“Dulu ada 20 sampai 30-an yang ngantre di sini,” ucap Harsoyo. Pria 57 tahun ini duduk di becaknya yang terparkir di depan tempat wisata Pagora, di Jalan A. Yani Kota Kediri. Menunggu datangnya penumpang.
Hanya ada dua becak yang ngetem di dekat deretan kios buah hari itu. Berbeda jauh dengan apa yang dia ceritakan di masa lalu itu. “Sekarang paling ya lima atau enam,” sambungnya menyebut berapa becak yang mangkal di tempat itu setiap hari.
Jumlah becak yang mangkal itu sebanding dengan jumlah penumpang yang kian sedikit. Harsoyo baru bisa mendapat tiga atau empat penumpang bila hari libur saja. Hari-hari biasa, dia bahkan sering zonk alias tak dapat penumpang sama sekali.
Padahal setiap hari dia berangkat pukul 03.00. Mengayuh dari rumahnya di Desa Paron, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Itu dia lakukan selama 12 tahun. Dia tetap setia dengan pekerjaannya itu meskipun sebagian besar rekannya sudah mrotoli satu per satu.
Kebanyakan penumpangnya adalah mereka yang datang berenang atau sekadar jalan-jalan ke tempat wisata itu. Namun, orang yang meminta jasanya kian sedikit. “Sudah banyak yang bawa kendaraan (sendiri) atau antar-jemput pakai ojek online,” ucapnya dengan mata menerawang.
Harsoyo menyadari pekerjaannya sebagai tukang becak memang tak mampu bersaing dengan zaman. Tak sedikit temannya yang pindah mencari pekerjaan lain. Ada yang jadi kuli bangunan, ada juga yang bekerja serabutan dipasar. Sebagian lagi beralih menjadi pengendara becak motor.
“Yang penting dapur di rumah tetep bisa mengepul Mas,” sambung lelaki bertubuh kurus ini.
Harsoyo sebenarnya sudah tak sepenuhnya menumpukan penghasilan dari kayuhan becak. Dia juga nyambi menjadi pedagang sayur. Meskipun masih tetap memanfaatkan becak warna putih hijau yang dulu dia beli Rp 400 ribu itu.
“Cari penumpangnya pagi saja. Siang, jam sepuluhan saya ambil sayur dan mulai keliling,” ceritanya.
Dengan berjualan sayur itu dia bisa untuk hingga Rp 10 ribu per hari. Itu bila sayuran yang dia bawa habis. Meskipun sedikit, tetap lebih baik dibanding tak bisa mendapatkan penumpang satu pun ketika dia mangkal di depan Pagora.
Katiran, 61, punya cerita berbeda. Dia memang sama-sama mangkal di Pagora. Namun, warga Desa Silir, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri itu akan pindah lokasi bila di tempat mangkalnya sepi.
“Kadang di Kediri Mall, Dhoho Plaza depan Masjid Agung, atau di Stasiun Kediri,” terang pria yang sudah sepuluh tahun menjadi penarik becak ini.
Dia melakukan itu mulai pagi hingga sore hari. Diawali dengan mengantar istri atau tetangganya berbelanja ke Pasar Bawang. Setelah itu dia menuju ke tempat mangkal.
“Kadang saya pulang tidak bawa uang,” akunya.
Tidak ingin pindah pekerjaan? Katiran mengaku becak adalah pilihan satu-satunya saat ini. Apalagi di usianya yang sudah kian renta. “Hanya sesekali ikut jualan dengan istri di pasar,” akunya.
Beda lagi dengan Iwan. Pria 57 tahun ini memang masih menjadi pengayuh becak. Tetapi warga Kelurahan Dandangan, Kecamatan Kota ini sudah tidak lagi mengangkut orang sebagai penumpangnya. Dia hanya mengantar buah dan sayuran saja.
Karena spesialis pengangkut sayuran, mangkalnya juga di Pasar Setonobetek. Di tempat ini dia menunggu orderan dari pedagang. “Awalnya ketika saya membantu tetangga yang berjualan di pasar ini,” ujarnya.
Bagi Iwan, mengandalkan becak untuk mencari sesuap nasi akan terus dia lakoni. Karena pekerjaan ini yang jadi sumber penghasilannya. “Tinimbang mengemis, bisanya mbecak ya mbecak saja,” tandasnya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah