JP Radar Kediri – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 2,31 persen. Sementara itu, secara bulanan (month to month/mtm), inflasi Agustus 2026 tercatat sebesar 0,21 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kenaikan inflasi bulanan tersebut sejalan dengan naiknya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus 2026. "Secara year on year pada Agustus tahun 2026 terjadi inflasi sebesar 3,19 persen," kata Ateng dalam konferensi pers Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (1/9/2026). Kondisi ini berbeda dari pola bulan sebelumnya maupun periode sama tahun 2025, yang justru mengalami deflasi.
Baca Juga: Sempat Sentuh Titik Terendah Sebulan, Dolar AS Kembali Stabil di Tengah Bayang-bayang Inflasi
Makanan, Minuman, dan Tembakau Jadi Penyumbang Utama
Ateng menjelaskan, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama inflasi bulanan Agustus 2026, dengan tingkat inflasi kelompok mencapai 0,57 persen dan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,17 persen. "Komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah daging ayam ras dengan andil inflasi sebesar 0,17 persen, serta cabai rawit, ikan segar, dan beras dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,02 persen," jelas Ateng.
Permintaan Ayam Melonjak Imbas Maulid Nabi hingga MBG
Ateng menjelaskan, lonjakan harga pangan bergejolak pada Agustus 2026 dipicu oleh dua faktor utama. Pertama, meningkatnya permintaan daging ayam ras untuk kebutuhan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, peringatan HUT Kemerdekaan RI, serta berlanjutnya penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) usai periode libur sekolah berakhir. Kedua, penurunan produksi komoditas hortikultura, khususnya cabai rawit yang mengalami penurunan hasil panen di sejumlah daerah sentra, di antaranya Kabupaten Sampang, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Temanggung.
Baca Juga: Transportasi Sumbang Inflasi Terbesar di Kota Kediri, Ini Pemicunya!
Emas Perhiasan Dorong Inflasi Perawatan Pribadi Tembus 9,25
Selain sektor pangan, kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya turut mencatatkan inflasi tinggi secara tahunan, yakni 9,25 persen dengan andil 0,63 persen terhadap inflasi umum. "Inflasi pada kelompok tersebut terutama terjadi pada komoditas emas perhiasan," terang Ateng.
Transportasi Ikut Terdorong Naik, Ditopang Harga Bensin dan Tiket Pesawat
Ateng menambahkan, kelompok pengeluaran transportasi turut mendorong inflasi tahunan, dengan tingkat inflasi 4,79 persen dan andil 0,58 persen. "Inflasi pada kelompok ini terutama didorong oleh bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, dan juga mobil," jelasnya. Meski begitu, secara bulanan, kelompok transportasi justru menahan laju inflasi lewat deflasi sebesar 0,50 persen, seiring turunnya tarif angkutan udara dan harga bensin pada periode tersebut.
Seluruh Komponen Alami Inflasi, Komponen Inti Jadi Penyumbang Terbesar
Berdasarkan komponennya, BPS mencatat seluruh komponen mengalami inflasi secara tahunan. Komponen inti memberikan andil terbesar sebesar 1,87 persen dengan tingkat inflasi 2,92 persen, didorong terutama oleh kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, pelumas atau oli mesin, dan laptop/notebook. Komponen bergejolak menyumbang andil 0,67 persen, sementara komponen harga yang diatur pemerintah berkontribusi 0,65 persen.
Mayoritas Provinsi Alami Inflasi, 27 dari 38 Provinsi Terdampak
Secara spasial, sebanyak 27 dari 38 provinsi di Indonesia tercatat mengalami inflasi pada Agustus 2026, sementara sisanya justru mengalami deflasi. Adapun secara tahun kalender (year to date/ytd), inflasi Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 tercatat sebesar 1,86 persen.
Baca Juga: Inflasi Juni 2026 Naik ke 3,34 Persen, Harga BBM dan Bahan Pangan Jadi Biang Kerok
Editor : Mahfud