Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Masih Ada Harapan Selamatkan Sungai Kota Kediri! Tim Kediri River Expedition 2026 Mulai Cek Kualitas Sungai Kedak dan Anak Sungainya

Ayu Ismawati • Rabu, 3 Juni 2026 | 05:33 WIB
TEMUAN: Tim ekspedisi melakukan pemeriksaan biota air yang mengindikasikan kualitas air di Sungai Kedak, Mojoroto Gang 7, Kota Kediri. (Foto: Wahyu Adji)
TEMUAN: Tim ekspedisi melakukan pemeriksaan biota air yang mengindikasikan kualitas air di Sungai Kedak, Mojoroto Gang 7, Kota Kediri. (Foto: Wahyu Adji)

KEDIRI, JP Radar Kediri- Beberapa sungai di Kota Kediri perlu segera diselamatkan. Situasi yang terus-menerus mengancam eksistensi sungai itu mendorong Jawa Pos Radar Kediri menggelar Kediri River Expedition 2026.

Menurunkan tim peneliti sungai yang diisi oleh akademisi dari Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri.

Selama tiga hari tim ini akan menjelajahi beberapa aliran sungai di Kota Kediri. Mencoba mengangkat fakta tersembunyi yang ditemukan. Sekaligus menjadi bahan dan data untuk penyelamatan dan pelestarian sungai.

“Sasaran pertama, hari ini, adalah Sungai Kedak dan anak sungainya yang membelah Kecamatan Mojoroto,” kata Andhika Attar Anindita, Direktur Operasional Radar Kediri Institute (RKI), lembaga litbang milik Jawa Pos Radar Kediri.

Baca Juga: Ekspedisi Penyelamatan Mata Air Jawa Pos Radar Kediri Hijaukan Sumber Dendeng di Kota Kediri

Di Sungai Kedak, tepatnya di bawah Jembatan Mojoroto Gang 7, para peneliti mengambil dan meneliti sampel. Kemudian, berpindah di aliran anak sungai, di Jalan Tambora, Kelurahan Bandarlor.

Untuk menilai kualitas air sungai, akademisi UNP menggunakan tiga parameter sekaligus. Yakni parameter fisik, biologi, dan kimia. Itu ditunjukkan melalui metode pengambilan data langsung, biotilik, serta pengujian air di laboratorium.

“Secara umum untuk sungai pertama (Sungai Kedak di Mojoroto Gang 7, Red) masih bisa ditolong. Yang ini (saluran Jl Tambora atau anak Sungai Kedak, Red), nanti mungkin butuh banyak kerja sama dari berbagai pihak (untuk pemulihan),” kata Dosen Program Studi Pendidikan Biologi UNP Kediri Tutut Indah Sulistiyowati.

Baca Juga: Ekspedisi Penyelamatan Mata Air Jawa Pos Radar Kediri Kembali Melakukan Penanaman Pohon, Ini Lokasinya

Itu menimbang kondisi saluran yang sudah mengalami penyempitan dan pendangkalan. Sehingga dikhawatirkan, air bisa meluap saat debitnya tinggi selama musim hujan.

Pencemaran itu secara kasat mata juga nampak dari air yang berwarna dan berbau. Dampaknya juga bisa membawa penyakit bagi sekitarnya. 

Sungai Kedak dikenal sebagai salah satu anak Sungai Brantas yang mengalir dari lereng Gunung Wilis. Fungsi sungai ini yang paling utama adalah penampung limpahan air hujan dari dataran tinggi. Sehingga, di waktu-waktu tertentu seperti musim hujan, sungai ini rentan meluap.

Kondisi itu dapat semakin parah dengan adanya sedimentasi hingga pencemaran sampah. 

Baca Juga: Tiga Sumber di Kota Kediri Jadi Tujuan Tim Ekspedisi Penyelamatan Mata Air

Ancaman kontaminasi limbah cair dan mikroplastik juga jadi catatan serius. Apalagi, aliran sungai ini langsung bermuara di Sungai Brantas yang masih banyak dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat Jawa Timur.

