Tiga hari sudah tim Jawa Pos Radar Kediri River Expedition 2026 menyusuri sungai-sungai di Kota Kediri. Mengumpulkan data, melihat kondisi nyata serta lingkungan penopangnya.
Menemukan beberapa hal yang, ternyata, di luar ekspektasi. Satu hal yang paling mendasar, upaya penyelamatan sungai di Kota Kediri harus dilakukan segera!
Tim Jawa Pos Radar Kediri River Expedition 2026 yang diinisiasi oleh Radar Kediri Institute (RKI)-lembaga litbang milik Jawa Pos Radar Kediri-telah tuntas menelusuri enam titik sungai dan aliran anak sungai di Kota Kediri. Menggandeng akademisi dari Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri.
Tujuan utama ekspedisi ini adalah melihat kondisi sungai-sungai yang bermuara di Sungai Brantas tersebut. Apakah ekosistemnya masih terjaga?
Ataukah sebaliknya, menderita pencemaran berat yang harus diselamatkan?
Bila mengakomodasi semua sungai, waktu yang dimiliki tim ekspedisi sungai ini tidaklah cukup. Karena itu tim terpaksa memilih beberapa titik.
Yaitu aliran Sungai Kedak di wilayah Kelurahan Mojoroto, anak Sungai Kedak yang membelah Jalan Tambora, anak Sungai Parung yang mengalir di Kelurahan Kaliombo dan Kampungdalem, anak Sungai Tawang di Kelurahan Singonegaran, serta Sungai Kresek yang melintas di Lingkungan Ngadisimo, Kelurahan Dandangan serta di Kelurahan Banjaran.
Hasilnya? Temuan di enam lokasi itu mengantarkan pada satu kesimpulan. Mayoritas ekosistem sungai berstatus tercemar berat. Tidak sehat berdasarkan indikator biologi.
Selain itu, temuan dari beberapa parameter fisika dan kimia juga jadi catatan kritis. Bahwa kualitas sungai di Kota Kediri masih menunjukkan rapor merah.
Dalam menetapkan status tersebut, tim ekspedisi menggunakan teknik biotilik dan tes kualitas air menggunakan alat water quality tester.
“Seluruh stasiun pengamatan menunjukkan kondisi ekosistem perairan yang telah mengalami degradasi lingkungan dengan tingkat pencemaran berkisar antara tercemar sedang hingga tercemar berat,” kata dosen Program Studi Pendidikan Biologi UNP Kediri Tutut Indah Sulistiyowati.
Sungai-sungai tersebut lalu dikelompokkan dalam status kritis dan status warning. Empat di antaranya masuk dalam zona tercemar berat atau status kritis.
Yakni, anak Sungai Tawang di Kelurahan Singonegaran, anak Sungai Kedak di Jalan Tambora, Sungai Kedak di Kelurahan Mojoroto, serta Sungai Parung di Kelurahan Kaliombo dan Kampungdalem.
“Empat titik pengamatan ini menunjukkan skor biotilik yang sangat rendah, kurang dari 1,42. Itu indikasi hilangnya taksa-taksa sensitif seperti kelompok EPT (Ephemeroptera, Plecoptera, Trichoptera, Red) dan didominasi oleh organisme toleran polusi,” beber peneliti ekologi tersebut.
Artinya, organisme di dasar sungai atau bentos yang paling banyak ditemui adalah spesies yang adaptif dengan lingkungan tercemar. Di sisi lain, organisme yang berperan sebagai bioindikator lingkungan sehat justru tidak dapat ditemui.
“Rendahnya skor ini mengindikasikan adanya tekanan antropogenik yang sangat masif. Kemungkinan besar berasal dari akumulasi limbah domestik perkotaan maupun limbah organik padat,” tandasnya.
Status tercemar berat itu juga selaras dengan penilaian kondisi kesehatan yang berada dalam rentang kurang sehat dan tidak sehat. Seperti di aliran sungai Kaliombo dan Kampungdalem yang lingkungannya termasuk kurang sehat.
Aktivitas pembuangan limbah domestik, baik greywater maupun blackwater, langsung ke badan sungai disinyalir menjadi faktor utama penyebab hewan indikator lingkungan sehat itu semakin sulit ditemui.
Sementara itu, Sungai Kresek dianggap masih lebih sehat dibanding empat titik tersebut. Tim melakukan pengujian di dua titik yang berbeda, yakni di Kelurahan Dandangan dan Kelurahan Banjaran.
Hasilnya, kedua titik aliran sungai yang sama itu masuk dalam zona tercemar sedang atau berstatus warning.
“Kondisi bioindikator yang ditemukan relatif lebih adaptif. Meskipun tetap masuk dalam kategori mengkhawatirkan,” terang Tutut.
Dari dua lokasi itu, aliran Sungai Kresek di Kelurahan Banjaran mencatatkan skor biotilik tertinggi. Salah satunya ditandai dengan masih ditemukannya hewan indikator lingkungan sehat Leptophlebidae atau lalat capung insang cabang dan Heptagenidae atau lalat capung berkepala pipih.
Spesies ini punya peran penting sebagai indikator kualitas lingkungan sebab sangat tidak toleran terhadap polutan. Sedikit di luar ekspektasi, nilai parameter kondisi kesehatan di sana justru dinyatakan tidak sehat.
“Ketidakselarasan antara skor biotilik yang tercemar sedang dan kondisi kesehatan yang dinyatakan tidak sehat di area SMA 8 atau Kelurahan Banjaran ini mengindikasikan adanya fluktuasi polutan yang dinamis,” ungkapnya. Sehingga kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan biota tersebut secara optimal juga sangat kurang.
Hasil pengujian biologi itu menegaskan bahwa sungai dengan kategori “baik” atau “sehat” belum bisa ditemukan. Itu menandakan bahwa sungai-sungai yang melintasi kawasan urban di Kota Kediri ini telah mengalami tekanan ekologis yang merata, dari hulu ke hilir.
Belum lagi dari parameter fisika dan kimia yang juga menunjukkan hasil yang kurang menyenangkan.
Tutut juga menggarisbawahi temuan tanda pencemaran ekstrem dari parameter tertentu seperti konsentrasi padatan terlarut, lonjakan kadar garam, hingga nilai Oxidation-Reduction Potential (ORP) yang juga dikenal sebagai red flag utama ekosistem.
Beberapa membuktikan adanya beban terhadap lingkungan yang cukup berat dari aktivitas pencemaran.
“Nilai TDS (padatan terlarut, Red) berkisar antara 504 - 670 miligram per liter. Di titik Jalan Tambora mencatatkan nilai TDS tertinggi, mencapai 670 miligram per liter yang berbanding lurus dengan nilai EC tertinggi di lokasi tersebut. Tingginya konsentrasi padatan terlarut ini menjadi indikator kuat adanya akumulasi limbah domestik, limpasan permukaan, atau limbah industri ringan,” tandas Tutut.
Editor : Andhika Attar Anindita