Rupiah Diprediksi Bergerak Mendatar, Pasar Sinyal Nanti dari Pidato Gubernur The Fed

Zebita Rizqi Priyangga • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 13:25 WIB
Karyawan tersebut terlihat sedang menghitung dan mengatur tumpukan uang kertas pecahan Rupiah (IDR) dan Dolar Amerika Serikat (USD) Ayu Masagung di Jakarta, Senin (13/7/2026). (Risyal Hidayat/foc)
Karyawan tersebut terlihat sedang menghitung dan mengatur tumpukan uang kertas pecahan Rupiah (IDR) dan Dolar Amerika Serikat (USD) Ayu Masagung di Jakarta, Senin (13/7/2026). (Risyal Hidayat/foc)

JP Radar Kediri – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak sideways atau mendatar pada perdagangan Jumat (28/8/2026), seiring investor yang tengah menantikan pidato Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh terkait arah kebijakan bank sentral AS ke depan.

Pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, rupiah tercatat menguat 26 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.718 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.744 per dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Menguat Usai BI Putuskan Tahan Suku Bunga Acuan

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.675 hingga Rp17.775 per dolar AS sepanjang hari ini.

Perhatian pelaku pasar tertuju pada pidato Kevin Warsh dalam ajang Jackson Hole Economic Policy Symposium, forum tahunan yang mempertemukan para pejabat bank sentral, ekonom, pelaku pasar keuangan, akademisi, hingga perwakilan pemerintah untuk membahas isu-isu ekonomi utama dan tantangan kebijakan jangka panjang. Menariknya, meski sebelumnya kerap menjadi peserta aktif Jackson Hole, ini akan menjadi kali pertama Warsh menghadiri forum tersebut dalam kapasitasnya sebagai pejabat tinggi The Fed.

Pasar berharap pidato tersebut dapat memberi gambaran mengenai arah kebijakan moneter The Fed ke depan, menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya yang dijadwalkan berlangsung 15-16 September 2026.

Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis Selasa Pagi, Tembus Rp17.798 per Dolar AS

Selain sinyal dari Jackson Hole, pergerakan rupiah juga dipengaruhi rilis data indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Amerika Serikat yang naik 0,2 persen secara bulanan, melampaui ekspektasi pasar. Sementara itu, indeks PCE inti AS yang tidak memperhitungkan komponen makanan dan energi tercatat naik 0,2 persen secara bulanan dan 3,3 persen secara tahunan.

Josua menambahkan, pergerakan mata uang turut dipengaruhi fluktuasi harga energi global akibat harga minyak dunia yang masih bergejolak di tengah tensi geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.

Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah, Pengunduran Diri Gubernur BI Jadi Sentimen Negatif Pasar

Editor : Shinta Nurma Ababil
The Fed dolar as rupiah nilai tukar suku bunga