JP Radar Kediri – Reli pasar saham global yang selama ini ditopang euforia kecerdasan buatan (AI) kini mulai menunjukkan tanda-tanda kewaspadaan. Sebuah indikator investasi legendaris yang dipopulerkan oleh Waren Buffett baru-baru ini mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, memicu kekhawatiran akan potensi koreksi tajam di pasar modal dunia.
Baca Juga: Tabel Angsuran KUR BRI 2026 Pinjaman Rp15 Juta, Intip Rincian Cicilannya
Menurut laporan The Motley Fool, Jumat (10/7/2026), pasar saham global telah melaju kencang dlam beberapa tahun terakhir. Meski sempat tersendat pada kuartal pertama, tren positif ini terus berlanjut seiring investor berbondong-bondong memburu saham-saham berbasis teknologi AI yang dinilai punya potensi pertumbuhan besar. Gelombang minat inilah yang menjadi mesin utama penggerak pasar bullish yang kini sudah memasuki tahun ketiganya.
Tiga Indeks Utama AS Melaju Kencang
Teknologi AI memang terbukti mendongkrak pendapatan berbagai perusahaan, mulai dari produsen chip hingga penyedia layanan komputasi awan. Bahkan tren ini disebut baru permulaan, sebab implementasi AI dalam berbagai persoalan dunia nyata membuat operasional bisnis semakin efisien dan berpotensi mendorong laba lebih tinggi lagi ke depannya.
Optimisme tersebut mendorong lonjakan besar pada tiga indeks acuan utama bursa Amerika Serikat. Selama tiga tahun terakhir, indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi melesat 122%, disusul S&P 500 yang menguat 78%. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average tumbuh 45% dalam periode yang sama dan baru saja mencatat sejarah baru dengan ditutup di atas level 53.000 untuk pertama kalinya.
Baca Juga: Informasi Resmi MenPAN RB soal CPNS 2026, Pemerintah Kaji 160 Ribu Formasi
Apa Itu Indikator Buffett?
Di balik euforia tersebut, para pelaku pasar diingatkan untuk tetap cermat membaca sinyal yang bisa menetukan arah pasar selanjutnya dan di sinilah analisis warren buffett kembali relevan.
Metrik yang dikenal luas sebagai Indikator Buffett ini membandingkan total kapitalisasi pasar saham suatu negara dengan produk domestik bruto (PDB) negara tersebut. Perhitungannya sederhana: total nilai pasar saham dibagi dengan PDB.
Baca Juga: Bupati Sukoharjo Etik Suryani Diangkut KPK, Jalani Pemeriksaan di Polresta Surakarta
Saat ini, indikator tersebut telah menembus rekor tertinggi sepanjang masa di atas 235% menandakan nilai pasar saham jauh melampaui output ekonomi riil, alias harga saham sudah kemahalan (overvalued). Dalam tulisannya yang pernah dimuat majalaj Fortune, Buffett bahkan pernah memperingatkan bahwa begitu indikator ini melewati level 200%, investor pada dasarnya tengah ”bermain api”.
Pelajaran dari Dua Krisis Sebelumnya
Sejarah mencatat, peringatan sang ”Oracle of Omaha” ini bukan tanpa dasar. Terakhir kali indikator ini menembus 200% terjadi pada November 2021 dan setahun setelahnya, indeks S&P 500 anjlok lebih dari 15%.
Rekor lain yang tak kalah ekstrem tercatat pada Maret 2000, tetap saat gelembung dot-com pecah, ketika Indikator Buffett menyentuh 147%. Dari titik puncak tersebut hingga akhir 2002, S&P 500 merosot hingga 42%.
Kondisi saat ini pun dinilai memberi sinyal serupa: pasar saham global berpotensi tengah berada di zona rawan, dan sejarah bisa saja terulang lewat koreksi tajam.
Bukan Waktunya Panik, Tapi Waktunya Selektif
Meski begitu, situasi ini bukan berarti investor harus buru-buru menjual seluruh portofolionya. Justru, ini menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam menilai valuasi. Sekalipun sebuah saham sangat populer dan fundamental perusahaannya kuat, membeli di harga yang sudah terlalu mahal tetap berisiko memicu koreksi harga dalam beberapa bulan mendatang.
Strategi yang disarankan justru meniru pendekatan Buffett sendiri: tetap konsisten mengoleksi saham-saham berkualitas dengan harga wajar atau yang sedang salah harga (undervalued), lalu menahannya untuk jangka panjang apa pun kondisi pasarnya.
Rekam Jejak Sang Legenda
Sebagai pemimpin Berkshire Hathaway selama enam dekade, Buffett telah membuktikan ketajaman strateginya dengan konsisten mencetak imbal hasil di atas rata-rata pasar. Di bawah kepemimpinannya, Berkshire Hathaway membukukan pertumbuhan tahunan majemuk mendekati 20% jauh melampaui rata-rata S&P 500 yang berkisar 10% pada periode yang sama.
Berbeda dari kebanyakan investor yang mudah terbawa euforia atau ikut-ikutan tren, Buffett dikenal teguh memegang prinsip investasi nilai. Ia tidak pernah terburu-buru masuk pasar saat sentimen sedang memanas, dan justru kerap memanfaatkan momen kepanikan pasar saat banyak investor ramai-ramai melepas saham untuk memborong perusahaan berkualitas dengan harga diskon.
Karena itulah, ketika indikator ciptaannya sendiri kini memancarkan sinyal siaga seperti sekarang, banyak investor global menjadikannya rujukan utama untuk mengevaluasi ulang risiko portofolio mereka demi menghindari kerugian besar.
(Artikel ditulis oleh : Zebita Rizqi Priyangga, mahasiswa magang dari Universitas Negeri Yogyakarta)