RDG Perdana di Bawah Destry Damayanti, BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan di 5,75 Persen

Zebita Rizqi Priyangga • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:22 WIB
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memberikan keterangan pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Agustus 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memberikan keterangan pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Agustus 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

JP Radar Kediri – Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan periode Agustus 2026, yang berlangsung sejak Selasa (18/8) hingga Rabu (19/8), memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75 persen. Keputusan ini menjadi RDG pertama yang dipimpin Pejabat Gubernur Sementara (PGS) BI, Destry Damayanti, menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo dari kursi Gubernur BI pada 25 Juli 2026.

Selain BI-Rate, bank sentral turut mempertahankan suku bunga deposit facility di level 4,75 persen, serta suku bunga lending facility di level 6,50 persen. "Rapat Dewan Gubernur BI pada 18-19 Agustus 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen, suku bunga deposit facility tetap sebesar 4,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 6,50 persen," kata Destry dalam konferensi pers RDG Agustus 2026 yang digelar secara daring, Rabu (19/8/2026).

Baca Juga: Profil Destry Damayanti, Ekonom Senior yang Kini Pimpin Sementara Bank Indonesia

Demi Perkuat Stabilitas Rupiah dan Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan

Keputusan mempertahankan suku bunga ini diambil sebagai upaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Langkah ini melanjutkan kebijakan serupa yang telah diambil BI sejak RDG Juli 2026, ketika suku bunga acuan turut dipertahankan di level yang sama guna menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global, sembari memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen.

Perkuat Insentif Hedging demi Tarik Arus Modal Asing

Destry menjelaskan, BI turut memperkuat insentif biaya lindung nilai (hedging cost) guna menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik bagi investor asing. Pada RDG Juli 2026, insentif swap jual lindung nilai telah dinaikkan menjadi 12,5 persen, sementara insentif untuk Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) jual lindung nilai diberikan sebesar 15 persen. "Apa yang kami lakukan adalah memberikan insentif untuk hedging cost bagi dana asing yang masuk, sehingga bisa mempertahankan spread yang menarik," ujar Destry.

Ekonom: Kombinasi The Fed dan Transisi BI yang Mulus Dorong Modal Masuk

Sebelum pengumuman resmi, sejumlah lembaga riset sudah memproyeksikan BI akan menahan suku bunga acuannya. Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, menjelaskan proyeksi tersebut didasari sejumlah faktor, di antaranya inflasi domestik yang sudah kembali ke bawah 3 persen serta perbaikan arus modal masuk (capital inflow) yang mendukung nilai tukar rupiah.

Baca Juga: Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri di QRISNIVAL 2026 Perkuat Kedaulatan Ekonomi

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, turut menyoroti dampak positif dari kelancaran proses transisi kepemimpinan di internal BI terhadap kepercayaan pasar. "Kombinasi dari kebijakan The Fed untuk menahan suku bunga acuannya dan pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia yang berlangsung cukup mulus memicu terjadinya arus modal masuk ke Indonesia," kata Riefky. Ia menambahkan, mempertahankan suku bunga pada level saat ini juga dinilai penting untuk menghindari tambahan tekanan terhadap sektor riil, mengingat kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya pendanaan bagi pelaku usaha.

The Fed Turut Tahan Suku Bunga di Tengah Pasar Kerja AS yang Melemah

Dari sisi eksternal, bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), juga memutuskan menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,50-3,75 persen pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) akhir Juli lalu, meski keputusan tersebut diwarnai perbedaan pendapat di internal bank sentral AS akibat kekhawatiran inflasi yang berkepanjangan. Keputusan The Fed turut dipengaruhi pelemahan pasar tenaga kerja AS, tercermin dari menurunnya penyerapan tenaga kerja pada Juli 2026, meski tingkat pengangguran justru turun ke 4,1 persen akibat kontraksi angkatan kerja.

Sektor Keuangan Sempat Bergejolak, tapi Tak Picu Modal Keluar

Dari sisi domestik, sektor keuangan sempat mengalami guncangan menyusul pengunduran diri mendadak Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI pada akhir Juli lalu. Meski begitu, reaksi pasar dinilai tetap relatif terjaga dan tidak sampai memicu arus modal keluar maupun tekanan berkelanjutan terhadap stabilitas keuangan nasional, sebagaimana tercermin dari keputusan RDG kali ini yang tetap mempertahankan level suku bunga acuan.

Baca Juga: Rally Harga Minyak Bikin Emas Kembali Tertekan, Prospek Suku Bunga Jadi Sorotan Investor

Editor : Shinta Nurma Ababil
Destry Damayanti Gubernur Sementara Bank Indonesia Rapat Dewan Gubernur (RDG) bank Indonesia suku bunga