Temuan tim ekspedisi sungai menunjukkan potensi pencemaran di aliran sungai semakin besar. Utamanya yang berasal dari limbah domestik. Jejak limbah dari rumah tangga di antaranya banyak ditemui di sungai kawasan urban.
Jejak pencemaran di sungai-sungai kawasan urban Kota Kediri tidak hanya terlihat pada kehidupan organisme di dalamnya saja. Melainkan juga dari temuan zat yang terlarut di aliran sungai.
Dalam Kediri River Expedition 2026 yang digelar Radar Kediri Institute (RKI)—lembaga litbang milik Jawa Pos Radar Kediri—bersama akademisi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri selama 2 – 4 Juni lalu, ada beberapa metode pengujian yang dilakukan.
Salah satunya pengujian dengan parameter kimia sederhana untuk menguji kandungan garam yang terlarut.
Secara khusus, tim ekspedisi menyoroti adanya temuan anomali lonjakan kadar garam yang tinggi di beberapa titik ekspedisi.
Untuk diketahui, ekspedisi sungai itu menyasar enam titik aliran sungai dan anak sungai di Kota Kediri. Yaitu, aliran Sungai Kedak di wilayah Kelurahan Mojoroto, anak Sungai Kedak di Jalan Tambora, Sungai Parung yang mengalir di Kelurahan Kaliombo dan Kampungdalem. Kemudian, anak Sungai Tawang di Kelurahan Singonegaran, serta Sungai Kresek yang melintas di Lingkungan Ngadisimo, Kelurahan Dandangan dan di Kelurahan Banjaran.
Temuan lonjakan kadar garam yang sangat tajam itu ditemukan di dua lokasi. Yakni di aliran Sungai Parung yang mengalir di Kelurahan Kaliombo dan Kampungdalem dengan nilai 1002 ppm.
Serta di Sungai Kresek yang melintas di Lingkungan Ngadisimo, Kelurahan Dandangan dengan nilai 1002 ppm.
“Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan empat titik lainnya yang berada di kisaran 248 – 378 ppm,” kata dosen Program Studi Pendidikan Biologi UNP Kediri Tutut Indah Sulistiyowati.
Tutut mengatakan, tingginya nilai salt di dua titik itu mengindikasikan adanya kontaminasi spesifik yang mengandung klorida, natrium, atau garam-garam mineral tinggi. Dugaan terbesarnya berasal dari limbah domestik.
“Seperti detergen atau limbah cair dari aktivitas rumah tangga lainnya. Namun bisa juga dari sisa pupuk. Biasanya lonjakan garam itu diakibatkan karena adanya kontaminasi klorida, natrium, dan garam mineral tinggi,” terang peneliti ekologi tersebut.
Tutut menuturkan, anomali kadar garam itu sebenarnya sudah bukan termasuk fenomena langka.
Lonjakan kadar garam juga sudah banyak ditemukan di aliran anak Sungai Brantas lainnya seperti di sungai-sungai Surabaya, hingga sungai di Jawa Barat dan Jakarta seperti Sungai Ciliwung.
“Temuan ekspedisi kemarin soal lonjakan salt itu menjadi menarik karena kan sungai-sungai itu berdekatan, ya. Jadi kondisi iklim kan sama. Tapi mengapa ada dua sungai yang lonjakannya besar sekali. Sedangkan empat yang lain masih dalam ambang normal,” terangnya.
Adapun klasifikasi air berdasarkan kadar salt atau salinitas itu disebut ideal untuk air tawar alami jika berada pada rentang kurang dari 500 ppm. Sedangkan ambang batas air tawar berada pada kisaran 500 – 1000 ppm.
“Di rentang itu, air masih dalam kategori tawar, meski sudah mulai mengalami pengayaan mineral atau awal masuknya polutan eksternal,” jelas Tutut.
Sedangkan di atas 1000 ppm sudah masuk kategori air payau. Dengan kondisi aliran sungai yang jauh dari pantai, temuan itu tentu menjadi anomali.
Artinya, jika kondisi itu ditemukan di sungai yang jaraknya jauh dengan pantai, maka bisa disimpulkan telah terjadi pencemaran lingkungan di sana.
“Dampak ekologisnya, bisa terjadi stress osmotic pada biota. Artinya, akan banyak larva serangga sensitive atau EPT yang gagal metamorfosis,” tandas Tutut, sehingga keberagaman biota air juga semakin terancam. (ayu isma/ut)
Editor : Ayu Ismawati