“Kalau lagi banjir, airnya bisa sampai peres (hampir setinggi plengsengan sungai, Red). Dari atas biasanya membawa banyak ranting-ranting dan bambu,” ujar Dwi, salah satu warga yang tinggal di bantaran Sungai Kedak di Kelurahan Mojoroto.

Kondisi badan sungai yang banyak ditemui tumbuh-tumbuhan terkadang membuat ranting dan bambu tersangkut. Hal itu yang kerap membuatnya khawatir. Beberapa kali dia inisiatif membersihkan sendiri pohon yang tumbuh di badan sungai di depan rumahnya.

“Depan sini dulu besar-besar pohonnya. Sampai kalau habis banjir, banyak sampah yang tersangkut. Jadi saya turun dan babati sendiri pohon-pohon yang tumbuh di badan sungai. Karena kalau dibiarkan sebentar saja, cepat besar. Bambu-bambu jadi banyak yang tersangkut,” bebernya.

Baca Juga: Tim Ekspedisi Selamatkan Mata Air, Selamatkan Peradaban

Dalam uji kualitas sungai itu, tim turun langsung ke sungai. Pengujian itu di antaranya dilakukan dengan metode biotilik. Lima mahasiswa dari Prodi Biologi UNP Kediri mengumpulkan sedikitnya 100 biota air yang menjadi indikator tingkat pencemaran.

Selain itu, juga diambil sampel air sungai untuk diuji di laboratorium. Dalam ekspedisi itu, tim juga merekam langsung kondisi sungai. Seperti contoh, beberapa sampah yang secara kasat mata nampak cukup banyak ditemui di aliran sungai tersebut.

Bahkan, saat pengujian di sungai tengah berlangsung, pada jarak 5 meter saja sumber pencemaran tampak nyata di depan mata. Air berwarna putih dan berbusa, keluar dari saluran di atasnya dan langsung jatuh ke aliran sungai.

“Airnya berwarna dan berbusa, kemungkinan dari limbah rumah tangga,” ujar Tutut.

Dia menilai, limbah domestik masih jadi ancaman bagi sungai-sungai di Kota Kediri. Namun kadar pencemaran itu tergantung kondisi sungai. Dengan kemampuan self-purification atau menjernihkan diri sendiri, kadar pencemaran itu juga dipengaruhi panjang sungai, lebar sungai, hingga debitnya.

“Limbah pertanian juga karena banyak fosfat yang hanyut. Ada amoniak juga yang itu disukai tumbuh-tumbuhan di sekitarnya,” terangnya.

Baca Juga: Tim Ekspedisi Penyelamatan Mata Air Seperti Temukan Laboratorium Raksasa

Ledakan populasi tumbuhan di sungai dapat memicu berbagai persoalan. Mulai dari erosi hingga timbulnya endapan. Endapan yang tinggi pun dapat berpengaruh pada ekosistem biota air seperti ikan.

“Ketika ada endapan dan tidak ada aliran, nutrisi yang ada di endapan tidak bisa naik. Akhirnya menumpuk, terlalu banyak nutrisi juga bisa jadi racun. Akibatnya ikan juga nggak betah di situ,” tandas Tutut.

Meski begitu, dia menegaskan tak ada kata terlambat untuk melestarikan sungai. Namun, perlu kerja sama banyak pihak dalam upaya menyelamatkan sungai dari pencemaran.

“Selalu ada harapan. Tapi harus banyak pihak yang turun tangan, nggak bisa hanya pemerintah saja. Masyarakat sekitar juga harus terlibat. Maka yang paling penting itu edukasi dan menumbuhkan kesadaran,” pungkasnya. (ais/fud)     

         

Editor : Andhika Attar Anindita
#ekspedisi sungai #unp #ekspedisi #sungai brantas #Sungai Kedak