OPEC dan IEA Kompak Pangkas Proyeksi Permintaan, Harga Minyak Dunia Tertekan

Zebita Rizqi Priyangga • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 20:09 WIB
Ilustrasi: Pengeboran minyak mentah dunia. (Istimewa)
Ilustrasi: Pengeboran minyak mentah dunia. (Istimewa)

JP Radar Kediri – Harga minyak mentah dunia bergerak tertekan pada perdagangan Kamis (13/8/2026), seiring Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk 2026.

Baca Juga: Harga Minyak Kembali Tembus USD 100, Menkeu Purbaya: APBN Tidak Terancam

Mengutip Investing, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,31 poin atau 0,35% ke level US$88,06 per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), justru menguat 0,98 poin atau 1,16% ke level US$82,28 per barel.

OPEC Pangkas Proyeksi Jadi 580 Ribu Barel per Hari

Berdasarkan laporan pasar minyak bulanannya, OPEC pada Rabu (12/8) menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk 2026 menjadi hanya 580.000 barel per hari. Mengutip Reuters, sejumlah analis menilai koreksi proyeksi ini turut dipengaruhi gangguan pasokan akibat perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Meski begitu, keterbatasan pasokan akibat konflik tersebut tetap menjadi faktor yang menahan laju penurunan harga secara lebih dalam di pasar.

IEA: Kontraksi Konsumsi Melebar Jadi 1,6 Juta Barel per Hari

Pada hari yang sama, Badan Energi Internasional (IEA) turut memperbarui proyeksinya, memperkirakan konsumsi minyak dunia akan mengalami kontraksi sebesar 1,6 juta barel per hari sepanjang tahun ini. Angka tersebut melebar dibandingkan proyeksi kontraksi sebesar 1 juta barel per hari yang disampaikan pada bulan sebelumnya. IEA menyebut pelebaran kontraksi ini disebabkan oleh terbatasnya pasokan bahan bakar serta kenaikan harga akibat perang AS-Israel terhadap Iran, yang pada akhirnya turut menekan permintaan.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melemah Disamping Konflik AS-Iran yang Kian Memanas

Stok Minyak AS Melonjak Tak Terduga, Tertinggi sejak Juni

Tekanan tambahan terhadap harga minyak datang dari data persediaan minyak mentah komersial Amerika Serikat yang justru meningkat secara mengejutkan. Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA) yang dirilis Rabu, persediaan minyak mentah AS mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Januari 2023, akibat penurunan volume ekspor.

Persediaan minyak mentah tercatat meningkat 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus, sekaligus menyentuh level tertinggi sejak 5 Juni. Capaian ini berbanding terbalik dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters, yang sebelumnya justru memperkirakan persediaan akan turun 1,4 juta barel.

Kebuntuan Diplomasi AS-Iran Tetap Jaga Harga di Level Tinggi

Meski permintaan diproyeksikan melemah, harga minyak tetap bertahan di level yang relatif tinggi akibat kebuntuan dalam perundingan antara Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk. Seorang sumber senior Iran mengungkapkan pada Rabu bahwa hingga kini belum ada kemajuan berarti dalam pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang sempat dicapai pada Juni lalu, termasuk soal kejelasan jangka waktu pelaksanaannya.

Baca Juga: Trump Ancam Serang Lagi, Harga Minyak Dunia Kembali Tertekan Naik

Editor : Mahfud
Sumber : Jawa Pos
OPEC IEA