Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Penumpukan Sampah dan Tumbuhan Air Jadi Ancaman Sungai di Kota Kediri, Tim Kediri River Expedition 2026 Lanjutkan Misi

Ayu Ismawati • Kamis, 4 Juni 2026 | 06:22 WIB
Tim Kediri River Expedition 2026 saat menguji kualitas sungai dengan metode biotilik di anak Sungai Tawang, Kelurahan Singonegaran, Rabu (3/6). (Foto: Andika Attar)
Tim Kediri River Expedition 2026 saat menguji kualitas sungai dengan metode biotilik di anak Sungai Tawang, Kelurahan Singonegaran, Rabu (3/6). (Foto: Andika Attar)

KEDIRI, JP Radar Kediri- Perjalanan tim Kediri River Expedition 2026 masih berlanjut. Kemarin, tim yang terdiri dari Radar Kediri Institute (RKI)lembaga litbang milik Jawa Pos Radar Kediri—bersama akademisi dari Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri menyasar aliran Sungai Parung dan anak Sungai Tawang.

Dengan kondisi eksisting yang berbeda, ancamannya sebagian besar serupa. Yakni, penumpukan sampah dan tumbuhan air yang bisa jadi ancaman bagi kelestarian sungai. 

“Di hari kedua ini kami melakukan pengambilan data di aliran Sungai Parung di Kelurahan Kaliombo dan anak Sungai Tawang yang berada di depan RSUD Gambiran,” ujar Andhika Attar Anindita, Direktur Operasional Radar Kediri Institute (RKI).

Baca Juga: Masih Ada Harapan Selamatkan Sungai Kota Kediri! Tim Kediri River Expedition 2026 Mulai Cek Kualitas Sungai Kedak dan Anak Sungainya

Di Sungai Parung, secara spesifik pengambilan data dilakukan di titik yang berada di antara Kelurahan Kaliombo dan Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kota.

Secara kasat mata, sungai itu nampak keruh dan berbau. Tumpukan sampah yang tersangkut di antara tanaman air maupun pinggiran sungai juga mudah dijumpai. Mulai dari sampah plastik, styrofoam, hingga popok sekali pakai. 

Keberadaan ikan cere atau cetol juga nampak signifikan. Ikan yang berukuran kecil ini dapat dengan mudah dijumpai di permukaan air.

“Ikan ini memang terkenal paling kuat bertahan hidup di air yang tercemar,” kata Febryan Dimas Arganata, anggota tim ekspedisi. 

Baca Juga: Kualitas Air Sungai Parung Kediri Lampaui Ambang Baku Mutu, Warga Keluhkan Bau dan Sampah yang Menumpuk Saat Debit Tinggi

Dosen Program Studi Pendidikan Biologi UNP Kediri Tutut Indah Sulistiyowati mengatakan, kondisi sungai di sana saat ini memang dipengaruhi oleh proyek yang berlangsung di aliran yang sama.

Pembangunan jembatan membuat aliran air tidak berjalan secara maksimal

“Akhirnya sampahnya menumpuk di sini karena aliran airnya tidak lancar. Tapi kalau kata warga di sini, biasanya aliran airnya lancar. Hanya saja tumbuhan airnya cukup banyak,” ujar Tutut.

Di dua lokasi kemarin, para akademisi UNP itu masih menggunakan tiga parameter sekaligus untuk menilai kondisi sungai. Yakni, parameter fisik, biologi, dan kimia.

Salah satu yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode biotilik. 

Baca Juga: Sungai Dangkal Jadi Penyebab Banjir, Desa Puhjarak Kediri Lakukan Normalisasi

Dengan biotilik itu, pemantauan kesehatan sungai dilakukan dengan mengamati kehidupan di dalamnya. Khususnya bentos atau organisme yang hidup di dasar perairan.

Dengan menggunakan alat khusus, organisme itu diambil dari dasar sungai dan diamati sesuai klasifikasinya. Beberapa temuan organisme itu di antaranya cacing, siput, udang, hingga kepiting sungai atau yuyu.

Temuan dari metode itu dapat disimpulkan sebagai deteksi awal kondisi kesehatan sungai.

“Hewannya di sini sebenarnya masih melimpah. Meskipun status hewan yang ditemukan di sana adalah hewan-hewan indikator lingkungan kurang sehat,” beber Tutut.

Baca Juga: Puluhan ‘Kartini’ Gowes ke Taman Brantas, Wali Kota Kediri Vinanda dan Ketua Bhayangkari Bersih-Bersih Bantaran Sungai

Potensi pencemaran itu juga jadi catatan penting. Seperti Sungai Parung di Kelurahan Kaliombo yang pencemarannya cenderung berasal dari limbah cair dan sampah yang terbawa arus.

Penurunan kualitas air itu juga berdampak pada populasi tumbuhan air seperti kangkung yang mulai tidak terkendali.

Sedangkan di aliran anak Sungai Tawang di depan RSUD Gambiran, mayoritas pencemaran berasal dari sampah yang dibuang ke saluran. Di antaranya seperti sampah plastik dan popok sekali pakai.

“Karena ini di pinggir jalan, jadi lebih mudah pembersihannya. Sampahnya juga kebanyakan sampah yang mengambang-mengambang. Kalau yang di sana tadi (Sungai Parung di Kaliombo) itu pemulihannya memang harus normalisasi dulu. Dikeduk supaya alirannya jalan lagi dan tumbuhan di pinggir-pinggir juga perlu dikendalikan jumlahnya,” tandas Tutut. (ais/fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
#kediri river expedition 2026 #radar kediri institute #ekspedisi #sungai