Rupiah Dibuka Melemah, Pengunduran Diri Gubernur BI Jadi Sentimen Negatif Pasar

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 09:24 WIB
Ilustrasi - Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (13/7/2026). Nilai tukar rupiah berada di level Rp18.109 per dolar AS pada perdagangan Senin (13/7) sore, rupiah melemah 44 poin atau 0,24 persen dibandingkan dari penutupan sebelumnya di level Rp 18.065 per dolar AS imbas ketegangan geopolitik AS-Iran yang meningkat di Timur Tengah. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Ilustrasi - Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (13/7/2026). Nilai tukar rupiah berada di level Rp18.109 per dolar AS pada perdagangan Senin (13/7) sore, rupiah melemah 44 poin atau 0,24 persen dibandingkan dari penutupan sebelumnya di level Rp 18.065 per dolar AS imbas ketegangan geopolitik AS-Iran yang meningkat di Timur Tengah. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.

JP Radar Kediri - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Senin (27/7/2026), bertepatan dengan pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI). Berdasarkan data pasar spot, rupiah terdepresiasi 13 poin atau 0,07% ke level Rp17.976 per dolar AS pada pukul 09.00 WIB.

Baca Juga: Profil Destry Damayanti, Ekonom Senior yang Kini Pimpin Sementara Bank Indonesia

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan mata uang Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia justru tercatat melemah 0,3% ke level 101,164 pada waktu yang sama menandakan bahwa pelemahan rupiah kali ini lebih didorong oleh sentimen domestik ketimbang penguatan dolar secara global.

Pelemahan kurs rupiah pagi itu terjadi bersamaan dengan pengumuman resmi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi terkait mundurnya Perry Warjiyo. "Bahwa per kemarin secara resmi kami menerima surat pengunduran diri dari Gubernur Bank Indonesia kepada Bapak Presiden," ujar Prasetyo dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta Pusat, Senin pagi.

Analis: Pergantian Kepemimpinan Timbulkan Kekhawatiran Kesinambungan Kebijakan

Tim riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pengunduran diri mendadak Perry Warjiyo berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pergerakan rupiah di pasar keuangan ke depan. "Pergantian ini dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap kesinambungan kebijakan moneter dan menekan rupiah," tulis laporan riset Mirae Sekuritas.

Selain tekanan terhadap rupiah, Mirae Asset turut memperkirakan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berisiko naik, yang pada gilirannya dapat meningkatkan tingkat bebas risiko (risk-free rate) sekaligus menekan valuasi saham di pasar modal domestik. Analis tersebut juga memproyeksikan BI masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,0%, meski arah kebijakan ke depan berpotensi lebih berorientasi mendukung pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Tabel KUR BRI 2026 Pinjaman Rp15-50 Juta, Cek Rincian Cicilannya Disini

IHSG Ikut Melemah, Investor Bersikap Wait and See

Tak hanya rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut melemah pada perdagangan sesi I hari yang sama, di tengah kondisi pasar yang serba hati-hati menyikapi transisi kepemimpinan bank sentral secara mendadak.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, menilai pengunduran diri mendadak Perry Warjiyo berpotensi menimbulkan dampak psikologis sekaligus volatilitas jangka pendek di pasar keuangan domestik. "Pengunduran diri mendadak Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berpotensi memberikan dampak psikologis dan volatilitas jangka pendek pada market keuangan Indonesia, Rupiah, IHSG, dan pasar SBN," ujar Rahma.

Penunjukan Destry Damayanti Dinilai Beri Sinyal Kesinambungan

Meski demikian, Rahma menilai penunjukan Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur BI menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas selama masa transisi. Kehadiran pejabat internal yang selama ini terlibat langsung dalam perumusan kebijakan dinilai dapat memberi sinyal kontinuitas kebijakan kepada investor, baik domestik maupun asing meski respons positif pasar terhadap langkah ini belum sepenuhnya dapat dipastikan.

Rahma turut menyoroti besarnya tantangan yang selama ini dihadapi BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar, di tengah tekanan eksternal seperti konflik geopolitik global dan dominasi dolar AS. "Kerja keras Bank Indonesia selaku bank sentral sudah maksimal dan all-out, karena memang dinamika external shock yang tidak dapat kita hindari," katanya.

Baca Juga: Breaking News! Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI Usai 7 Tahun Menjabat, Siapa Penggantinya?

Rupiah Sudah Melemah 9,51% dalam Setahun Terakhir

Berdasarkan data Trading Economics, rupiah tercatat telah melemah 0,66% dalam sebulan terakhir, dengan level pelemahan mencapai 9,51% dibandingkan periode yang sama 12 bulan sebelumnya menggambarkan tren tekanan yang sudah berlangsung cukup lama terhadap mata uang Garuda, bahkan sebelum kabar pengunduran diri Perry Warjiyo mencuat.

Oleh: Zebita Rizqi Priyangga

Univ: Universitas Negeri Yogyakarta

 

Editor : Shinta Nurma Ababil
Rupiah Dolar Pengunduran diri Perry Warjiyo penurunan mata uang ihsg