Menaker Yassierli: Kuasai Skill AI, Kunci Menangkan Persaingan Kerja di Era Digital

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 19:09 WIB
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli berbicara dalam pembukaan Pameran Kesempatan Kerja/Job Fair bertajuk AI Career Boost Day 2026 yang digelar Kementerian Ketenagakerjaan di Jakarta, Selasa (28/7/2026). ANTARA/Harianto
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli berbicara dalam pembukaan Pameran Kesempatan Kerja/Job Fair bertajuk AI Career Boost Day 2026 yang digelar Kementerian Ketenagakerjaan di Jakarta, Selasa (28/7/2026). ANTARA/Harianto

JP Radar Kediri - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan bahwa penguasaan keterampilan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini menjadi kunci utama bagi tenaga kerja Indonesia untuk meningkatkan daya saing di tengah perubahan kebutuhan industri dan peluang kerja era digital.

Dalam pembukaan Pameran Kesempatan Kerja bertajuk AI Career Boost Day 2026 di Jakarta, Selasa (28/7/2026), Yassierli menjelaskan bahwa keterampilan AI kini menjadi nilai tambah utama dalam proses rekrutmen tenaga kerja, seiring meningkatnya kebutuhan industri terhadap talenta digital di berbagai sektor.

Yassierli membagikan pengalamannya sebelum menjabat sebagai menteri, saat masih aktif menjadi konsultan bagi lebih dari 50 perusahaan. "Saya sebelum jadi menteri banyak menjadi konsultan, lebih di 50 perusahaan. Bagi saya sekarang no choice. Ada dua orang sama-sama punya kompetensi sebagai akuntansi, pasti pertanyaan saya adalah siapa yang lebih menguasai AI," katanya.

Baca Juga: Heboh Saldo Rp 600 Ribu Masuk Rekening KKS BNI Akhir Juli 2026, Ternyata Bukan Bansos Tahap 3!

Ia menambahkan bahwa AI kini telah menjadi kompetensi yang dibutuhkan hampir di seluruh bidang pekerjaan, bukan hanya profesi yang berkaitan langsung dengan teknologi informasi.

Bisa Dipelajari Siapa Saja, Tak Perlu Lulusan Teknik

Menurut Yassierli, kemampuan memanfaatkan AI dapat dipelajari oleh siapa pun, terlepas dari latar belakang pendidikannya, selama memiliki kemauan untuk terus belajar. "Jadi AI ini juga tidak harus dia menjadi harus lulusan dari teknik komputer dan seterusnya. Ini skill yang practical yang bisa dipelajari oleh siapapun, syaratnya tekun atau mau nggak, gitu," ujarnya.

Belajar dari Hyderabad, "Cyberabad"-nya India

Yassierli turut berbagi pengalamannya mengikuti pertemuan Menteri Ketenagakerjaan negara-negara BRICS di Hyderabad, India kota yang kini dikenal sebagai salah satu pusat talenta digital dan AI dunia, sekaligus lokasi berbagai pusat riset perusahaan teknologi global seperti Microsoft, Google, dan Medtronic, hingga dijuluki "Cyberabad".

Berdasarkan hasil diskusinya dengan pelaku industri di sana, Yassierli mengungkapkan rekrutmen talenta digital dan AI di India meningkat 11% dalam setahun terakhir. Sebaliknya, rekrutmen untuk pekerjaan perkantoran (white collar) secara umum justru turun 9% pada periode yang sama.

WEF Proyeksikan 170 Juta Pekerjaan Baru, 92 Juta Hilang

Yassierli mengutip laporan Future of Jobs Report 2030 dari World Economic Forum (WEF), yang memproyeksikan munculnya sekitar 170 juta pekerjaan baru sekaligus hilangnya 92 juta pekerjaan akibat perubahan teknologi. Ia menambahkan, sebagian besar keterampilan yang digunakan saat ini diperkirakan akan mengalami perubahan signifikan dalam satu dekade mendatang, sehingga pekerja dituntut untuk terus meningkatkan kompetensinya.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Pasar Masih Wait and See soal Arah Kebijakan BI

Kemnaker Siapkan Tata Kelola AI dan Gandeng Microsoft

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan tengah menyiapkan tata kelola AI yang berkaitan dengan dunia ketenagakerjaan. Selain itu, Kemnaker juga membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Microsoft. "Kedua, membangun kolaborasi dengan semua pihak, termasuk Microsoft, terima kasih, tadi Microsoft mengatakan sudah melatih 50.000 orang pekerja yang terkait dengan angkatan kerjalah atau upskilling," tuturnya.

Permintaan Skill Digital di Asia Tenggara Naik 2,4 Kali Lipat

Yassierli turut memaparkan data LinkedIn yang menunjukkan permintaan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan digital dan AI di kawasan Asia Tenggara meningkat 2,4 kali lipat pada periode 2021-2023. Tren ini diperkirakan akan terus meningkat, sehingga penguasaan AI dinilai menjadi keunggulan kompetitif tersendiri bagi para pencari kerja.

Skill AI Saja Tak Cukup, Soft Skill Tetap Krusial

Meski begitu, Yassierli mengingatkan bahwa keterampilan AI harus tetap diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, pemecahan masalah, empati, dan pengambilan keputusan. Berdasarkan survei yang ia kutip, sekitar 69% pimpinan perusahaan di Indonesia lebih memilih kandidat yang memiliki keterampilan AI, namun kemampuan antarmanusia (soft skill) tetap menjadi faktor penting dalam dunia kerja.

Yassierli berharap ajang AI Career Boost Day 2026 dapat menjadi momentum untuk memperkuat kompetensi tenaga kerja Indonesia, agar semakin produktif dan mampu bersaing di kancah global.

Baca Juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini 28 Juli 2026: Antam, Galeri24, dan UBS Naik atau Turun?

Oleh: Zebita Rizqi Priyangga

Univ: Universitas Negeri Yogyakarta

Editor : Shinta Nurma Ababil
Sumber : Antara News
Yassierli AI Career Boost Day 2026 menteri ketenagakerjaan artificial intelligence menaker