JP Radar Kediri – Sejumlah factor utama yang sebelumnya mendorong harga emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran US$5.600 per ons pada awal tahun ini dinilai masih tetap bertahan. Kondisi tersebut diperkirakan dapat membawa emas Kembali memasuki bull market atau tren kenaikan harga berkelanjutan pada 2027.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Senin 20 Juli 2026 Turun Tipis, Cek Rinciannya Disini
Proyeksi tersebut disampaikan Manajer Portofolio Multi-Aset Fidelity International, Ian Samson, sebagaimana dilansir Kitco News dan dikutip Minggu (19/7/2026). Menurutnya, prospek ini bisa menjadi dasar bagi investor untuk mengubah posisi alokasi emas dalam portofolio, dari netral menjadi overweight atau porsi yang lebih besar dari bobot acuan.
"Kami memiliki rencana untuk kembali mengambil posisi overweight pada emas," kata Samson. "Pertanyaannya sekarang adalah kapan waktu yang tepat untuk melakukannya," tambahnya.
Meski emas sempat mencatat kinerja kuartalan terburuk dalam lebih dari satu dekade terakhir, Samson menegaskan dasar pemikiran yang menopang prospek jangka panjang logam mulia tersebut belum berubah.
Pada awal tahun ini, Samson sempat memutuskan menurunkan posisi emas Fidelity dari overweight menjadi netral. Penyesuaian tersebut dilakukan pada periode Januari-Februari, tepat sebelum tren kenaikan harga emas yang telah berlangsung selama beberapa tahun akhirnya terhenti.
Harga emas mulai terkoreksi dari rekor tertinggi mendekati US$5.600 per ons pada akhir Januari, dan penurunannya semakin tajamn sekitar sebulan berikutnya seiring dimulainya perang di Iran.
"Dari perspektif taktis, saat ini jumlah faktor penghambat relatif seimbang dengan faktor pendorong," ujar Samson.
Baca Juga: Kerek PAD Parkir, Gandeng Jukir Liar, Ini Yang Sedang Dilakukan Dishub Kota Kediri!
Ia memperkirakan harga emas pada akhir 2026 akan sedikit lebih tinggi dibandingkan level saat ini, meski kenaikan tersebut kemungkinan belum cukup kuat untuk menandai dimulainya kembali tren kenaikan jangka panjang. Namun, keyakinan Fidelity terhadap prospek emas dalam jangka panjang tidak berubah perusahaan manajer investasi global yang juga aktif berinvestasi di berbagai negara termasuk Indonesia ini tetap memperkirakan emas akan kembali memasuki bull market pada suatu waktu sepanjang 2027.
Menurut Samson, prospek positif emas akan tetap terjaga selama kondisi makroekonomi global tidak mengalami perubahan mendasar. Skenario kenaikan harga emas berpotensi melemah apabila pemerintah di berbagai negara kembali menerapkan kebijakan fiskal yang lebih konvensional dan disiplin, serta bank sentral benar-benar berupaya menekan inflasi secara berkelanjutan.
"Selama pemerintah tidak kembali pada kebijakan fiskal yang ortodoks dan bank sentral tidak melakukan upaya nyata untuk menekan inflasi, alasan untuk tetap optimistis terhadap emas tidak akan hilang," jelas Samson. "Namun, saya tidak melihat kita sedang hidup dalam kondisi seperti itu saat ini," lanjutnya.
Terkait waktu dan besaran pemulihan harga emas, Samson menyebut pergerakannya akan ditentukan oleh sejumlah variabel utama, meliputi arah harga minyak, kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta kemampuan pasar emas membangun dan mempertahankan momentum kenaikan.
Baca Juga: Spanyol Juara Piala Dunia 2026 usai Kalahkan Argentina dan Lionel Messi
Dari sisi analisis teknikal, Samson memperkirakan harga emas dalam jangka panjang pendek masih berpotensi menguji area support di sekitar US$4.000 per ons, sembari menunggu sinyal kekuatan harga yang lebih jelas. Sinyal positif lainnya akan muncul apabila harga emas kembali bergerak di atas US$4.300 per ons.
"Hal itu akan menunjukkan mulai munculnya tekanan kenaikan harga," ujarnya.
Dari sisi fundamental, Samson menilai permintaan bank sentral menjadi kekuatan struktural terpenting yang menopang harga emas dalam jangka menengah hingga panjang. Bank sentral di berbagai negara selama ini membeli emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa, mengurangi ketergantungan terhadap mata uang tertentu, sekaligus melindungi nilai aset dari risiko inflasi dan ketidakpastian geopolitik.
"Ketika terdapat pembeli besar yang melakukan pembelian secara struktural dan strategis, hampir tidak dapat dihindari bahwa harga emas akan terdorong lebih tinggi," pungkas Samson.
Oleh: Zebita Rizqi Priyangga
Univ: Universitas Negeri Yogyakarta
Editor : Shinta Nurma Ababil