JP Radar Kediri – Di tengah klaim pemerintah bahwa stok bahan bakar minyak (BBM) nasional berada dalam kondisi aman, kelangkaan di tingkat tapak justru memicu keresahan warga.
Bahkan, situasi ini sempat dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab untuk menjual BBM eceran dengan harga fantasi kepada wisatawan asing.
Lantas, di mana letak masalahnya? Mengapa kelangkaan bisa terjadi ketika persediaan di tingkat nasional diklaim melimpah? Berikut penjelasannya.
Rantai Pasok Tersendat: Saat Stok Aman Belum Tentu Sampai ke SPBU
Secara nasional, ketahanan stok BBM kita sebenarnya sangat mencukupi, yakni berada di kisaran 18 hingga 20 hari. Namun, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa persoalan utamanya ada pada distribusi.
Baca Juga: Bahlil Buka Suara Soal Kabar BBM Langka, Ini Keputusannya Terkait Harga
Ketersediaan BBM di depot atau terminal penyimpanan tidak serta-merta membuat bahan bakar langsung tersedia di tangki kendaraan Anda.
Bahan bakar harus melalui perjalanan panjang mulai dari pengangkutan, pembongkaran, penyimpanan, hingga pengiriman menggunakan mobil tangki ke SPBU. Ketika satu mata rantai ini terhambat, stok di SPBU tertentu otomatis menipis meski gudang pusatnya penuh.
Cuaca Buruk Dan Drama Jangkar Kapal
Sebagai pulau yang sangat bergantung pada pasokan dari luar, kelancaran logistik laut menjadi penentu utama ketersediaan energi di Bali.
Pertamina mencatat, gangguan pasokan sempat terjadi akibat kendala teknis pada jangkar kapal pengangkut BBM. Jadwal sandar dan bongkar muat yang seharusnya berlangsung Senin (12/10) pukul 06.30 WITA terpaksa mundur hingga pukul 22.00 WITA. Belum lagi tantangan alam seperti gelombang tinggi yang kerap memperlambat laju kapal.
Keterlambatan hitungan jam ini langsung berdampak domino pada ketersediaan di SPBU, mengingat konsumsi masyarakat berjalan setiap hari tanpa jeda.
Lonjakan Konsumsi dan Efek "Panic Buying"
Faktor lain yang memperparah situasi adalah tingginya permintaan terhadap BBM bersubsidi seperti Pertalite. Tercatat, rata-rata konsumsi Pertalite di Bali menyentuh angka 2.200 kiloliter per hari.
Perbedaan harga yang cukup jauh antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi membuat masyarakat secara alami memilih opsi yang lebih terjangkau. Ketika pasokan terlambat datang, lonjakan permintaan ini langsung membuat stok di SPBU ludes dalam sekejap.
Baca Juga: Heboh BBM Pertamina Langka di Sejumlah Daerah, Ini Penyebab dan Klarifikasinya
Langkah Cepat Pertamina Pulihkan Pasokan
Untuk meredam keresahan, Pertamina Patra Niaga menggelontorkan tambahan pasokan sekitar 57,9 juta liter yang dikirim secara bertahap ke Bali hingga 17 Oktober 2026. Pengiriman ini mencakup ribuan kiloliter Pertalite dan Pertamax melalui Terminal BBM Sanggaran (Denpasar) dan Manggis (Karangasem).
Selain menambah pasokan, sebanyak 52 SPBU disiagakan beroperasi selama 24 jam penuh untuk mengurai antrean. Penambahan personel juga dikerahkan agar distribusi berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek keselamatan kerja.
Editor : Shinta Nurma Ababil