti pada imbauan saja.
“Pemerintah itu tidak harus DLHKP (dinas lingkungan hidup, kebersihan, dan pertamanan, Red) saja, tapi RT dan kelurahan setempat. Beri tindakan tegas. Bukan hanya hukuman, tapi juga imbalan bagi yang melakukan kegiatan berpengaruh terhadap sungai,” sambung peneliti ekologi tersebut.
Sebagai usulan strategis, Tutut menilai patroli sungai bisa jadi salah satu opsi pengawasan.
Sebagaimana jalan-jalan protokol yang selalu dibersihkan setiap hari oleh petugas, juga harus diterjunkan petugas untuk memantau dan membersihkan sungai di kawasan urban Kota Kediri.
“Jadi kalau di Kota Kediri kan taman-taman dan jalan-jalan protokol selalu resik karena ada yang nyapuin, sehari bisa 2 - 3 kali. Tapi di sungai belum,” katanya.
Usulan itu salah satunya terinspirasi dari temuan di lapangan. Di salah satu titik ekspedisi, tim menemukan satu aliran sungai yang status kesehatannya termasuk kurang sehat dan tercemar sedang.
Namun, di kawasan tersebut justru sangat minim ditemukan sampah plastik.
“Sungai itu waktu kami datangi terlihat bersih dari sampah plastik, rupanya karena ada petugas yang memunguti sampah plastiknya,” ungkapnya, terkait upaya inisiatif yang dilakukan pihak swasta tersebut di aliran Sungai Kresek di Kelurahan Dandangan, Kota Kediri.
Oleh karena itu, dia menilai langkah serupa bisa mulai diterapkan di aliran sungai lainnya.
Khususnya yang banyak ditemui tumpukan sampah hingga ledakan tumbuhan air yang tak terkendali.
Untuk diketahui, ekspedisi sungai telah dilaksanakan selama 2 - 4 Juni lalu. Tim ekspedisi menyasar enam titik sungai dan aliran anak sungai di wilayah urban Kota Kediri.
Yaitu aliran Sungai Kedak di wilayah Kelurahan Mojoroto, anak Sungai Kedak di Jalan Tambora. Kemudian, Sungai Parung di Kelurahan Kaliombo dan Kampungdalem, anak Sungai Tawang di Kelurahan Singonegaran.
Serta Sungai Kresek yang melintas di Lingkungan Ngadisimo, Kelurahan Dandangan dan di Kelurahan Banjaran.
Secara umum, tim ekspedisi menemukan jejak pencemaran yang merata dari hulu hingga hilir sungai di kawasan urban Kota Kediri.
Kondisi sungai yang semakin mengalami degradasi itu dinilai melalui beberapa metode penelitian. Menggabungkan parameter biologi, fisika, dan kimia.
Editor : Mahfud