Status kesehatan sungai, yang juga biasa disebut kali, tidak hanya ditentukan dari kontaminasi zat pencemar. Kondisi fisik juga punya andil menentukan apakah sungai masuk kategori sehat, kurang sehat, atau tidak sehat. Itu terungkap dari hasil Kediri River Expedition 2026 oleh Radar Kediri Institute (RKI) bersama Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri.
Banyak faktor yang memengaruhi kondisi kesehatan aliran sungai. Hasil ekspedisi sungai yang dilakukan Jawa Pos Radar Kediri bersama UNP Kediri mengungkap beberapa fakta.
Selama tiga hari mendatangi beberapa titik aliran sungai dan anak sungai menunjukkan bahwa kondisi alami penunjang kelestarian sungai di Kota Kediri.
Hal itu turut memengaruhi status kesehatan sungai tersebut.
Untuk diketahui, ekspedisi sungai dilaksanakan selama 2 - 4 Juni lalu. Tim ekspedisi menyasar enam titik sungai dan aliran anak sungai di wilayah urban Kota Kediri.
Yaitu aliran Sungai Kedak di wilayah Kelurahan Mojoroto, anak Sungai Kedak di Jalan Tambora, Sungai Parung di Kelurahan Kaliombo dan Kampungdalem, anak Sungai Tawang di Kelurahan Singonegaran, serta Sungai Kresek yang melintas di Lingkungan Ngadisimo, Kelurahan Dandangan dan di Kelurahan Banjaran.
Hasilnya, status kondisi kesehatannya itu bervariasi. Dari kurang sehat hingga tidak sehat.
Yang mengejutkan, aliran sungai yang sekilas masih jernih justru dinyatakan tidak sehat.
Seperti contoh aliran Sungai Kresek di Kelurahan Banjaran. Tepatnya di depan SMAN 8 Kediri.
“Lebar sungai, debit air, dan arus sungai juga memberikan pengaruh terhadap kondisi kesehatan sungai. Makin lebar sungai dan makin deras arusnya, akan mendukung kondisi kesehatan sungai,” ungkap dosen Program Studi Pendidikan Biologi UNP Kediri Tutut Indah Sulistiyowati.
Itu menunjukkan bahwa menilai kondisi sungai tak cukup hanya dari satu perspektif saja.
Pengujian harus dilakukan dengan menimbang berbagai parameter. Mulai dari biologi, fisika, hingga kimia.
Selain itu, kondisi kesehatan sungai juga ditentukan dari vegetasi atau tanaman air di sekelilingnya. Jika beberapa aspek tersebut tidak ditemui, pun dengan pencemaran yang konsisten terus terjadi, maka ekosistem sungai akan semakin rusak.
Seperti contoh yang terjadi di aliran anak Sungai Kedak. Tepatnya di Jalan Tambora, Kelurahan Bandarlor.
“Sungai itu akan kehilangan fungsi sebagai sungai. Sungai seharusnya memiliki fungsi ekologis minimal untuk pengairan. Namun dengan kondisi seperti itu justru akan berdampak racun,” terang Tutut terkait kondisi anoksik atau reduktif parah di aliran Jalan Tambora.
Karena kondisi aliran sungai yang sudah mengalami pembusukan, maka upaya pemulihannya pun menjadi lebih sulit.
Sebab, badan sungai sudah dipenuhi endapan. Sementara tanaman liar memenuhi permukaannya.
“Untuk pemulihan aliran yang sudah seperti itu memang butuh kerja sama banyak pihak. Karena sudah mulai penyempitan juga. Terus banyak tumbuhan liar dan itu nanti kalau musim hujan pasti air meluap. (Jika banjir) bawa penyakit,” sambungnya.
Keadaan fisik alami sungai seperti itu juga memengaruhi kemampuannya dalam melakukan self-purification.
Yakni kemampuan alami ekosistem perairan untuk memulihkan atau membersihkan dirinya sendiri dari zat pencemaran. Kontur sungai itu akan menentukan apakah air dapat mengalir dengan lancar atau tidak.
“Dengan adanya riak air itu mampu memulihkan yang kotor-kotor,” pungkas peneliti ekologi tersebut. (ayu isma/fud)
Editor : Andhika Attar Anindita