JP Radar Kediri – Pada februari 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka indonesia sebesar 4,68%, turun 0,08 persen dari Februari 2025. Selain itu, jumlah penduduk yang bekerja meningkat menjadi 147,67 juta.
Meskipun demikian, penurunan angka pengangguran belum tentu membuat orang lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Orang-orang yang bekerja dengan jam terbatas atau penghasilan tidak pasti masuk dalam kategori penduduk bekerja.
Baca Juga: Heboh Kabar Ruben Onsu Utang Bank Rp10 Miliar untuk Renovasi Rumah Demi Turuti Keinginan Sarwendah
Banyak Pekerja Masih Mengandalkan Usaha Sendiri dan Pekerjaan Lepas
BPS mencatat 87,74 juta orang atau 59,42 persen penduduk bekerja melalui usaha sendiri, menjadi pekerja lepas, membantu usaha keluarga, atau menjalani pekerjaan yang belum memiliki sistem kerja tetap. Sementara itu, ada 59,93 juta orang atau 40,58 persen penduduk indonesia bekerja di sektor formal.
Ini menunjukkan bahwa sebagian besar orang masih bekerja secara mandiri, menjadi pekerja lepas, atau menjalankan pekerjaan yang tidak selalu memberikan pendapatan stabil.
Baca Juga: Korupsi Anggaran Pakan Satwa Rp10,2 Miliar, Eks Dirut Kebun Binatang Surabaya Jadi Tersangka
Masalah lainnya terlihat dari tingkat setengah pengangguran yang mencapai 7,27 persen. Kelompok ini sudah bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu, tetapi masih mencari atau bersedia menerima pekerjaan tambahan. Pekerja paruh waktu juga mencapai 25,97 persen.
Tidak hanya ketersediaan pekerjaan, tetapi juga jumlah uang yang diterima juga menjadi perhatian. Pada Februari 2026, rata-rata upah buruh adalah Rp3,29 juta per bulan. namun, ini adalah rata-rata nasional, jadi kondisi pekerjaan setiap pekerja dapat berbeda tergantung pada daerah, jenis pekerjaan, dan sektor bisnis
Baca Juga: Update! Hotman Paris Mundur dari Pengacara Eks Jampidsus Febrie Adriansyah di Kasus Korupsi.
Dengan demikian, pengalaman masyarakat dan data BPS tidak saling bertentangan. Meskipun angka pengangguran menurun, tetapi masih ada masalah ketenagakerjaan seperti banyaknya pekerja informal, jam kerja yang terbatas, pendapatan yang kurang, dan kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan.
Penulis: Hendri Muhrozikin, mahasiswa magang dari Universitas Nusatara PGRI Kediri