JP Radar Kediri — Badan Pusat Statistik (BPS) memastikan data yang dihimpun melalui Sensus Ekonomi 2026 akan menjadi salah satu fondasi penting bagi pemerintah dalam memetakan desil kesejahteraan keluarga di Indonesia.
Meski demikian, data ini bukanlah satu-satunya acuan tunggal yang digunakan. Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, M. Nashrul Wajdi, menjelaskan bahwa penentuan kelas atau desil kesejahteraan melibatkan banyak variabel kompleks yang saling melengkapi.
"Bisa, tapi bukan satu-satunya sumber," ujar Nashrul saat ditemui di Jakarta, Kamis (20/8).
Saat ini, proses pendataan lapangan Sensus Ekonomi 2026 tengah berlangsung dan dijadwalkan berakhir pada 31 Agustus 2026. Fokus utama BPS saat ini adalah memastikan seluruh unit dan pelaku ekonomi di lapangan tercatat secara akurat.
Setelah tahap pengumpulan data rampung pada penghujung Agustus ini, BPS akan langsung memasuki fase pengolahan data. Hasil final dari pendataan tersebut diproyeksikan mulai tersedia pada awal tahun depan.
Baca Juga: Cek Desil DTSEN di dtsen-form.bps.go.id untuk Hasil Terbaru, Sensus Ekonomi Berpengaruh
Apa Penentu Kategori Desil?
BPS menegaskan bahwa penentuan status ekonomi keluarga tidak hanya dilihat dari besar kecilnya pendapatan atau pengeluaran bulanan semata. Penilaian dilakukan secara komprehensif menggunakan 41 variabel yang merangkum kondisi riil kehidupan rumah tangga.
41 Variabel Penentu Desil Kesejahteraan
Berikut daftar 41 variabel yang digunakan BPS dalam menentukan desil kesejahteraan:
Keterangan Identitas Keluarga
1. Nama, NIK, dan No KK Kepala Keluarga
2. Jumlah anggota keluarga sesuai KK dan hasil pendataan
3. Alamat
4. Kesesuaian alamat dengan alamat pada KK
5. Geotagging*
Baca Juga: Bagaimana Cara Cek Bansos Pakai KTP? Ini Kategori Desil yang Dapat Bantuan Uang hingga Beras
Keterangan Perumahan
6. Jumlah dan No. KK keluarga dalam satu rumah/tempat tinggal
7. Jenis bangunan tempat tinggal
8. Status kepemilikan bangunan dan bukti kepemilikan tanah
9. Perkiraan nilai sewa/kontrak
10. Luas lantai
11. Jenis dan kondisi lantai terluas
12. Jenis dan kondisi dinding terluas
13. Jenis dan kondisi atap terluas
14. Kepemilikan fasilitas BAB
15. Jenis kloset
16. Tempat pembuangan akhir tinja
17. Sumber air minum utama
18. Sumber penerangan utama
19. Jumlah meteran, daya terpasang, dan ID Pelanggan PLN
20. Pengeluaran Listrik sebulan
21. Pengeluaran Pulsa dan Internet sebulan
22. Rata-rata pengeluaran keluarga
23. Foto rumah/tempat tinggal
Kepemilikan Aset Keluarga
24. Kepemilikan aset bergerak seperti tabung gas 3 kg dan 5,5kg, lemari es/kulkas, AC, emas, komputer/laptop/tablet, sepeda motor dan nilai asetnya, mobil dan nilai asetnya.
25. Kepemilikan aset tidak bergerak seperti lahan dan nilai asetnya, rumah dan nilai asetnya.
Keterangan Anggota Keluarga (individu)
26. No urut dan nama anggota keluarga
27. NIK anggota keluarga
28. Keberadaan anggota keluarga
29. Domisili individu
30. Jenis Kelamin
31. Tanggal lahir
32. Status perkawinan
33. Hubungan Dengan Kepala Keluarga
34. Partisipasi sekolah
35. Ijazah/STTB tertinggi yang dimiliki
36. Pendapatan rutin/tidak rutin dalam sebulan
37. Profesi Pekerjaan Utama
38. Status Kedudukan Dalam Pekerjaan Utama
39. Penyandang Disabilitas
40. Penyakit Kronis
41. Kepemilikan rekening aktif atau dompet digital
Integrasi dengan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN)
Di sisi lain, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memastikan bahwa penyaluran berbagai program bantuan sosial (bansos) dari pemerintah kini mengacu pada satu basis data terpadu, yakni Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa pelaksanaan Survei dan Sensus Ekonomi yang sedang berjalan akan menjadi sarana pembaruan informasi agar kebijakan yang diambil pemerintah semakin tepat sasaran.
"Sekarang bansos menggunakan satu data dari DTSEN, terus survei ekonomi sedang dilakukan, sehingga kita lihat nanti hasilnya bagaimana," ujar Airlangga.
Ketika disinggung mengenai potensi pergeseran data desil kesejahteraan akibat adanya survei baru ini, Airlangga menegaskan bahwa data sosial dan ekonomi masyarakat pada dasarnya bersifat cair dan dinamis mengikuti perkembangan zaman.
Editor : Shinta Nurma Ababil