JP Radar Kediri – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (18/8/2026) bergerak menguat 29 poin atau 0,16% menjadi Rp17.798 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.827 per dolar AS.
Dipicu Pelemahan Data Ekonomi AS
Penguatan rupiah kali ini tak lepas dari tertekannya indeks dolar AS, menyusul rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan. Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut, pembukaan positif rupiah didukung oleh melemahnya indeks dolar AS akibat rentetan data ekonomi AS yang mengecewakan pasar.
Ia menambahkan, data-data tersebut memicu ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, berpotensi mengambil sikap lebih dovish atau melonggarkan kebijakan moneternya dalam risalah pertemuan FOMC yang dijadwalkan rilis pekan ini. Ekspektasi ini membuat tekanan terhadap mata uang berkembang, termasuk rupiah, ikut mereda.
Data konsumsi rumah tangga AS pun tercatat melorot untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, sementara angka penjualan ritel bulanan mengalami koreksi tertajam dalam setahun. Kombinasi data tersebut memperkuat spekulasi pasar bahwa The Fed akan cenderung menahan suku bunga acuan dalam waktu dekat, bahkan berpeluang mulai menurunkannya pada September mendatang.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah, Pengunduran Diri Gubernur BI Jadi Sentimen Negatif Pasar
Sentimen Positif dari Pidato RAPBN Prabowo
Selain faktor eksternal, penguatan rupiah turut ditopang sentimen domestik. Pasar merespons positif pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto terkait arah kebijakan pemerintah dan Rancangan APBN 2027 yang disampaikan dalam Sidang Tahunan MPR RI. Respons positif investor terhadap arah kebijakan ekonomi yang dipaparkan pemerintah dinilai turut menopang penguatan rupiah, sejalan dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Perhatian Pasar Tertuju ke Keputusan Suku Bunga BI
Pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan diperkirakan masih akan diwarnai fluktuasi, seiring investor menanti keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan Rabu (19/8/2026). Keputusan tersebut dinilai krusial, karena BI perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tanpa membuat kebijakan moneter terlalu membebani momentum pertumbuhan ekonomi domestik.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Pasar Masih Wait and See soal Arah Kebijakan BI
Selain itu, pelaku pasar juga tengah mencermati risalah rapat The Fed edisi Juli yang turut dijadwalkan rilis pada hari yang sama. Dokumen tersebut diperkirakan dapat memberi gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga AS ke depan.
Sentimen Geopolitik Masih Jadi Bayang-Bayang
Di luar faktor suku bunga, pasar turut mewaspadai perkembangan geopolitik di kawasan Asia Barat, khususnya terkait situasi pelayaran di Selat Hormuz dan Laut Merah yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah yang sempat merambat naik di atas 80 dolar AS per barel akibat eskalasi ketegangan geopolitik masih menjadi salah satu risiko yang dipantau ketat oleh pelaku pasar.
Meski begitu, untuk sementara waktu perhatian pasar lebih terfokus pada pelemahan data makroekonomi AS ketimbang sentimen geopolitik tersebut.
BI Aktif Jaga Stabilitas Kurs
Meski aktivitas pasar domestik relatif terbatas akibat libur panjang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, otoritas moneter Indonesia disebut tetap aktif menjaga pergerakan kurs rupiah di pasar valuta asing internasional melalui mekanisme non-deliverable forward (NDF), guna memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga di tengah dinamika pasar global.
Dengan sederet sentimen tersebut, rupiah pada perdagangan Selasa (18/8) diproyeksikan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS, dengan peluang tetap berada di zona penguatan seiring optimisme pasar terhadap data ekonomi AS yang melemah serta sentimen positif domestik pascapidato kenegaraan Presiden Prabowo.
Baca Juga: Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Rupiah Diperkirakan Bergerak Fluktuatif Hari Ini
Editor : Shinta Nurma Ababil