Dari hasil Kediri River Expedition 2026, pada umumnya semua aliran sungai masih punya harapan untuk diselamatkan. Namun, ada satu aliran sungai yang menarik perhatian tim ekspedisi. Jejak resiliensinya memberi harapan sekaligus warning bagi masyarakat untuk segera mengambil langkah penyelamatan sungai!
Perjalanan ekspedisi sungai yang dilaksanakan Radar Kediri Institute (RKI)- lembaga litbang milik Jawa Pos Radar Kediri- bersama akademisi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri mengarah pada kesimpulan yang beragam.
Ada yang termasuk dalam kategori tercemar berat atau kritis. Ada pula yang statusnya tercemar sedang atau kategori warning.
Namun, dari enam titik pengujian, ada satu kesamaan yang tak terelakkan: tak ada sungai yang benar-benar sehat di Kota Kediri.
Untuk diketahui, ekspedisi sungai telah dilaksanakan selama 2 - 4 Juni lalu. Tim ekspedisi menyasar enam titik sungai dan aliran anak sungai di wilayah urban Kota Kediri.
Yaitu aliran Sungai Kedak di wilayah Kelurahan Mojoroto, anak Sungai Kedak di Jalan Tambora, Sungai Parung di Kelurahan Kaliombo dan Kampungdalem, anak Sungai Tawang di Kelurahan Singonegaran, serta Sungai Kresek yang melintas di Lingkungan Ngadisimo, Kelurahan Dandangan dan di Kelurahan Banjaran.
Meski hasilnya tak menggembirakan, harapan untuk menyelamatkan sungai itu masih ada. Seperti contoh, Sungai Kedak yang berdasarkan hasil pengujian secara keseluruhan, menunjukkan adanya jejak resiliensi atau daya tahan lingkungan yang tinggi.
“Di antara semua titik yang masuk kategori tercemar berat, Sungai Kedak memiliki skor kondisi kesehatan tertinggi, yaitu 2 atau kurang sehat. Artinya, secara ekologis struktur komunitas makroinvertebrata di Sungai Kedak belum sepenuhnya hancur, masih ada resiliensi biologis lokal yang tersisa,” ujar dosen Program Studi Pendidikan Biologi UNP Kediri Tutut Indah Sulistiyowati.
Kondisi itu juga didukung hasil analisis karakteristik fisika-kimia yang menunjukkan nilai lebih baik dari lokasi lain. Hasil pengujian dengan parameter oxidation-reduction potential (ORP) menunjukkan angka 141 mV.
Pengujian ini memberikan gambaran konkret tentang tingkat pencemaran di sungai.
Meski demikian, nilai itu masih tergolong rendah untuk standar air permukaan yang sehat alami, yang idealnya berada di angka 150 – 300 mV.
“Angka ini menunjukkan bahwa Sungai Kedak masih ada pasokan oksigen untuk pembongkaran limbah secara alami. Airnya belum busuk, beban polutan juga masih agak-agak ringan dibanding yang lain,” terang peneliti ekologi tersebut.
Sayangnya, sungai yang berhulu di lereng Gunung Wilis ini terus menghadapi ancaman yang tak ada habisnya. Utamanya dari pencemaran sampah dan limbah domestik.
Berbagai sampah rumah tangga seperti plastik, popok bayi sekali pakai, hingga styrofoam banyak ditemui di sepanjang alirannya. Itu belum termasuk limpahan sampah organik seperti rumpun bambu dan kayu yang banyak terbawa dari hulu sungai.
Ancaman pencemaran itu juga belum termasuk limbah cair domestik yang mengancam ekosistem sungai. Limbah itu terbawa aliran anak sungai hingga menimbulkan bau menyengat di waktu-waktu tertentu.
“Sungai ini termasuk masih banyak ditemui ikan-ikan endemik. Itu juga yang harus kita jaga,” tandas Tutut, soal sungai yang bermuara di Sungai Brantas tersebut. (ayu isma/fud)