Ditutup Anjlok Lebih dari 3 Persen
IHSG ditutup melemah sebesar 3,08 persen ke level 5.643 pada perdagangan Selasa (30/6). Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan IHSG saat ini masih berada pada bagian dari wave (b) dari wave [iv] dalam skenario hitam, sehingga indeks masih rawan menguji area 5.472–5.540, dengan support di kisaran 5.486–5.317 dan resistance di 6.007–6.286.
Baca Juga: Harga BBM Pertamina per 1 Juli 2026, Pertamax Turbo Turun jadi Rp 19.300 per Liter
Ada pula skenario yang lebih berisiko, yakni kemungkinan IHSG tengah membentuk awal dari wave penurunan lanjutan sebuah peringatan bagi pelaku pasar agar tetap waspada. Di tengah kondisi ini, MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness untuk beberapa saham pilihan seperti AADI, DSSA, ELSA, dan RAJA.
Sebelum pelemahan tajam ini terjadi, ANTARA News sempat melaporkan bahwa pasar sempat bergerak relatif datar. Dalam salah satu ulasannya, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyebut IHSG berpotensi melanjutkan penguatan untuk menguji kembali resistance di 5.993–6.052 dan berpeluang menuju 6.117–6.226, namun tetap rentan koreksi jika gagal menembus level tersebut, dengan risiko turun ke 5.720 serta support lanjutan di 5.784 dan 5.677.
Baca Juga: Heboh Assisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Padahal Belum Lulus S1, Netizen Ramai Beri Tanggapan
Liza juga menyoroti sentimen dari luar negeri. Menurutnya, pelaku pasar terus mencermati arah kebijakan moneter The Fed setelah bank sentral itu mengambil sikap lebih hawkish di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh. Meski inflasi masih tinggi, pasar saat itu memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan Juli, sambil menunggu data inflasi dan tenaga kerja lebih lanjut.
Sinyal hawkish tersebut rupanya berdampak nyata. ANTARA News turut mencatat bahwa pada sesi pertama perdagangan Selasa (30/6), IHSG ditutup melemah 141,04 poin atau 2,42 persen ke posisi 5.679,75, sementara indeks LQ45 ikut terkoreksi.
Pengamat Pasar Modal, Elandry Pratama, mengatakan pelemahan hari itu lebih didominasi sentimen domestik, terutama masih terbatasnya risk appetite investor. Meski begitu, ia optimistis karena secara historis bulan Juli cenderung menjadi periode yang positif bagi IHSG, sehingga peluang penguatan tetap terbuka apabila sentimen pasar dan arus modal membaik.
Sempat Rebound di Awal Sesi 1 Juli
Meski diprediksi masih tertekan, IHSG sempat menunjukkan sedikit pemulihan pada pembukaan perdagangan Rabu (1/7/2026). Data dari Bursa Efek Indonesia yang dikutip sejumlah media menunjukkan indeks dibuka menguat sekitar 0,8 persen dari posisi penutupan sebelumnya, meski para analis tetap mengingatkan bahwa tren jangka pendek masih berada dalam fase koreksi.
Rekor Pelemahan Enam Bulan Beruntun
Yang membuat situasi ini istimewa, performa semester pertama 2026 tercatat sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah IHSG belasan tahun terakhir.
Data yang dihimpun menunjukkan indeks melemah lebih dari 34 persen secara year-to-date, dengan aksi jual bersih investor asing mencapai puluhan triliun rupiah. Return bulanan IHSG bahkan tercatat negatif selama enam bulan berturut-turut sesuatu yang belum pernah terjadi dalam satu dekade terakhir.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 1 Juli 2026 Turun Rp5.000 Jadi Segini Rinciannya
Faktor Penekan Utama
Beberapa faktor yang disorot analis sebagai penyebab tekanan berkelanjutan pada IHSG antara lain:
- Pelemahan nilai tukar rupiah,terhadap dolar AS yang mendekati level Rp17.900–17.950.
- Sikap hawkish The Fed di bawah kepemimpinan baru, yang membuat pasar memperkirakan potensi kenaikan suku bunga.
- Outflow investor asing yang masih besar, sebagian terkait hasil rebalancing indeks MSCI.
- Minimnya katalis positif domestik yang mampu menopang sentimen pasar dalam negeri.
- Data ekonomi yang dinanti, termasuk inflasi Juni, neraca perdagangan, dan PMI manufaktur Indonesia, serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat.
Penulis: Zebita Rizqi Priyangga
Universitas: Universitas Negeri Yogyakarta
Editor : Shinta Nurma Ababil