Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengulik Lebih Detil Hasil Jawa Pos Radar Kediri River Expedition 2026 (2) Pencemaran Tinggi, Sungai Mulai Kehilangan Kehidupannya

Ayu Ismawati • Sabtu, 6 Juni 2026 | 23:25 WIB
TELITI: Mahasiswa dan dosen prodi Pendidikan Biologi UNP Kediri saat meneliti serangga air yang dikumpulkan dari aliran Sungai Kresek di Kelurahan Dandangan dalam Kediri River Expedition 2026. (Foto: Wahyu Adji)
TELITI: Mahasiswa dan dosen prodi Pendidikan Biologi UNP Kediri saat meneliti serangga air yang dikumpulkan dari aliran Sungai Kresek di Kelurahan Dandangan dalam Kediri River Expedition 2026. (Foto: Wahyu Adji)

Jawa Pos Radar Kediri River Expedition 2026 mengerucut pada kesimpulan, banyak sungai yang statusnya kritis. Tak dilihat dari warna air saja, juga kehidupan di dasar sungai. Bahkan yang tak selalu terlihat oleh mata manusia. 

Salah satu metode yang dilakukan tim ekspedisi Jawa Pos Radar Kediri bersama akademisi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri untuk mengungkap fakta kondisi sungai adalah dengan biotilik.

Tim mengamati makroinvertebrata bentos penghuni dasar sungai. Mengumpulkannya dan mengamati satu per satu serangga air tersebut.

Hasilnya, dari enam titik yang diuji, seluruhnya mengalami penurunan fungsi lingkungan dengan tingkat pencemaran yang beragam. 

“Empat titik pengamatan menunjukkan hasil yang didominasi organisme toleran polutan seperti Chironomidae dan Tubifex. Sedangkan dua titik pantau menunjukkan kondisi bioindikator yang relatif lebih adaptif, meskipun tetap masuk dalam kategori mengkhawatirkan,” kata dosen Program Studi Pendidikan Biologi UNP Kediri Tutut Indah Sulistiyowati.

Baca Juga: Masih Ada Harapan Selamatkan Sungai Kota Kediri! Tim Kediri River Expedition 2026 Mulai Cek Kualitas Sungai Kedak dan Anak Sungainya

Temuan itu jadi sinyal penting. Jika ekosistem sungai didominasi hewan yang tahan kondisi tercemar, berarti kerusakan lingkungan memang sudah di depan mata.

Apalagi, serangga air yang sensitif dengan polusi semakin sulit ditemui. Artinya, lingkungan sungai tak lagi mampu menjadi ruang hidup beragam organisme. Melainkan hanya bisa dihuni organisme tertentu yang mampu bertahan. 

“Tekanan antropogenik (aktivitas campur tangan manusia yang memicu beban lingkungan, Red) adalah faktor pemicu terbesar. Mengingat lokasi sungai yang dikaji adalah sungai yang dekat dengan permukiman,” sambung Tutut. 

Peneliti ekologi itu mencontohkan, tekanan terhadap lingkungan itu salah satunya berupa limbah domestik. Wujudnya dapat berupa membuang limbah cucian, limbah kamar mandi, hingga sampah-sampah sisa makanan langsung ke badan sungai.

Baca Juga: Penumpukan Sampah dan Tumbuhan Air Jadi Ancaman Sungai di Kota Kediri, Tim Kediri River Expedition 2026 Lanjutkan Misi

“Semua kegiatan manusia yang menghasilkan limbah dan tidak dikelola sebelum dibuang, itu adalah limbah domestik yang menjadi faktor besar pencemaran di mana-mana,” terangnya. 

 Pencemaran yang memicu kondisi itupun tidak terjadi sesaat. Melainkan berlangsung cukup lama dan masif.

Yang lebih tidak menggembirakan, degradasi ekosistem ini terjadi di seluruh titik ekspedisi yang menyasar aliran sungai-sungai kawasan urban di Kota Kediri. 

Untuk diketahui, ekspedisi sungai yang diinisiasi Radar Kediri Institute (RKI)– lembaga litbang milik Jawa Pos Radar Kediri– ini menyasar enam titik sungai dan aliran anak sungai di Kota Kediri.

Yaitu aliran Sungai Kedak di wilayah Kelurahan Mojoroto, anak Sungai Kedak di Jalan Tambora, Sungai Parung yang mengalir di Kelurahan Kaliombo dan Kampungdalem, anak Sungai Tawang di Kelurahan Singonegaran, serta Sungai Kresek yang melintas di Lingkungan Ngadisimo, Kelurahan Dandangan dan di Kelurahan Banjaran.

Baca Juga: Bioindikator Lingkungan Sungai Sehat Itu Semakin Hilang, Tim Ekspedisi Sungai Lanjutkan Penelitian di Sungai Kresek Kota Kediri

Tutut menambahkan, semakin hilangnya serangga-serangga air indikator lingkungan sehat itu tidak hanya dipicu oleh pencemaran saja. Melainkan kondisi fisik sungai juga menentukan siapa saja yang bisa bertahan di dalamnya.

Contohnya, tepi sungai yang masih alami berupa bebatuan atau yang sudah dibangun beton akan menunjukkan hasil biotilik yang berbeda. 

Itu juga terbukti saat tim menguji aliran Sungai Kresek, namun di dua titik yang berbeda. Yakni, di lingkungan Ngadisimo, Kelurahan Dandangan, serta di aliran yang berada di Kelurahan Banjaran. Dari aliran sungai yang sama, skor kesehatan lingkungannya berbeda. 

Hal serupa nampak antara aliran anak Sungai Tawang di Kelurahan Singonegaran dan Sungai Parung di Kelurahan Kaliombo.

Secara kasat mata, sungai di Kelurahan Kaliombo itu nampak lebih kotor. Namun dari hasil uji biotilik, kondisi kesehatan lingkungan sungai Kelurahan Kaliombo itu justru masih lebih baik.

Baca Juga: Masih Ada Harapan Selamatkan Sungai Kota Kediri! Tim Kediri River Expedition 2026 Mulai Cek Kualitas Sungai Kedak dan Anak Sungainya

“Status kesehatan berdasarkan biotilik itu ditentukan juga oleh vegetasi di kiri kanan sungai dan kedalamannya. Sungai Kaliombo vegetasinya banyak, bahkan masih ada rumpun bambunya. Sedangkan sungai di Singonegaran langsung berbatasan dengan pondasi. Hal ini juga memberikan pengaruh ke skor penilaian kesehatan lingkungan,” terang Tutut. 

Meski demikian, menurutnya membaca data hasil penelitian itu tetap harus secara menyeluruh. Sebab kondisi sungai tak hanya bisa dinilai dari hasil uji biotilik itu saja.

Melainkan juga hasil pengujian berdasarkan parameter fisika dan kimia lainnya. 

“Dari segi kadar garam, Sungai Kaliombo memiliki kadar garam yang sangat tinggi, beda dengan dengan Sungai Gambiran (Singonegaran). Kondisi Kesehatan biotilik di Sungai Gambiran didukung dengan data ORP yang rendah,” tandasnya, menyebut kadar garam yang tinggi dapat berasal dari buangan detergen, limbah dapur pekat, hingga limbah aktivitas domestik maupun komersial lainnya yang langsung dibuang ke sungai tanpa pengolahan. 

Editor : Andhika Attar Anindita
#kediri river expedition 2026 #unp #pencemaran #ekspedisi #sungai