Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sempat Sentuh Titik Terendah Sebulan, Dolar AS Kembali Stabil di Tengah Bayang-bayang Inflasi

Shinta Nurma Ababil • Jumat, 17 Juli 2026 | 11:00 WIB
Ilustrasi uang dolar Amerika Serikat. (ANTARA/REUTERS/Dado Ruvic/pri).
Ilustrasi uang dolar Amerika Serikat. (ANTARA/REUTERS/Dado Ruvic/pri).

JP Radar Kediri – Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Kamis (16/7/2026), setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam sebulan terakhir. Pergerakan ini terjadi setelah data inflasi yang melemah memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve akan menahan diri untuk tidak menaikkan suku bunga, sementara eskalasi ketegangan baru di kawasan Timur Tengah justru memunculkan risiko baru terhada prospek pasar ke depan.

Baca Juga: Presiden Prabowo Minta Evaluasi Anggaran Rp15 Ribu Per Porsi MBG, Desak Kaji Ulang

Euro tercatat bertahan mendekati level tertinggi sebulan, terakhir diperdagangkan di level US$1,1465. Poundsterling turut bertahan di level tertinggi dua bulan pada US$1,3539, ditopang optimisme pasar bahwa perdana menteri Inggris berikutnya akan memilih menteri keuangan yang cenderung konservatif secara fiskal. Sementara itu, dolar Australia dan Selandia Baru sama-sama terkoreksi dari level tertinggi beberapa pekan terakhir, masing-masing diperdagangankan di US$0,6997 dan US$0,5849. Yen jepang relatif tak banyak berubah di level 162,10 per dolar. Adapun indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama lainnya, menguat tipis ke posisi 100,48, naik dari titik terendahnya sejak 18 Juni.

Di kawasan Asia, bank sentral Korea Selatan turut menaikkan suku bunga acuannya untuk pertama kalinya dalam tiga setengah tahun terakhir guna meredam inflasi, mengikuti jejak sejumlah bank sentral kawasan lain seperti Australia, Selandia Baru, dan Jepang yang lebih dulu memperketat kebijakan moneternya.

Sementara itu, data harga produsen Amerika Serikat justru mencatat penurunan tak terduga pada Juni penurunan terbesar dalam 14 bulan terakhir menambah bukti bahwa tekanan inflasi sempat mereda sebelum gejolak terbaru di Timur Tengah kembali muncul. Data ini, ditambah rendahnya inflasi konsumen dan melambatnya pertumbuhan lapangan kerja pada Juni, secara efektif menepis kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan bulan ini.

Baca Juga: Rekomendasi Kuliner Jakarta: 10 Tempat Makan Legendaris dengan Cita Rasa Tak Terlupakan

Peluang kenaikan suku bunga pada Juli dipangkas menjadi hanya 10% dari sebelumnya 45% di awal pekan. Sementara itu, pasar masih memperkirakan peluang serupa untuk kenaikan 25 basis poin pada September, serta probabilitas 70% untuk Desember, mengacu pada data harga berjangka dana Fed dari CME Group.

Ahli strategi investasi, Bosco Wu, menilai pelemahan dolar belakangan ini lebih mencerminkan koreksi dari level tertinggi sebelumnya.

"Pasar sebelumnya sudah terlalu agresif memperhitungkan kenaikan suku bunga Juli, yang kini tampak berlebihan mengingat inflasi mendingin dengan cepat," ujarnya.

Baca Juga: Rally Harga Minyak Bikin Emas Kembali Tertekan, Prospek Suku Bunga Jadi Sorotan Investor

Editor : Shinta Nurma Ababil
mata uang dollar amerika serikat inflasi suku bunga