Pencemaran yang terjadi terus menerus tidak hanya berdampak kepada manusia. Melainkan juga kehidupan di sungai. Organisme penghuni sungai semakin ‘sesak napas’ karena oksigen yang semakin menipis.
Hasil Kediri River Expedition 2026 yang diselenggarakan Radar Kediri Institute (RKI)—lembaga litbang milik Jawa Pos Radar Kediri—bersama akademisi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri juga mengungkap fakta baru.
Yakni, mayoritas sungai-sungai di Kota Kediri tak lagi mampu jadi ruang hidup yang mendukung bagi organisme air. Salah satunya karena aliran sungai semakin kekurangan oksigen.
Pemicunya bisa dari beberapa hal. Seperti dari aktivitas ionik dan total dissolved solids (TDS) atau padatan terlarut. Dari enam titik yang diuji tim ekspedisi sungai, nilai TDS berkisar 504 – 670 mg/L.
Dengan temuan angka tertinggi itu ada di aliran anak Sungai Kedak di Jl Tambora, Kelurahan Bandarlor, Kecamatan Mojoroto.
“Tingginya konsentrasi padatan terlarut ini menjadi indikator kuat adanya akumulasi limbah domestik, limpasan permukaan, atau limbah industri ringan,” terang dosen Program Studi Pendidikan Biologi UNP Kediri Tutut Indah Sulistiyowati.
Kondisi itu dapat memicu penurunan kualitas air secara drastis. Akibatnya, kehidupan biota air juga terancam karena kadar oksigen terlarut yang menurun signifikan.
Secara konsisten, hal itu juga bisa memicu pendangkalan sungai yang bisa berujung pada banjir jika terjadi peningkatan debit air.
Secara kasat mata, aliran sungai yang berada di kawasan pendidikan itu memang nampak keruh kehitaman. Selain itu, bau menyengat juga menyeruak dari saluran tersebut.
Meski hanya saluran atau anak sungai, namun kondisi itu tidak bisa disepelekan. Sebab saluran itu mengalir menuju Sungai Kedak yang selanjutnya bermuara di Sungai Brantas.
“Penurunan kualitas sungai ini juga dilihat dari nilai ORP atau oxidation-reduction potential. Parameter ORP ini memberikan gambaran paling kritis mengenai tingkat pencemaran biologis dan higienitas perairan di lokasi-lokasi ini,” terang Tutut.
Pengujian terhadap kemampuan sungai dalam menguraikan zat pencemar itu menunjukkan hasil yang beragam.
Peneliti ekologi itu secara khusus menyoroti aliran anak Sungai Kedak tersebut yang mendapat skor negatif. Tak tanggung-tanggung, nilai ORP-nya mencapai -263 milivolt (mV).
“Angka negatif yang sangat besar ini adalah indikasi kuat bahwa air di lokasi ini mengalami pembusukan anaerobic yang parah. Air kekurangan oksigen, kaya akan elektron yang bersifat reduktif, dan kemungkinan besar ditandai dengan aroma busuk akibat pembentukan gas hidrogen sulfida atau ammonia,” terangnya.
Sedangkan di titik lain, nilai ORP-nya mendekati nol. Seperti di aliran Sungai Kresek di Ngadisimo, Kelurahan Dandangan, serta di anak Sungai Tawang di Kelurahan Singonegaran.
Nilai ORP yang mendekati nol itu juga membuat kadar oksigen di aliran sungai cukup rendah. Selain karena kontaminasi limbah domestik, kondisi itu juga dipicu lemahnya kemampuan sungai untuk membersihkan dirinya sendiri, atau self-purification. Yang itu juga dipengaruhi kondisi fisik sungai seperti panjang dan lebar alirannya.
“Jadi misal kemiringannya cukup tinggi, dia bisa membuat riak. Riaknya ini bisa memulihkan yang kotor-kotor itu sebenarnya. Makanya terkadang diakali oleh orang-orang, bagaimana supaya sungainya tidak terlalu jorok dengan membuat undak-undakan supaya sedikit ada saringannya,” beber Tutut.
Selain itu, pembiaran terhadap endapan dan sedimentasi sungai juga bisa memicu sungai semakin ‘sesak napas’. Tutut mencontohkan, limbah rumah tangga maupun pertanian yang mengandung fosfat dan ammonia, banyak disukai tumbuhan air.
Ledakan tumbuhan air yang tidak terkendali bisa mempercepat sedimentasi karena aliran yang tidak lancar.
“Ketika arusnya terbendung, bisa terjadi endapan-endapan. Zat ini kan seperti pupuk bagi tumbuhan air,” bebernya.
Saat sungai tidak mengalir dan banyak endapan, zat terlarut itu tidak bisa naik ke permukaan air. Akibatnya, semakin lama semakin menumpuk hingga menjadi racun bagi biota air lainnya.
Termasuk ikan yang tidak akan betah hidup di sana. Selain itu, tumbuh-tumbuhan yang rakus dengan nutrisi akan terus berkoloni di sekitarnya. Bahkan hingga menutup permukaan sungai.
“Kalau permukaan sungai tertutup, jelas dia akan miskin oksigen. Oksigen yang ada di udara tidak bisa masuk ke sana, tumbuhan airnya juga tidak akan banyak yang tinggal di dalam situ karena ketutupan yang di atas. Sedangkan tumbuhan yang di atas oksigennya tidak dilepas ke air, tapi langsung ke udara,” urai Tutut. (ayu isma/ut)